Refleksi Konsistensi Pendidikan, Ruang Didik, Tenaga Didik dan Gerak Kecil Pencerdasan

Muhammad Kasim, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar (Ist)

Muhammad Kasim, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar (Ist)

“Ing ngarso mangun tulodo, ing madyo mangun kurso, tut wuri handayani”. Sebuah kalimat yang menggambarkan spirit pendidikan yang menekankan pada berbagai sisi moral sebagai siswa diantaranya teladan(guguhan) ,semangat bergagasan sampai pada pucuk cita bersama “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Ruang lingkup sekolah harus senantiasa menjadi fadak surga bagi para siswa, tentunya bukan hanya lingkungan dan berbagai prasarana belajar saja tetapi guru harusnya mampu menjadi teman sekaligus sahabat bagi siswanya. Ini diharapkan proses edukasi moral sosial lebih mudah terjangkau dan dicerna oleh siswa.

Kedekatan antara siswa dan pendidik ini bisa menjadi stimulus bagi para siswa untuk menyampaikan berbagai masalah yang menimpanya ataupun yang terjadi di ruang lingkup keluarganya sendiri. Jadi guru tidak hanya menjadi pendidik tetapi juga menjadi panggung advokasi terhadap berbagai masalah yang menimpa siswanya, dengan modal ikatan emosional mungkin cukup.

Tak bisa dimungkiri sekolah adalah pencetak ataupun penghasil pemimpin-pemimpin bangsa, jadi sangat pelik rasanya ketika guru tak mampu memberikan guguhan yang mencerminkan nilai-nilai etika moral melalui tindakan dan perkataannya. Sekolah sebagai akar laboratorium dari manusia-manusia terdidik didalamnya tak seharusnya ada indikasi tindakan dan perkataan yang dapat merusak ahklak dari siswa itu sendiri.

Pada ruang-ruang pendidikan semangat bergagasan dari para siswa harus tetap digalih. Tetapi hal itu tidak akan muncul ketika tidak dilandasi dengan minat baca yang tinggi, tentunya sekolah harus mampu menyediakan ruang baca yang memercikkan kenyamanan bagi para siswanya.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan, dimana ada pergeseran tujuan pendidikan berdasarkan amanat undang-undang dasar 1945 . Sejak dasar siswa selalu diajak pada satu kondisi dimana seakan-akan dia bersekolah hanya untuk bekerja . Sehingga semangat pendidikan yang dibangun oleh Ayahanda Ki Hajar dewantara untuk mencerdeskan kehidupan bangsa itu hilang ditelan perkembangan pendidikan.

Semangat yang dibangun Ki Hajar dewantara dalam taman siswanya ini mengisyaratkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pencerdasan, bekerja hanyalah sisi lain dari pengembangan kemampuan peserta didik. Jika sekolah adalah kenyamanan maka guru adalah pendongeng yang senantiasa mencerdaskan.

Tidak bisa dipungkiri tingkat pendidikan adalah salah satu pendombrak lingkaran setan kemiskinan ,tetapi bukan berarti itu menjadi dasar untuk menghilangkan cita-cita mulia dari pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah sebagai aspek monumental harus selalu mempertimbangkan berbagai aspek pencerdasan baik itu niatan kecil maupun besar seketika.

Perlu adanya sebuah wadah rangkul untuk seluruh manusia-manusia yang belum sempat menginjakkan kaki dan berjejak dalam pendidikan formal. Penulis yakin dalam pendidikan tak ada perbedaan ,dimana ada manusia maka disana seharusnya ada pendidikan tanpa mempertimbangkan aspek rasial dan letak geografis sekaligus.

Semangat pencerdasan harus ada dalam setiap diri manusia, sedikit menelisik keberadaan perpustakaan sederhana di setiap desa adalah salah satu bentuk aktualisasi daya rangkul pemerintah serta pemerataan pendidikan. Semoga saja ini senantiasa terpikirkan dan terlaksana.

Tinggalkan Komentar