Milad HMI, Haru-Biru Bandit Kekuasaan!

Foto: Muhammad Akbar A

Foto: Muhammad Akbar A (Direktur Akar Institute)

PANRITA.News – Maulid, maulud, miladi, milad merupakan rangkaian kata penggugah spirit yang muncul di tahun-tahun ketegangan. Tahun gencatan ‘perang salib’ dibawah komando panglima perang Salahuddin Al-Ayyubi. Bahkan catatan sejarah menerangkan, itulah penaklukan dan kemenangan pasukan muslim setelah dirasuki oleh nilai dari bentuk perang Nabi Muhammad SAW, dalam suasana ‘Maulid Nabi’.

Dari sini jelas bahwa fungsi dari ‘milad HMI’ adalah doktrin nilai dari seluruh rangkaian perjalan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di bangsa ini. Dari sejak revolusi menggema dalam pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Hatta sampai hari ini, untuk masa depan kemerdekaan Indonesia.

Secara formal HMI berdiri pada tanggal 14 rabi’ul awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 februari 1947 M. Tetapi sesungguhnya spirit kelahiran itu sudah ada sejak bangsa ini di dirikan. Negara berdiri di atas benturan fisik, psikis dan pikiran dari orang-orang hebat di bangsa ini.

HMI didirikan oleh Prof. Drs. Lafran Pane begitu sangat sederhana, dalam rapat kecil diruangan kelas pada jam kuliah. Berdirinya HMI sangat sederhana oleh pikiran yang tidak sederhana. Sebuah pikiran yang menampung seluruh kegelisahan generasi muda sejak bangsa ini berdiri. Hingga HMI didirikan sampai pada masa depan bangsa Indonesia.

Tepat di tanggal 5 februari 2019, HMI telah mencapai umur 72 tahun. Dalam umur generasi, ini sudah memasuki generasi kedua. Generasi kedua yaitu mereka yang melanjutkan warisan dari generasi pertama. Apa yang dapat kita warisi dari perjalan panjang HMI saat ini untuk masa depan?

HMI, Bandit Kekuasaan?

Generasi kedua HMI, kini telah menjadi generasi yang rapuh, mudah dipecah-belah, mudah dipatah-patah, hingga kita berada pada roda sejarah yang patah. Iya, kini rotan telah patah sebab dipatah-patah oleh kekuasaan yang rakus. Ini sedang berlaku dengan kondisi HMI yang pecah-belah oleh kepentingan kekuasaan.

Mengapa kekuasaan? Sebab penentu arah perubahan kebijakan di negeri ini adalah kekuasaan. Rakyat tidak memiliki kedaulatan. Bahkan HMI yang menampung seluruh semangat kelompok muda tidak berhak memiliki kedaulatan. Kita bisa saksikan dari kacau-balau kelompok muda saat ini.

Ada apa dengan perpecahan ditubuh HMI? siapa yang menginginkan perpecahan seperti ini? Semua kini menggantung harapan pada kekuasaan. Bahkan nasib baik atau buruk tergantung selera kekuasaan. Seperti menunggu turun hujan dari langit. Entah kapan mau turun ke bumi, tiba gilirannya turun membawa bencana bagi manusia.

Tahun pemilu, HMI terdaftar dan tersertifikasi untuk menjadi lembaga pemantau independen dalam mengawal demokrasi. Artinya, HMI bukanlah ‘onderbown’ dari partai politik manapun. Tetapi pecah-belah ditubuh HMI menjadi syarat kepentingan politik kekuasaan. Siapa yang harus disalahkan untuk kondisi yang menguras pikiran kader ini?. Bagaimana HMI mengawal bangsa di tengah guncangan besar internal?.

Momentum Milad HMI diselenggarakan Februari ini. Nilai apa yang akan kita warisi dari seluruh percaturan panjang generasi HMI di bangsa ini?. Jika itu tidak begitu penting, maka perayaan Milad ke 72 yang di ancang-ancang akan terlaksana di Kota Makassar tidak perlu dilaksanakan.

Apapun alasannya, suatu perayaan seremonial hanya menjadi sesuatu rutinitas formal, kaku, berjarak dan membosankan. Tidak ada nilai yang menggugah spirit kader untuk mengabdikan diri atas nama ummat dan bangsa dalam seremonial Milad itu. Mewahnya seremonial justru membuat latihan-latihan yang ada di HMI tidak lagi memiliki daya dobrak untuk mencipta perubahan sosial.

Ketika Milad HMI hanya sebagai ruang pertemuan seluruh kader yang ada di bangsa ini. Maka sekali lagi, tidak ada gunanya diselenggarakan sebab itu hanya akan memperbesar kecurigaan, kemungkinan perayaan ini bagian dari skema kekuasaan. Siapa bandit, anjing, kaki tangan kekuasaan sesungguhnya ditengah banjir bandang, badai, gempa, tsunami yang menghantam sisi terdalam tubuh HMI?

Siapa yang akan tertawa menengok perpecahan di tubuh HMI?. Siapa juga mereka yang akan merasakan penderitaan lahir batin, melihat organisasi tertua, yang sepanjang perjalanannya selalu menjadi garda terdepan mengawal dinamika kemahasiswaan, kebangsaan dan keummatan ini?

Mengharap Anak-Anak Lafran Pane

“Tugas intelektual adalah tidak membuat patahan dalam pikirannya, menghubungkan pikiran masa lalu, masa kini dan masa depan”

Student need, student interest senantiasa dikembangkan dalam setiap aktivitas kader HMI di tingkat paling bawah dalam struktur kekuasaan HMI. Tetapi mirisnya, propaganda rutinitas pengembangan diri kelompok muda mahasiswa, hanya dilakukan oleh segelintir dari banyaknya cabang, komisariat di Indonesia sebagai instrumen pembinaan.

Jika Lafran Pane adalah bapak bagi kader HMI, sepatutnya ada hal yang diwariskan kepada anak-anaknya. Bahkan rekam jejak ayah sebagai pribadi biasa, dan buah pikirannya tidak ada yang betul-betul tahu tentang itu. Bukankah Milad HMI bertepatan dengan tanggal kelahiran Lafran Pane?

Perayaan Milad HMI adalah perayaan Milad Lafran Pane. Artinya bahwa ada seberkas pikiran, nilai yang dimilikinya harus tertanam dalam diri kader hari ini untuk mencipta masa depan. Bukan sekedar memasang simbol HMI dan duduk depan gadget memantau perkembangan, yang sebenarnya itu semua selera kekuasaan.

HMI menitikberatkan kadernya untuk menjadi muslim, intelektual, profesial, dengan penekanan iman, ilmu, amal yang secara integral. Diterangkan dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan sebagai sumber nilai dan buku saku yang menjadi pedoman bagi kader HMI, dari sabang sampai merauke, bahkan sekarang sudah ada cabang di luar negeri.

‘Pedagogy of hope’ adalah rumusan filsuf pendidikan dari brazil Paulo Freire yang menitikberatkan harapan dan masa depan manusia melalui jalan pendidikan yang humanis (memanusiakan manusia). Jalan yang dipilih adalah menggeser kesadaran manusia dari kesadaran palsu, menuju kesadaran otentik.

Sudah seharusnya, anak-anak Lafran Pane menggugurkan mitos tentang generasi kedua. Generasi yang hanya hidup menikmati warisan generasi pertama dengan masa gemilangnya. Sudah saatnya mereka menjadi tokoh pembaharu yang lain. Bukan hanya menjadi generasi yang hanya mampu menceritakan kisah tokoh dari generasi sebelumnya seperti Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Akbar Tanjung, Mahfud MD, Anis Baswedan dan lain-lain.

Pendidikan HMI seharusnya bisa melahirkan orang-orang bebas dan merdeka dengan pikiran merdeka. Sekalipun fisik ada di habitus terbatas, tetapi pikiran menjelajah keseluruh sisi terkecil alam semesta.

Jadilah anak-anak Lafran Pane, yang begitu sederhana dalam hidup. Tetapi tidak sederhana dalam pikiran. Sehingga tidak dapat dijangkau oleh kepentingan sesaat dari mereka yang berkepentingan. Orang-orang yang merawat pikiran Cak Nur menyebut sebagai manusia yang berpikir bebas (intellectual freedom).

Merapikan kembali pendidikan HMI adalah jalan harapan untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, rusaknya HMI adalah bagian lain dari warna rusaknya bangsa Indonesia. Lewat menanamkan NDP serta AD/ART serta pedoman lainnya sebagai sikap hidup kader HMI.

Bahkan lebih dari itu, nilai di HMI seharusnya bermetamorfosa menjadi Ideologi kader dalam jalan panjang pengabdian untuk ummat dan bangsa. Ideologi akan terpenuhi syaratnya melalui ontologi (sikap, prinsip, karakter), sebagai keberanian memilih miskin ketimbang menjadi bandit. Epistemologi adalah kekayaan metodologi melalui pengembangan wawasan ilmu pengetahuan. Aksiologi adalah daya guna dikehidupan berbangsa dan bernegara.
Semoga kita menjadi kader muslim, intelektual, professional. Yakin Usaha Sampai.

Hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik. Amiin

Leave a Reply