Fenomena ‘Ad Hominem’ dalam Dunia Pendidikan Tinggi

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Tahun 2018. (Foto: Ist.)

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Tahun 2018. (Foto: Ist.)

“….Ia merupakan salah satu mahasiswa hebat kami, baik di dalam maupun luar kampus, berbekal dengan tulisan-tulisannya yang menyoal realitas sosial yang pernah ia rasakan dan temukan…”. Sanjung salah seorang tenaga pendidik dalam sambutannya sebagai bentuk apresiasi kinerja dan karya peserta didiknya.

“Ia hebat di dalam dan luar kampus namun ia mengulang di mata kuliah yang saya ajar”. Pekik salah seorang tenaga pendidik dari jejeran kursi audience memotong sambutan dengan nada yang menyindir dan raut wajah agak kecut.

Spontan terlintas dalam benak kala ungkapan itu melayang dan mendarat di telinga, saya kenal siapa yang beliau maksud dan mengakui bahwa peserta didik yang dimaksud memang tidak lulus di mata kuliah yang diampuh oleh tenaga pendidik tersebut bahkan dengan satu mata kuliah yang berbeda lainnya namun ia memiliki alasan yang memaksanya untuk seperti itu tapi bukan berarti ia tidak ingin mengulangi mata kuliah tersebut di semester selanjutnya, ia sudah berjanji untuk melakukan hal demikian.

Beberapa hari yang lalu di sebuah kantin kampus yang penuh dengan coretan argumen kritikan ditemani segelas kopi kental yang nikmat, saya menjalani ritual seperti biasanya yakni berselancar dari link artikel yang satu ke yang lainnya kalaupun merasa jenuh dengan satu atau dua buku yang sengaja ku selipkan dalam tas, saya menemukan salah satu artikel yang mengupas perihal kehidupan sehari-hari di zaman ‘instan’ ini. Artikel tersebut berheadline “Argumentum Ad Hominem”, yakni sebuah argumen yang berupaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut.

Fenomena seperti ini kerapkali terjadi di sekitar kita utamanya di jagat media sebagai bentuk respon pembaca terhadap sebuah berita dan tidak menyoroti gagasan atas berita tersebut melainkan penulisnya atau tokoh dalam berita tersebut, misalnya Jeki, seorang artis yang pernah terjerat kasus narkoba, berbicara tentang moralitas dan hakikat suatu agama maka tentunya para pembaca berita tersebut yang kurang budiman akan lebih melihat si Jeki sebagai artis pecandu narkoba dengan segala argumen penyerangannya dibanding menelaah gagasan tentang moralitas yang dibahas oleh si Jeki meskipun si Jeki ini telah sadar dan mengubah polanya.

Argumen-argumen yang sifatnya menyerang pribadi seseorang dibanding gagasannya, itulah yang dinamakan Argumen Ad Hominem. Contoh lain, Jeko adalah seorang pemabuk dan ia menulis buku maka isi bukunya pasti ngawur’ , Jeni adalah seorang murid maka semua pernyataannya keliru. Kasus seperti ini tengah mewabahi tubuh generasi muda bahkan yang tua pula, hal demikian akan nampak di dunia maya oleh para lambe turah di akun-akun sosmed dan juga di dunia nyata.

Argumen tersebut juga secara tidak langsung memperoleh legitimasi dari zaman yang bisa dikategorikan sebagai Post-Truth (Pasca Realitas) meskipun sebenarnya Post-Truth merupakan sebuah kata yang terpilih menjadi Oxford Dictionaries’ Word of the Year pada tahun 2016 yang juga marak dalam dunia perpolitikan utamanya mengenai Pilpres Amerika Serikat dan Referendum Brexit. Post-Truth dapat didefinisikan sebagai era dimana pandangan seseorang terhadap suatu perkara dengan mengedepankan emosi dan perasaan yang tinggi daripada analisa berbasis data yang faktual terhadap perkara tersebut. Secara gamblang, hal demikian dapat dilihat bekerja pada dunia media saat ini. Contoh sederhananya, seorang pengguna sosial media yang menemukan sebuah berita yang berheadline kontroversi secara spontan melakukan repost dengan tambahan caption yangkontroversi pula tanpa membaca atau bahkan menganalisis isi dari berita tersebut sehingga persebaran berita akan meningkat secara drastis tanpa mempertimbangkan kebenaran akan berita tersebut.

Argumen Ad Hominem sebagai bentuk kesesatan logika atau kekeliruan berpikir (meminjam istilah Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Rekayasa Sosial). Sejenak menyelinap masuk dalam percakapan sebelumnya yang membuka tulisan ini perihal sambutan salah satu tenaga pendidik dalam sebuah kegiatan tentang apresiasi kinerja dan karya peserta didiknya dan respon tenaga pendidik yang satu yang lebih mengarah kepada argumen yang tidak sesuai dengan gagasan yang dilontarkan dalam sambutan tersebut, yakni antara apresiasi peserta didik dan respon kegagalan pribadi peserta didik yang tentunya tidak sesuai konteks. Ilustrasi sederhananya, si A membahas seekor monyet dan kemampuannya memetik buah kelapa yang bisa membantu tuannya sementara si B merespon dengan lebih melihat raut muka monyet yang menyeramkan.

Ad Hominem di era Post-Truth merupakan sebuah penyakit yang mewabahi tubuh manusia yang sedikit demi sedikit menghilangkan kedewasaan berpikir sekaligus mengaburkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual serta penyakit ini menyerang segala sektor yang ada, utamanya sektor pendidikan melalui pola hubungan tenaga pendidik dan peserta didik dalam mengarahkan dan diarahkan untuk hidup di ‘dalam dunia’ atau hidup ‘bersama dunia’.

Teringat dengan pepatah lama “jangan melihat siapa yang mengatakan tapi lihatlah apa yang dikatakan”, “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”. Pepatah demikian cukup memberikan pelajaran kepada kita tentang makna kesetaraan dan kerendahan diri begitupula dalam dunia pendidikan yang seharusnya meninggalkan roh feodalisme yang menjurus kepada paternalistik meskipun bentuk penghormatan kepada yang lebih tua harus tetap ada dalam wilayah kultural tapi pada wilayah dialektika hal demikian harus ditepis apalagi dalam dunia pendidikan sebagai ruang penumbuhan kesadaran manusia untuk menjadi manusia sehingga mampu memanusiakan manusia. 

Tinggalkan Komentar