Kekuasaan dan Kemuliaan

PANRITA.News – Kekuasaan, pangkat, dan kedudukan tidak selalu bergandengan dengan kemulian, tidak juga langgeng, kekuasaan dianugerahkan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dicabut-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. “Dicabut” karena sering kali yang berkuasa ingin langgeng dengan kekuasaanya, tapi jika Allah menetapkan kehendak-Nya, maka Dia mencabut kekuasaan itu.

Allah berfirman mengajarkan Nabi Muhammad saw. dan umat Islam untuk menyatakan: Engkau, ya Allah, Pemilik hak mengatur dalam segala hal. Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan merendahkan siapa yang Engkau kehendaki.

Dalam genggaman tangan-Mu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 3: 26). Kata ‘mencabut’ pada ayat ini, mengisyarakatkan bahwa biasanya penguasa ingin sekali mempertahankan kekuasaannya selama mungkin, tetapi jika ia enggan menyerahkannya, maka Allah akan ‘mencabutnya’, yakni mengambilnya dengan paksa.

Ayat di atas menekankan bahwa Allah memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan merendahkan (tidak memberi kemuliaan) siapa yang dikehendaki-Nya. Berulang-ulang pernyataan Allah dalam Al-Qur’an yang kandungannya menekankan bahwa ‘kemuliaan adalah milik Allah’.

Dia yang menganugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tapi itu bukan tanpa syarat, yang memiliki kekuasaan pun –kendati atas izin Allah ia memperolehnya– tidak otomatis ia meraih kemuliaan, karena kekuasaan tidak otomatis memuliakan manusia dan ketiadaan kekuasaan bukan tanda bahwa penghinaan Allah.

Hal ini perlu disadari karena tidak sedikit orang yang mengaitkan kemuliaan dengan kekuasaan/jabatan. Siapa yang menghendaki kemulian, maka ia dituntut untuk mencari dan memohonnya kepada Allah swt. karena Dia-lah pemiliknya secara mutlak.

Seluruh wilayah –tanpa kecuali– adalah milik Allah sehingga siapapun yang berkuasa dan dimana pun serta seluas apa pun kekuasaannya, maka itu bersumber dari Allah swt. atas izin dan atas restu-Nya. Jika ia memperolehnya tanpa hak, maka perolehannya adalah atas izin Allah dan berdasar sistem yang ditetapkan-Nya, sedang bila ia memperolehnya berdasar hak, maka itu adalah cerminan restu-Nya.

Sebagaimana Namrud yang berkuasa pada masa Nabi Ibrahim as. dan yang bermaksud menandingi Allah itu pun memperoleh kekuasaan dari Allah dan atas izin-Nya. QS. 2: 258 menyatakan: Apakah engkau tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu kekuasaan.

Ketika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata, “Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Maka kalau demikian sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Karena sekali lagi kekuasaan adalah milik Allah semata, dan Dia yang menganugerahkan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, maka dari satu sisi ia menjadi amanat dari Allah kepada sang penguasa, sekaligus menjadikan penguasa itu menjalin kontrak dengan masyarakat yang dipimpinnya. Kapan pun Pemberi amanat memintanya, maka ia harus legowo menyerahkannya.

Selanjutnya karena ia merupakan kontrak antara Allah dengannya, maka ia harus melaksanakan kandungan kontraknya kepada Allah dan masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam konteks ini, Allah swt. mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada pemiliknya dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. (QS. 4: 58).

Ayat di atas ketika memerintahkan amanat, ditekankannya bahwa amanat tersebut harus ditunaikan kepada pemiliknya, tetapi ketika memerintahkan menetapkan hukum dengan adil, dinyatakannya ‘apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia’, ini berarti bahwa perintah berlaku adil itu ditujukan terhadap manusia secara keseluruhan.

Dengan demikian baik amanat maupun keadilan harus ditunaikan dan ditegakkan tanpa membedakan agama, keturunan, suku atau ras.

Para penguasa diingatkan bahwa, ‘Jika kekuasaan yang engkau miliki mengundangmu untuk menganiaya pihak lain, maka ingatlah kuasa Allah atasmu’. Jika pesan tersebut terpenuhi, maka kemuliaan akan dianugerahkan Allah kepada yang memenuhinya, karena semua kemulian adalah milik Allah. Dia pula yang menganugerahkan kepada yang berhasil memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan-Nya.

Bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat itu, maka cepat atau lambat ia akan mengalami kehinaan. Sejarah telah membuktikan kebenarannya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Komentar