Perempuan dan Seks Masa Kini

Nonna | Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar

Penulis: Nonna, Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar.

Saya masih ingat pada salah satu buku bacaan yang menceritakan tentang kedudukan perempuan yang dulunya amat tidak bernilai, tidak patut mendapatkan kebahagiaan selain hanya tempat pelampiasan nafsu para lelaki, bahkan saking kerasnya kehidupan terhadap perempuan waktu itu, bagian tertentu pada alat vital mereka (perempuan) dihilangkan dengan alasan mereka tidak merasakan kenikmatan ketika hendak melakukan seks.

Belum lagi ketika ibu-ibu yang harus melahirkan tepat di depan lubang tanah, jikalau yang dilahirkan adalah bayi perempuan maka secara spontan sang bayi dikubur hidup hidup dan dikatakan tidak layak hidup. Amat memprihatinkan bukan? Belum lagi ketika para gadis dulu yang harus mendandani wajahnya sejelek mungkin agar tidak ditawan oleh para lelaki untuk dijadikan sebagai tempat pelampiasan nafsu bejat mereka.

Selain itu, perempuan tidak hanya dijadikan sebagai tempat pelampiasan nafsu belaka, rupanya mereka pun dianggap tidak layak hidup dengan memodali dirinya dengan pendidikan, mengapa? Karena perempuan pada zaman dulu memang dianggap sebagai manusia bodoh dan tidak dapat berpikir dengan baik.

Sedikit mengutip penjelasan Rocky Gerung pada saat Sekolah Kebangsaan di Training centre UIN Alauddin Makassar dengan tema “Indonesia Masa Depan; Meluruskan lintasan kebenaran Sejarah Kebangsaan”  pada 13 januari 2019 lalu, Ia menuturkanbahwa:

Dulu perempuan diolok olok  karena tidak mampu berpikir logis. Karena itu pada abad 14, 15 Kalau orang belajar Mathematics di Italia dan ingin jadi Doctor, kalau dia laki laki maka dia akan di uji oleh 4 doktor 1 hari selesai, tapi kalau perempuan ingin jadi doktor dibidang Mathematics misalnya. Orang akan halangi karena orang nggak akan percaya kalau perempuan bisa jadi doktor. Karena itu di buat syarat dulu dengan diuji oleh 100 Professor selama 40 hari yang disaksikan oleh publik, kenapa? karena mereka ingin mempermalukan seorang perempuan”.

Bersyukurlah seiring berjalannya waktu, kehidupan sekarang sudah amat jauh berbeda dari yang dulu. Namun bukan berarti kedudukan perempuan di zaman sekarang sudah benar benar aman, karena faktanya? Kekerasan perempuan zaman sekarang makin hari makin aneh. Ada banyak kasus kasus yang bisa dikatakan parah dan menindis kedudukan perempuan. Realitanya memang tidak sama persis seperti history masa lalu yang mengharuskan perempuan untuk tetap berada di rumah atau dijadikan sebagai budak seksual, namun ceritanya lain lagi akan tetapi masih berada dalam ruang lingkup seksual.

 Kita bisa melirik kasus yang baru baru saja terjadi, seperti yang dikutip dari suara.com tentang seorang gadis yang digilir 6 pemuda usai dicekoki dengan miras. Motif awalnya ialah sang gadis atau sang pacar diajak jalan jalan dan dibawah ke indekos kekasih, kemudian dipaksa meminum minuman keras. Usai itu kamar dikunci dan disetubuhi oleh pacarnya sendiri dan tidak sampai disitu, rupanya teman-temannya pun ikut menyetubuhi si gadis tersebut.

Sama halnya dengan kasus seksual beberapa bulan yang lalu yang dikutip dari Tribunnews tentang kasus gadis Lampung yang diperkosa oleh ayah, kakak dan adiknya selama setahun, hingga dari perihal ini si gadis harus disetubuhi oleh keluarganya sendiri secara bergiliran. Dan sungguh jikalau kita terus menelusuri kasus kasus kekerasan seks terhadap perempuan jelas ini tak akan ada habisnya.

Maka tak heran jikalau Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat adanya peningkatan sebanyak 14% pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan di Negara ini tepatnya pada tahun kemarin (2018).

Ditambah mencuaknya kasus baru baru ini perihal pengantin pesanan yang melibatkan beberapa warga Kalimantan Barat. Jelas dalam kasus ini termasuk pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Seperti pada pendataan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menuturkan bahwa ada 29 perempuan Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan di Cina selama 2016-2019.

Seperti pengakuan seorang Monica (korban pengantin pesanan di cina) yang mulanya diiming imingi makcomblang untuk menikah denga lelaki asal Cina yang bekerja sebagai tukang bangunan dengan gaji yang besar. Namun 10 bulan tinggal bersama dengan sang suami disanalah awal mula Monica dipaksa bekerja dan mengalami kekerasan seksual.

Masih saja tentang Seks, Entah mengapa seks masih saja menjadi alasan mengapa perempuan ditindas begitu saja. Padahal dulu terjadi karena perempuan memang dianggap tidak bernilai bahkan dianggap sebagai musibah bagi beberapa kalangan terutama pada masa yunani kuno. Lah sekarang? Kedudukan perempuan bisa dikatakan telah setara dengan laki laki bahkan beberapa Tokoh memang telah menganggap bahwa kedudukan perempuan dan laki laki sama, diantaranya ialah Amina Wadud (Filsuf wanita) dan Jennette rankin pickering (Politikus Amerika).

Lantas mengapa kasus seks yang menyudutkan perempuan masih saja rajin mengisi telinga sebagai berita keseharian? Jelas ini terjadi karena minimnya pendidikan, kemiskinan serta kurangnya nilai nilai Agama yang termaktub dalam diri seorang perempuan.

Karena jika kita mencoba untuk menelaah dari kasus yang ada maka penyebabnya tidak akan lepas dari ketiga point penting diatas, kita bisa menoreh pada kasus pengantin pesanan yang terjadi karena kegilaan perempuan pada iming iming kekayaan dan inginnya mereka segera meninggalkan status kemiskinan. Dan ini terjadi karena minimnya pendidikan mereka dalam memandang sebuah tawaran yang tidak jelas dimana arah seluk beluknya.

Ataupun kasus perempuan yang dengan mudahnya termakan rayuan kekasih untuk diajak jalan dan pada akhirnya dipaksa untuk berhubungan intim, dan pastinya ini terjadi karena kurangnya nilai Agama yang tertanam pada diri keduanya, terutama pada si Perempuan.

Tinggalkan Komentar