Jalangkote tanpa Lombo’

Askar Nur

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Periode 2018. (Foto: Ist.)

“Inikah yang dinamakan People Power?” sembari menunjuk dan mengarahkan pandangan ke layar televisi, terlihat kerumunan yang tengah dengan gigih berjuang untuk menyampaikan sesuatu dan di lain penjuru, ada pula kerumunan yang berusaha menjaga ketertiban dan keamanan dengan barisan yang kokoh. Kedua kerumunan bertemu, saling bertahan hingga gesekan yang memercikkan ‘amarah’ antara keduanya tidak terelakan lagi. “pernah disuguhkan dan makan Jalangkote tanpa lombo’?” seketika pertanyaan itu melayang meninggalkan kegaduhan di layar televisi dan pertanyaan sebelumnya. “saya pernah merasakan itu, disajikan beberapa biji jalangkote tanpa penyedap rasa yang bernama lombo’ rasanya sangatlah hambar. Saya merasa jengkel bahkan amarah saya terpantik namun saya tidak meluapkan amarah melainkan mencari lombo’ dengan damai”. Sambil melirik dengan nada penuh canda.

People Power menjadi fenomena beberapa hari ini di peredaran. Sebuah gerakan yang pertama kali lahir pada tahun 1986 di Filipina yang kemudian terjadi pula di Indonesia pada tahun 1998. People Power (kekuatan rakyat) itu sendiri di Filipina merupakan sebuah gerakan revolusi sosial damai di jalanan, gerakan aksi demonstrasi tersebut berlangsung selama kurang lebih empat hari yang dilakukan oleh jutaan rakyat Filipina dengan tujuan mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos yang telah berkuasa kurang lebih 20 tahun. Sebelumnya, rakyat Filipina marah akibat pembunuhan senator Benigno Aquino Jr di Manila yang baru saja kembali dari pengasingan selama tiga tahun di Amerika tahun 1983. Sehingga istri Benigno menjadi figur populer yang menentang rezim Marcos. Pada 23 November 1985, Marcos mengumumkan percepatan pemilu presiden dan kemudian diadakan pada 7 Februari 1986. Konferensi Uskup Katolik Filipina menyatakan telah terjadi kecurangan dalam pemilu tersebut dengan bukti yang nyata. Akhirnya, peristiwa People Power pun pecah pada 22 Februari 1986 dengan gerakan kekuatan rakyat yang lahir dengan kesadaran kritis serta bukti-bukti kecurangan, alhasil semua dukungan pada Marcos ditarik dan dinyatakan bahwa Marcos telah melakukan kecurangan dalam pemilu.

Di Indonesia sendiri, sebelum peristiwa reformasi 1998 yang identik dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden kala itu meletus. Selain daripada enam tuntutan yang dibawa, juga ada beberapa peristiwa yang menguliti organ sabar rakyat sehingga diam dan sabar bukan lagi emas. Salah satunya adalah penculikan 24 mahasiswa dan aktivis sosial, 9 orang kembali dan 15 masih hilang sampai sekarang sebelum pemilu Mei waktu itu, kerusuhan rasial etnis Tionghoa yang menelan ribuan korban jiwa pada 13-15 Mei, peristiwa penembakan mahasiswa pada tragedi Trisakti. Sehingga pada 18-21 Mei meletuslah gerakan kekuatan rakyat, ribuan mahasiswa dan rakyat dari berbagai penjuru menduduki gedung DPR/MPR RI hingga Presiden Soeharto yang kurang lebih 32 tahun berkuasa mengumumkan berhenti dari jabatan presiden namun peristiwa yang mengundang tangisan belum selesai, pasca Soeharto lengser tepatnya 11-13 November 1998 terjadi lagi peristiwa berdarah yang kita kenal Tragedi Semanggi I dan Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999, kedua tragedi itu menelan puluhan korban jiwa.

Dari kedua peristiwa di atas yang terjadi di Filipina 1986 dan Indonesia tahun 1998 yang diidentikkan dengan gerakan kekuatan rakyat (People Power) merupakan sebuah gerakan yang terbangun dari kesadaran kritis rakyat dan berlandaskan dengan bukti yang otentik serta mampu dipertanggungjawabkan. Gerakan People Power bukanlah sebuah gerakan yang dirancang oleh aktor melainkan sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran kolektif dengan membawa kepentingan bersama. People Power adalah gerakan revolusi sosial damai di jalanan bukan gerakan yang mengandung unsur kekerasan atau bahkan menimbulkan kerusuhan serta People Power  pula bukanlah layaknya amarah yang tumpah dari akumulasi rasa jengkel akibat disuguhkan beberapa biji Jalangkote yang tidak disertai Lombo’ (Re; penyedap rasa untuk jalangkote yang biasanya terdiri dari lombok yang diolah dengan beberapa bahan lainnya dan berbentuk cairan). Meskipun sangat hambar jika Jalangkote tanpa Lombo’ dan tentunya jengkel atau bahkan marah tapi perlu kita sadari bahwa itu bisa diselesaikan tanpa menumpahkan amarah, yang harus dilakukan adalah mencari tahu dengan penuh kedamaian lombo’ dari jalangkote tersebut karena tentunya ketika orang membuat jalangkote pasti disertai dengan lombo’ agar jalangkote bisa dinikmati dengan penuh canda tawa kebahagiaan. Sama halnya sebuah gerakan pastinya sebelum bergerak yang harus diketahui adalah akar permasalahan dan data-data konkret yang bisa dipertanggungjawabkan ketika semuanya rapi dan terorganisir maka bergeraklah, maka yakin dan percaya gerakan sehat itu akan dipertemukan dengan titik temu yang membahagiakan meskipun segala rintangan harus dijumpai namun itulah konsekuensi logis yang harus dihadapi dalam memperjuangkan sesuatu yang memiliki nilai (kemanusiaan dan keadilan) yang berbingkai cinta . Berbicara tentang cinta, ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘cinta tak harus memiliki’ meski demikian banyak insan yang memaksakan kehendak untuk memiliki sehingga lahirlah cinta dalam belenggu tirani, misalnya seseorang yang mencintai suatu perkara ataupun seseorang sehingga terus mereproduksi bentuk kecintaan itu sehingga lahirlah sebuah bentuk cinta yang baru namanya cinta buta. Seorang pecinta yang buta tidak akan pernah merasakan sesuatu yang janggal, meski dia ditekan, ditindas bahkan dipukul, para pecinta itu akan selalu melakukan sesuatu yang membuat yang dicintainya itu bahagia meski dirinya dan orang lain harus dirugikan. Para pecinta itu hanya memikirkan kebahagiaan bagi yang dicintainya dan akan marah bahkan berkorban jika ada yang mengganggu sosok yang dicintainya. Rasa itulah yang terus direproduksi sehingga akan bermuara pada cinta yang fanatik melahirkan budak cinta yang saling memeluk kepalsuan.

Selain melahirkan budak cinta yang saling memeluk kepalsuan, bentuk kecintaan yang fanatik terhadap sesuatu akan melahirkan pula apa yang dikatakan oleh Pierre-Felix Bourdieu, dalam bukunya “(Habitus x Modal) + Ranah= Praktik” yang diterjemahkan oleh Pipit Maizier, sebagai “Doxa”. Doxa itu sendiri merupakan salah satu konsep pemikiran Bourdieu, Doxa diartikan sebagai bentuk keyakinan fundamental, mendalam tanpa disadari dan tanpa melalui proses pemikiran, dianggap sebagai terbukti secara universal, yang menginformasikan tindakan dan pemikiran agen di dalam ranah tertentu. Doxa cenderung lebih menguntungkan tatanan sosial tertentu dan memberikan perlakukan istimewa pada agen dominan serta menganggap posisi dominan mereka sebagai sesuatu yang terbukti dengan sendirinya dan diinginkan secara universal. Doxa ini lebih merujuk kepada wujud kekerasan simbolik, konsep kekerasan simbolik ini merupakan sebuah tindakan yang lahir dari proses kelas atau organ yang mendominasi misalnya struktur kelas sosial antara kelas atas dan kelas bawah (Bourdieu, 1991). Jika dikorelasikan dengan cinta yang fanatik terhadap seseorang maka bisa dikatakan bahwa ‘seseorang yang dicintai’ adalah kelas atas sedang ‘seseorang yang mencintai secara fanatik’ adalah kelas bawah, kelas atas ini tentu mempunyai modal budaya, sosial dan simbolik yang membuat kelas bawah ini tergiur dan terdominasi secara tidak sadar sehingga akan tampil bukan atas dirinya melainkan kelas atas yang mendominasinya dan yang akan terjadi adalah kelas bawah sebagai seseorang yang mencintai secara fanatik akan bereaksi jika kelas atas dalam hal ini seseorang yang dicintainya mendapat gangguan dari luar, akhirnya efek domino yang muncul adalah kecondongan untuk membela meskipun hal demikian merupakan bentuk kejahatan.

Tulisan ini tidak berpihak pada kubu A atau B tapi tulisan ini berpihak pada hakikat A dan B yakni huruf. Huruf ini adalah seluruh rakyat di bawah naungan Ibu Pertiwi yang tengah merintih menyaksikan pergulatan kuasa yang menelan korban jiwa. Rakyat sudah cukup menderita dengan kemiskinan yang melilit, kebijakan yang menggenggam dan penderitaan-penderitaan lain. Dan sekarang mereka harus kembali menyaksikan korban jiwa berjatuhan di jalanan. Negeri ini lahir karena cinta yang tidak membelenggu, negeri ini untuk semua rakyat bukan untuk arena pertarungan kuasa segelintir orang.

Meskipun Soekarno pernah bilang “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”, perkataan itu adalah layaknya ketakutan tersendiri bagi Soekarno atau bisa dikatakan semacam peringatan agar supaya hal demikian mampu diantisipasi oleh generasi pelanjut namun apa yang pernah dikatakannya terbukti dan terjadi hari ini atau bahkan sudah lama terjadi di negeri ini. Ternyata perkataan itu tidak lebih hanyalah pemanis retorika para pemegang kuasa namun gagal diinternalisasi dalam diri. Rakyat kecil semakin kecil, terusir bahkan terasing di negeri sendiri, mereka butuh pemimpin adil yang mampu mengubah nasib mereka bukan menyaksikan perebutan kuasa. Mungkinkah ramalan Prabu Jayabaya tentang Ratu Adil, seorang pemimpin yang akan menjadi penyelamat, ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi semua rakyat, akan muncul di tengah kerusuhan yang berkecamuk? Semoga saja.

Doa keselamatan untuk tanah air dan negeri tercinta, Indonesia.    

Tinggalkan Komentar