Kisah Dokter di Makassar yang Rawat 190 Pasien Corona Seorang Diri

Ilustrasi pasien virus corona

Ilustrasi pasien virus corona © Shutterstock

Jakarta, PANRITA.News – Demi tugas dan tanggung jawab, Dokter Sugih Wibowo dengan teguh merawat ratusan pasien positif virus Corona.

Dokter Sugih adalah satu-satunya dokter yang menangani 190 pasien Covid-19 yang dikarantina di hotel Harper Makassar tanpa menerima insentif sama sekali.

Hotel Harper merupakan satu dari sekian hotel yang disediakan Pemerintah Provinsi sebagai bagian dari rangkaian program duta wisata Covid-19 Sulsel.

“Saya hanya sendirian dokter di sini dengan tiga orang perawat tangani 190 pasien,” ujar Sugih saat diwawancara sejumlah wartawan, Kamis (2/7/2020) seperti dikutip dari IDN Times.

“Sebagai dokter awalnya saya memang terpanggil. Saya mengajukan diri untuk ditugaskan di sana (Hotel Harper). Meskipun saya tahu penuh risiko,” ungkapnya.

Dokter asal Kabupaten Maros ini pun rela meninggalkan istri dan anaknya yang masih belia demi tugas kemanusiaan.

Kendati demikian, Sugih tak menyangka bakal menjadi satu-satunya dokter di Hotel Harper yang merawat ratusan pasien bersama 3 orang perawat.

“Kita shif-shiftan. Digilir tapi tetap saling backup,” jelas Sugih.

Meski tak sebanding dengan jumlah pasien yang harus ia rawat dan resiko terpapar, tapi hal itu tak membuat Sugih berputus asa.

“Ini jelas tidak sebanding. Jumlah pasien di sini dengan kami. Selama 24 jam full saya standby terus. Saya memang mengajukan diri, tapi tidak berpikir kalau sampai sendiri begini,” kata Sugih.

Sejak menangani pasien Covid-19 di Hotel Harper, Sugih telah menerima surat perpanjangan tugas sebagai penanggung jawab di Hotel tersebut selama 3 kali.

Hal ini di luar ekspektasinya. Kerinduan terhadap istri dan anaknya yang masih berusia 3 bulan menjadi imbasnya.

“Kalau terlalu rindu saya pasti menangis. Saya juga kecewa tidak berpikir diperlakukan seperti ini,” pungkas Sugih.

Selama bertugas, ada beragam karakteristik pasien Covid-19 yang ia rawat langsung yang umumnya pasien orang tanpa gejala (OTG), sebagian dari mereka bahkan sempat mengalami stres karena merasa tidak nyaman dengan karantina.

“Semua itu harus dan mau tidak mau saya langsung tangani,” ucap Sugih.

Selain kecewa karena belum mendapatkan respons dari pemerintah terkait upayanya untuk meminta kejelasan kapan tugasnya akan berakhir, Sugih juga kecewa soal janji insentif yang sama sekali belum diterima sepanjang tugasnya merawat langsung pasien COVID-19.

“Semua rasa kecewa bercampur di situ. Saya harap ke depannya pemerintah tidak lagi memperpanjang masa tugas sebagai penanggung jawab,” imbuhnya.

Tinggalkan Komentar