Membuat Perayaan Natal ‘Kelahiran Isa Almasih’ Versi Al-Quran

Hasanuddin (Ketua Umum PB HMI Periode 2004-2006)

Oleh: Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI periode 2003-2005).

PANRITA.News – Perayaan Natal yang diselenggarakan umat Kristiani selama ini, berbeda-beda di kalangan internal umat Kristiani. Hal ini terutama karena perbedaan memahami tanggal kelahiran Isa Al-Masih. Bahkan ada dikalangan sekte Kristen yang menganggap perayaan Natal itu bid’ah, karena tidak ada aturannya dalam Al-Kitab.

Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

Dapat disimpulkan bahwa perayaan natal itu adalah hasil ijtihad pada masa Romawi, untuk tidak terlalu jauh menyebut bahwa hal itu adalah produk politik kekuasaan Romawi kala itu.

Sebab itu perbedaan perayaan Natal hal yang wajar dan tidak termasuk bid’ah, karena itu hanya budaya saja.

Isa Alaihissalam menurut Al-Quran.

Nabi Isa Alaihissalam menurut Al-Quran adalah Putra Maryam, seorang perempuan Suci keturunan Nabi Harun.

Isa Al-Masih menurut Al-Quran adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah, yang membawa ajaran para Nabi-Nabi sebelumnya, yaitu ajaran Tauhid. Menyembah ke-Esa-an Allah.

Oleh sebab itu Isa Alaihissalam memiliki tempat yang sangat terhormat bagi Umat Islam, dan karena itu memperingati hari kelahiran Isa Alaihissalam bukanlah sesuatu yang tercela bagi umat Islam.

Sama halnya dengan peringatan hari kelahiran Muhammad Saw, yang diperingati umat Islam sebagai Maulid Nabi Muhammad Saw. Peringatan Maulid ini pun bukan tradisi Nabi, atau tradisi salafussalih. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw itu, adalah hasil ijtihad pada masa Salahuddin Al-Ayyubi, dalam rangka menyegarkan semangat jihad para kaum Muslimin di masa perang.

Artinya, Maulid Nabi Muhammad itu, juga produk politik seperti halnya Natal yang diselenggarakan pada masa Romawi.

Natal dengan Cara Al-Quran;

Muncul pertanyaan apa dasarnya, jika umat Islam ingin memperingati kelahiran Isa Al Masih. Dasarnya adalah surah Maryam ayat 33.

“وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا”

Arab-Latin: Was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amụtu wa yauma ub’aṡu ḥayyā

Terjemah Arti: Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Bagaimana caranya memperingati Natal versi Al-Quran ?

Tidak ada cara yang baku. Namun hal itu bisa dilaksanakan menurut tujuan yang ingin di capai.

Apa tujuan umat Islam merayakan Natal ?

Menyegarkan kembali akan perjuangan Nabi Isa Alaihissalam dalam menyebarkan ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalam pada masanya, hal itu sama halnya dengan menyegarkan kembali ajaran Ibrahim Alaihissalam yang disiarkan Muhammad Saw pada masa kenabian dan kerasulannya.

Tekhnisnya bagaimana?

Menurut hemat Kami, tekhnisnya bisa dilakukan dengan melantunkan kisah Nabi Isa Alaihissalam yang ada dalam Al-Quran. Mislanya dengan membaca surah Maryam.

Kapan pelaksanaannya?

Soal pelaksanaannya, karena tidak ada tanggal pasti kapan Nabi Isa Alaihissalam lahir, atau dilahirkan, (bahkan Kristen sendiri berbeda dalam hal ini), maka waktu pelaksanaannya bisa kapan saja.

Namun, jika ingin agar pelaksanaan Natal itu semarak dan menjadi jembatan perdamaian antaral umat, tidak ada salahnya menggelar Natal itu di akhir tahun, tidak berselang terlalu jauh dengan tradisi umat Kristen. Itu juga memudahkan pelaksanaannya karena adanya libur panjang yang sudah diatur selama ini.

Tinggalkan Komentar