Banjir Sulsel: Sebuah Perkawinan ‘Cosmic’ yang Rapuh!

Banjir Sulsel: Sebuah Perkawinan 'Cosmic' yang Rapuh

Banjir Sulsel: Sebuah Perkawinan 'Cosmic' yang Rapuh

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS, 21:30).

Jenis air apakah yang merenggut nyawa manusia? Bukankah dalam surga terdapat empat air?, air biasa, air susu, air arak dan air madu sebagai masing-masing dari lambang ibadah manusia. Dahaga manusia akan terobati dengan sepenuhnya ibadah untuk menggapai iradat Allah.

Kali ini untuk kesekian kalinya anak manusia mengacau untuk diri sendiri dan alam semesta, semesta yang seharusnya berkawin dalam damai nan harmoni untuk mencipta kehidupan di bumi manusia tetapi itu dirusak oleh manusia. Seperti kisah perebutan air yang keluar dibawah hentakan kaki Ismail kecil yang berujung dikuburnya kembali air itu setelah menghidupkan banyak manusia.

Telah banyak contoh kejadian yang melibatkan air sebagai instrument paling maksimal untuk membersihkan hama semesta, air bah Nabi Nuh, belahan air laut Nabi Musa, itu rangkaian kisah air yang menelan dan membersihkan. Ya, itulah sifat air menyerap dan membersihkan.

Aroma daging manusia yang membusuk, rumah yang di buat utuh telah berserakan menjadi sampah tidak berguna, tersimpan dan terus berkecamuk dalam pikir dan ingatan, apakah ini kerja “tangan Tuhan” atau “tangan-tangan keserakahan manusia” yang menjadikan ini sebagai tumbal.

Orang yang berpikir dan membaca qalam Tuhan tidak akan percaya bahwa ini perbuatan “tangan Tuhan”, kenapa harus mengorbankan jiwa-jiwa yang tidak berdosa untuk menjelaskan kekuasaan Tuhan itu semakin tidak mungkin, lebih jelas itu adalah ulah keserakahan tanga-tangan manusia yang merusak keseimbangan semesta untuk kekenyangan pribadi.

Status & Fungsi Manusia

Kenyataan dari kehadiran manusia di semesta ini adalah drama Cosmic kitab suci, seperti juga langit dan bumi, manusia terdiri dari dualitas laki-laki dan perempuan yang pada awalnya satu kemudian di kembang biakkan menjadi laki-laki dan perempuan.

Ibadah adalah fasilitas Tuhan, diberikan kepada manusia untuk menjaga diri agar tidak melampaui batas-batas kemanusiaan, Ghandi pernah berkata, “alam semesta cukup untuk kebutuhan hidup manusia, tetapi ketika satu saja manusia yang serakah maka alam semesta itu tidak cukup”. Tindakan ini jelas tindakan manusia, bukan sebuah peringatan dari Tuhan.

Sejatinya alam semesta perlu dikelola untuk kebutuhan hidup manusia, dengan kreatifitasnya manusia bisa mengembangkan dan menghasilkan segala hal yang ada di alam raya ini untuk kebutuhan hidupnya semakin bertumbuh dan berkembang.

Potensi menghamba sebagai benteng diri manusia berikut potensi berkreasi untuk mengolah alam semesta menjadi semakin bertumbuh tidak lantas membuat manusia melupakan titik keseimbangan dari alam DNA manusia. Potensi kreatif itu perlu dikawal dengan baik oleh potensi menghamba agar berada pada koridor kemanusiaan.

Bahwa musim penghujan di awal tahun 2019 ini sungguh menggelisahkan masyarakat Sulawesi-Selatan, terkhusus yang terdampak langsung bencana banjir dan longsor seperti Kota Makassar, Kab Gowa, Takalar, Jeneponto dibagian selatan, selain itu dibagian utara seperti Kabupaten Maros, Pangkep, Barru juga mengalami kecemasan yang cukup tinggi akibat bencana banjir dan longsor.

Satu pekan ini, masyarakat Sulawesi Selatan mengalami pukulan keras atas bencana banjir yang telah memakan korban jiwa. Do’a serta kerja keras untuk saling bahu-membahu tetap dilakukan ditengah masih banyak korban yang belum ditemukan, seperti situasi terparah di Jeneponto.

Dari peristiwa ini dapat dimengerti bahwa ada yang salah dalam kemanusiaan, ada yang salah dalam perkawinan Cosmic. Ada yang salah dalam manajemen potensi manusia, tidak berangkat pada titik fitrah lagi, terlampaui dalam kreatifitas sehingga melupakan akar keseimbangan dan keadilan.

Bukankah terpampang gunung pada diri perempuan sebagai konsekuensi kemampuan menjaga keseimbangan? Kenapa ada manusia merasa merdeka dan percaya diri menggundulkan gunung di Bumi ini sementara Tuhan menghadirkannya sebagai titik tolak keseimbangan. Akhirnya manusia menikmati air keruh (banjir).

Telah banyak yang meneguk air keruh itu, sebanyak itu pula yang merenggang nyawa akibat tegukan air keruh. Hujan sejatinya memberi kehidupan bagi manusia, tetapi kini menjadi bencana yang setiap waktu manusia merasakan kecemasan. Siapa yang mengundang kecemasan ini?

Menyelamatkan Alam, Menyelamatkan Tradisi

“Hidup ini penuh dengan dualitas, maka semua berada pada hukum dualitas. Tidak baik jika memaksanya menjadi satu dan menafikan yang lainya sebab keseimbangan terlahir dari dualitas tersebut”.

Dalam sebuah tradisi, gunung adalah sumber kehidupan. Begitu banyak manusia yang menggantungkan hidupanya kepada gunung, bahkan datang mengunjungi untuk beberapa ikhwal yang di maksudkan. Apakah dalam hal ini ada kekeliruan dari manusia?

Semua tahu bahwa hujan adalah berkah langit, rahmat dari Tuhan dalam harmoni semesta langit dan bumi. Hujan telah datang maka tumbuhan, pohon-pohon menjadi subur, kehidupan telah dimulai, mata air telah hadir mengalir membentuk sungai. Begitu banyak anak sungai bertemu pada titik-temu laut, dari situ awan bekerja menyerap air laut hingga membentuk hujan. Harmoni semesta dari kerja sama yang adil.

Hujan merupakan ekspresi kerinduan langit terhadap bumi, yang pada dasarnya satu tetapi berada pada dialektika dualitas semesta. Hujan adalah cara langit dan bumi berhubungan satu sama lain, begitulah rindu bekerja (berhubungan).

Ada dasar yang keliru dari perkawinan ini, langit telah memberi lebih banyak tetapi bumi tidak menerima dengan ikhlas (cinta), itulah kondisinya sehingga lebih banyak kita menemukan bencana bukan kedamaian dan kebahagiaan melainkan amis darah dan aroma busuk bangkai manusia serta reruntuhan serpihan bumi.

Katanya hujan terlalu kasar, ehh… ternyata bumi terlalu tandus dan kering sehingga hujan tidak terasa lembut karena menusuk langsung jantung bumi, tidak mengalir melalui rambut, mata, telinga, hidung, mulut, tenggorokan hingga sampai ke tapak kaki bumi sebagai yang paling bawah agar pijakan itu menjadi pijakan bumi yang subur, mengahalau banjir bandang dan longsor.

Bagaimana sebenanrnya bentuk perkawinan Cosmis itu? Sepatutnya tidak menghadirkan bencana, tetapi menghadirkan kedamaian dan kesuburan, itulah makna perkawinan Cosmic. Maka manusia perlu menjadi manusia, untuk lebih inti menjadi hamba seperti semesta juga bertasbih kepada Tuhan tanpa menafikan manusia sebagai objek atas kesuburunnya.

Mengolah semesta tidak seperti mencukur rambut asal subur nanti di gunduli saja, seperti kisah style orang kaya gundul. Semakin licin semakin kaya akhirnya manusia tidak berdosa jadi tumbal dari kemauan dan gaya personal manusia.

Hanya Tuhan Pemberi petunjuk terbaik. Amin

Leave a Reply