Hakim Sakit, Putusan Sengketa Lahan di Jl Metro Tanjung Bunga Kembali Ditunda

Hakim Sakit, Putusan Sengketa Lahan di Jalan Metro Tanjung Bunga Kembali Ditunda

Foto: Lokasi yang digugat Hamsah Dg. Muntu.

Makassar, PANRITA.News – Rencana pelaksanaan sidang pembacaan putusan atas perkara sengketa lahan di jalan Metro Tanjung Bunga Makassar kembali ditunda.

Dalam jadwal sidang putusan atas perkara no. 02/Pdt.G/2019/PN.Mks yang rencananya digelar pada hari ini Kamis (5/3/2020) kembali diundur dikarenakan salah seorang majelis hakim berhalangan hadir akibat sakit.

“Hakimnya sakit, jadi ditunda lagi,” ujar salah seorang hadirin sidang.

Diketahui, perkara sengketa lahan yang terletak di depan seberang jalan Rumah Sakit Siloam Makassar itu sudah berproses selama lebih dari setahun sejak didaftarkan pada Januari 2019 lalu.

Dalam perkara sengketa ini, Hamsah Dg. Muntu selaku penggugat, menggugat ahli waris almarhumah Hj. Najmiah Muin (suami dan anak-ananknya), PT. Mariso Indoland Makassar (perusahaan milik Najmiah) dan PT. Passokkorang.

Hamsah Dg. Muntu menggugat dikarenakan lokasi yang dituntutnya tersebut, belum lunas saat dibeli Najmiah dulu.

“Almarhumah buat perjanjian di notaris dan saya hanya kasikan DP (Down Payment) dulu pak, terus dia gugatka lagi di pengadilan sekitar tahun 2005,” tutur Dg. Hamsah.

Dari bukti dokumentasi yang diperlihatkan oleh kuasa hukum penggugat, berdasarkan putusan MA no. 1145 K/ PDT/ 2007) menjelaskan bahwa lahan tersebut masih berstatus garapan Hamsah Dg. Muntu.

Adapun pihak tergugat, dalam beberapa kali sidang, menyatakan bahwa gugatan Hamsah Dg. Muntu salah sasaran.

“Lokasinya tidak disana, itu lokasi Jamaluddin Tiro, dan itu di Pannambungan (lokasi Jamaluddin Dg. Tiro terletak di kelurahan Pannambungan red),” ungkap Muhdar selaku kuasa hukum keluarga dan perusahaan alm. Hj. Najmiah Muin beberapa waktu lalu.

Namun, bukti-bukti dan kesaksian yang hadir dalam persidangan tersebut membantah pernyataan kuasa hukum pihak tergugat.

Dokumen Perikatan Perjanjian Jual Beli asli, Peta Blok asli dan laporan hasil survei lapangan unit PBB Kantor Pajak Makassar tahun 2005 dengan pernyataan mayoritas saksi yang hadir menguatkan bahwa lokasi tersebut adalah garapan Hamsah Dg. Muntu.

Semisal Dg. Talle, salah seorang saksi yang merupakan warga asli kecamatan Mariso, sekaligus dulu merupakan salah seorang pihak yang kerap membantu Najmiah.

“Itu lokasinya Hamsah Muntu, saya yang kerja batas-batasnya, dan saya adalah warga asli disana,” ungkapnya.

“Iya, itu lokasi masih terletak di kelurahan Mattoangin itu, PBBnya seingat saya 0220 milik  Dg. Muntu,” tambah Rusmadi selaku mantan pejabat Pajak Pratama Makassar.

Senada dengan itu, Rusman Abutahir selaku mantan lurah Mattoangin juga menyatakan bahwa lokasi itu garapan Pak Hamsah.

“Saya yang buatkan keterangan garap, saya masih ingat sekali dan itu masih di wilayah kelurahan Mattoangin, tidak benar kalau dikatakan itu kelurahan Pannambungan,karena Pannambungan itu tidak ada lautnya,” papar H. Rusman selaku pejabat Lurah Mattoangin di tahun 1992.

Kuasa hukum penggugat punya bukti kuat

Sementara itu, Ibrahim Bando selaku kuasa hukum penggugat menyatakan bahwa, lokasi Jamaluddin Dg. Tiro itu disebelah timur dari obyek sengketa.

“Pembelaan dari pihak tergugat itu keliru, kita ada bukti putusan Pengadilan Negeri atas perkara no. 229/Pdt.G/ 2017/PN. Mks. Dalam perkara tersebut, sekitar lebih 100-an orang menggugat, dan turut tergugat dalam pihak yang kami gugat juga sekarang, dimana mereka mengakui bahwa lokasi Jamaluddin Dg. Tiro juga terletak di areal Siloam sekarang,” beber Ibrahim.

Dari hasil penelusuran Panrita.news, Putusan perkara perdata no. 229 tahun 2017 tersebut ternyata dipimpin oleh Majelis Hakim, Imam Supriyadi, dan beranggotakan Hakim Heneng Pujadi dan Doddy Hendrasakti.

“2 diantara Majelis Hakim yang mulia yang memimpin sidang gugatan kami sekarang adalah majelis hakim yang juga memimpin sidang dalam perkara no. 229 itu,” ungkap Ibrahim.

Tinggalkan Komentar