Polemik Wisata Halal, Wagub Sulsel: Toraja Itu Muslim Friendly

Makassar, PANRITA.News – Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Selatan memantau respon masyarakat terkait rencana Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membangun kawasan wisata halal di beberapa daerah di Sulsel, termasuk di Toraja. Khusus di daerah ini terjadi pro dan kontra.

Terkait hal tersebut, Wagub mendengarkan masukan dan aspirasi dari berbagai pihak. Bahkan Pemda dan perwakilan masyarakat Toraja Utara (Torut) menenemui Wagub di Ruang kerjanya di Kantor Gubernur Sulsel, Senin (4/3/2019) untuk meminta penjelasan lengkap. 

Mereka yang hadir Kadis Pariwisata Toraja Utara Harli Patriatno, Penggagas Forum Pemuda Peduli Toraja Brikken Linde Bonting, Ketua PHRI dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Toraja Utara Yohan Tangkesalu.

Wagub didampingi oleh Kabid Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Sulsel Djamila Hamid dan Kepala Seksi Daya Tarik Wisata Sulsel Takdir.

Wagub menjelaskan bahwa Pemprov mengembangkan destinasi yang ada di Toraja, baik di Tana Toraja dan Toraja Utara agar semakin maju. Apalagi anggaran dan interaksi semakin besar di dua kabupaten ini. Namun, terkait rencana wisata halal yang menuai pro dan kontra. Sebagai negara demokrasi dikembalikan ke kabupaten/kota.

“Maksudnya, ada pemetaan spot-spot dimana disiapkan, terutama di objek wisata dimana makanan halalnya. Bukan makanan mau distempel haram, bukan acara itu yang harus dibubarkan,” kata Andi Sudirman.

Lanjutnya, bahwa yang ingin dikembangkan wisata Toraja yang juga muslim friendly atau wisatawan muslim dapat memenuhi kebutuhannya saat bepergian atau berwisata seperti untuk makan dan ibadah.

“Toraja itu muslim friendly, istilahnya kita lebih fokus dengan makanannya dan tempat ibadahnya,” sebut Andi Sudirman.

Diketahui, PHRI Torut menyebutkan 73 persen wisatawan yang datang ke Toraja wisatawan domestik, hanya 27 wisatawan manca negara. Dan hampir 75 persennya wisatawan muslim. 

“Prinsipnya yang menarik disana adalah atraksi dan budaya serta sebagainya. Pendatang ingin menikmati sajian natural dan kultural yang ada di sana, kita mau perjalan mereka nyaman,” jelasnya.

Lanjutnya, ada 9 juta warga sekitar Toraja yang menjadi target yakni masyarakat Sulsel, belum lagi wisatawan nasional.

Penggagas Forum Pemuda Peduli Toraja Brikken Linde Bonting, bahwa respon masyarakat Toraja beragam atas pernyataan dan rencana program Pemprov Sulsel terkait wisata halal, dia berpendapat menjadi persoalan karena yang disampaikan di media tidak runtut dan lengkap.

“Sehingga masyarakat yang ada di perantauan maupun yang ada di Toraja menjawab dengan pandangan-pandangan mereka,” ujarnya.

Sehingga untuk memastikan, mereka bertemu langsung agar informasi dan tujuan sebenarnya tidak bias. Pertemuan pun belangsung dengan sejuk dan tidak ada hal-hal yang tendensius. Walaupun awalnya dia juga gelisah dengan polemik yang berkembang.

“Dan Pak Wagub bilang jika tidak bisa diterapkan, kembali dipikir-pikir dulu kembalikan ke masyarakat dan Pemdanya bagaimana,” tambahnya.

Dia pun menyampaikan harapannya, bahwa pariwisata di Toraja maju dan berkembang tanpa ada polemik labelisasi halal atau haram.

“Contohnya yang baik itu muslim friendly,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PHRI Toraja Utara Yohan Tangkesalu menyebutkan penggunaan istilah Toraja muslim friendly tepat.

“Sebenarnya tujuan utamanya tidak berubah sama sekali, bahwa yang dipenetrasi adalah kulinernya, jadi kuliner yang dipenetrasi adalah kuliner muslim. Jadi contohnya, adalah restoran besar muslim yang sudah ada itu disertifikasi, bahwa memang memenuhi syarat, seperti dari pemotongan,” ungkapnya.

Selanjutnya, bagaimana restoran tersebut bisa dipublikasikan secara online. Sehingga ingin berkunjung ke Toraja, mengetahui tempat makan yang bisa menjadi pilihan mereka.

Sedangkan, Kadis Pariwisata Toraja Utara Harli Patriatno menjelaskan, bahwa sejak tahun 2017 bersama MUI dan Kadin Torut mendorong sertifikasi halal. 

“Ada 12 rumah makan yang menurut MUI Toraja Utara itu sudah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkapnya.

Konsep wisata muslim friendly dinilainya tepat. Bagaimana sebagai tuan rumah, Toraja Utara dapat menyambut tamu wisatawan sesuai apa yang mereka inginkan, dalam hal ini termasuk masalah makan.

“Bukan berarti kami di Toraja haram, tetapi bagaimana kita mempersiapkan fasilitas bagi tamu kita yang kebetulan muslim, paling tidak kita mendorong ada rumah makan bersertifikat halal MUI. Kemudian kita mempersiapkan untuk mushollah. Pengertiannya itu bagaimana kita menyambut mereka nyaman dan enak selama berkunjung,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar