Aksi Kamisan Bela Ramsiah di Monumen Mandala, Ini Tuntutannya

Aksi Kamisan Bela Ramsiah di Monumen Mandala, Ini Tuntunannya

Aksi kamisan Makassar berlangsung di Depan Monumen Mandala, Jl. Jl. Jend. Sudirman, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (31/10/2019).

Makassar, PANRITA.News – Aksi kamisan Makassar berlangsung di Depan Monumen Mandala, Jl. Jl. Jend. Sudirman, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (31/10/2019) sore.

Massa aksi tergabung dari Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi (KPJKB) dan sejumlah elemen pergerakan dan dari Mahasiswa UIN Alauddin Makassar.

Aksi kamisan ini kali bertajuk “Aksi Bela Ramsiah”.

Diberitakan sebelumnya, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Ramsiah Tasruddin jadi tersangka Ramsiah dijerat dengan tuduhan mencemarkan nama baik dan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Azzahra Damayanti, kasus yang menimpa Ramsiah mengingkari kemerdekaan berpendapat dan bersuara kritis di kampus.

Aksi kamisan Makassar di Depan Monumen Mandala, Jl. Jl. Jend. Sudirman, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (31/10/2019) sore.

“Hanya gegara mempertanyakan dan mempercakapkan di grup whatsApp tertutup terkait ‘penutupan’ Radio Kampus Syiar milik UIN Alauddin Makassar, ia justru dijadikan tersangka,” ujarnya.

Kasusnya kini berproses di Polres Gowa atas laporan yang diadukan mantan Wakil Dekan 3 Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Nur Syamsiah

Sejak menyandang status tersangka 1 September 2019 lalu, Ramsiah hidup dalam ketidakpastian. Bayang-bayang suram akan kariernya pada masa datang terus menghantuinya.

Termasuk bagaimana Ramsiah gagal promosi jabatan di kampusnya hingga dijauhi oleh koleganya karena statusnya sebagai tersangka.

Termasuk jika percakapan itu mempertanyakan pengelolaan fasilitas kampus. Tak perlu dibungkam. Apalagi diseret ke ranah hukum. Sebab selain merupakan hak asasi manusia (HAM), juga bagian dari kebebasan akademik yang dilindungi UU dan HAM.

Salah seorang massa aksi menyampaikan orasinya.

Menyikapi nasib dosen Ramsiah tersebut, Aksi Kamisan Makassar kali ini menyatakan sikap:

1. Menyesalkan penetapan status tersangka terhadap Ramsiah Tasruddin. Kami menilai, status tersangka yang dialami Ramsiah adalah kezaliman dan bagian dari kriminilisasi dosen kritis.

Sebab apa yang dilakukan Ramsiah adalah bagian dari tanggungjawabnya sebagai dosen dan pembina Radio Kampus Syiar.

Sekaligus merupakan hak asasi dan bagian dari kebebasan akademik yang dilindungi UU dan HAM.

2. Penetapan tersangka terhadap Ramsiah Tasruddin terkesan sangat dipaksakan. Sebab percakapan Ramsiah dalam grup WhatsApp tersebut bersifat tertutup. Khusus sesama member grup yakni sejumlah dosen UINAM. 

Anehnya, hanya Ramsiah yang jadi bidikan. Padahal dosen lain yang ikut berpendapat di grup whatsApp tertutup tersebut berjumlah puluhan.

3. Kami meminta Polres Gowa menghentikan proses hukum yang menyeret Ibu Ramsiah Tasruddin sebagai tersangka.

Sebab menjerat Ramsiah dengan UU ITE telah mengancam demokrasi di Indonesia.

4. Meminta pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum untuk menghormati kebebasan berpendapat sebagai bagian negara demokrasi. Apapun platform-nya. Termasuk di media sosial.

5. Hapus pasal-pasal dalam UU ITE yang telah digunakan untuk memberangus kebebasan berpendapat dan mendapat informasi. Misalnya pasal 26, 27, 28, 29, dan 40 UU ITE.

Alasan lain, pencemaran nama baik dan ancamannya sudah diatur di KUHP. Sehingga terjadi pengulangan aturan di UU ITE.

Tinggalkan Komentar