KontraS Ragukan Tim Khusus Bentukan Kapolri atas Kasus Novel Baswedan

Jakarta, PANRITA.News – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) angkat suara soal pembentikan tim khusus untuk kasus Novel Baswedan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani mengaku tak yakin tim tersebut dapat bekerja independen. Sebab menurutnya, dari 65 orang yang masuk dalam tim khusus kasus tersebut didominasi oleh perwakilan kepolisian.

Yati menyebut Direktur Setara Institute Hendardi dan peneliti LIPI Hermawan Sulistyo merupakan orang dekat Tito.

“Hendardi dan Hermawan Sulistyo itu kan penasihat Kapolri. Ada juga dari Kompolnas (Poengky Indarti),” kata Yati di kantor KontraS, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Selain itu, Yati juga khawatir tim khusus kasus Novel dibentuk hanya untuk membantu capres petahana Joko Widodo dalam menghadapi debat perdana pilpres bertema hukum, HAM, korupsi dan terorisme, 17 Januari mendatang. 

Yati mengaku khawatir karena tim khusus itu dibentuk pada 8 Januari atau hanya sembilan hari jelang debat capres soal penegakan hukum dan HAM.

“Pembentukan hanya untuk menyiapkan jawaban saat debat capres,” kata Yati.

Di tempat lain, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mendorong tim bekerja secepatnya menemukan penyiram air keras terhadap Novel Baswedan.

Choirul menegaskan bahwa ekspektasi publik adalah pengungkapan pelaku dan motif penyerangan.

“Indikator kecepatan kerja tim menjadi salah satu yang penting. Mengingat kasus ini telah lama ditunggu karena sudah 600 hari lebih,” tutur Choirul melalui pesan singkat.

Choirul mengatakan tim bentukan Kapolri bisa bekerja cepat karena tim tersebut melanjutkan apa yang sudah ditemukan oleh tim bentukan Komnas HAM.

“Tim ini tidak bekerja dari nol,” kata Choirul.

Choirul juga menekankan pentingnya akuntabilitas tim tesebut. Sebab, menurut dia, akuntabilitas dapat membuat publik percaya terhadap kerja-kerja yang dilakukannya.

Tim gabungan mencapai 65 Orang

Sebelumnya, pihak Mabes Polri menyatakan telah membentuk tim gabungan untuk menindaklanjuti perkara penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

“Benar Kapolri telah mengeluarkan surat tugas untuk menindaklanjuti perkara Novel Baswedan,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal saat ditemui di kantornya, Jumat (11/1/2019).

Berdasarkan Surat Tugas Kapolri dengan nomor Sgas 3 /1. HUK.6.6/2019, jumlah anggota Tim gabungan mencapai 65 orang. jumlah anggota Tim gabungan mencapai 65 orang. Mereka terdiri dari pihak KPK sebanyak enam orang, perwakilan pakar tujuh orang dan sisanya 52 dari kepolisian, dan Kapolri Jendral Tito Karnavian sendiri tertulis sebagai Penanggung Jawab.

Beberapa nama tokoh yang diketahi masuk dalam tim ini, antara lain, Indriyanto Seno Adji (Wakil Ketua KPK Februari-Desember 205/Guru Besar UI), Hermawan Sulistyo (akademisi), Hendardi (Setara), Poengky Indarti (mentan Direktur Eksekutif Imparsial), Ifdhal kasim (Komnas HAM 2007-2012), dan lain-lain.

Leave a Reply