Caleg, Jangan Sakiti Pohon!

Takbir Abadi

Takbir Abadi

PANRITA.News – Sebenarnya siapapun wajah yang tertempel di sana ibarat kedunguan yang tak terkira, seluruh wajahnya terbebani oleh rasa kasihan yang tak habis habis. Mestinya sebelum ia mengemis suara kepada kami, harusnya mereka memperlihatkan kasih sayang kepada yang menghidupi kami.

Konteksnya sederhana pohon adalah korbannya. Pohon menjadi sarang apik untuk memperkenalkan diri juga memperkaya identitas demi semua jabatan.

Kedunguan ini adalah teknik lama yang masih berjejak, ia diteruskan oleh politisi politis lama dan lebih dungunya lagi politisi muda yang tahu artinya pohon dan masa depan mala ikut ikutan. Dasar!

Sebenarnya ini bukan lagi model lama yang efektif jika para politisi hari masih punya akal sehat.

Anda tahu, setiap wajah anda pasang di pohon-pohon tak berdosa itu adalah pengancaman yang berujung mematikan.

Mari kita membaca bersama bahwa pohon yang anda pasangkan wajah anda
Memasok kebutuhan oksigen (O2) bagi ribuan kepala di sekitar anda. Melalui proses fotosintesis, tajuk pohon mengurangi kadar CO2 (hasil aktivitas manusia, pabrik, kendaraan bermotor) di udara dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan manusia.

Mudjono pakar lingkungan mengatakan setiap 1 hektare lahan hijau dapat mengubah 3,7 ton CO2 menjadi 2 ton O2. Proses ini sangat penting sebab gas CO2 sangat beracun dan bila dalam jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek rumah kaca.

Maka kalimat sederhananya, lagi lagi anda mengurangi kenikmatan udara masyarakat disekitar anda.

Masalah tak sampai di situ, pohon yang anda jadikan ladang ambisi ketenaran itu juga dapat menahan laju air sehingga akan lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah. Menurut penelitian, tegaknya pohon yang berdaun jarum mampu membuat 60% air hujan terserap tanah, bahkan tegakan hutan yang berdaun lebar mampu membuat 80% air hujan terserap tanah.

Perlu diketahui, air tanah yang sekarang ini kita nikmati sesungguhnya merupakan hasil resapan air hujan sekira 6.000 tahun lalu ketika areal serapan air masih sangat luas. Selain itu, akar pohon akan menahan tanah yang terkikis agar tidak masuk ke aliran sungai/saluran air yang akan menimbulkan endapan. Kemampuan inilah yang dapat mencegah terjadinya kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim hujan.

Sehingga bahasa sederhananya, jika pohon itu masih menjadi ruang ambisi anda maka sama saja anda mengancam kehidupan manusia di masa depan.

Kita tak perlu mendalami ilmu tanah untuk membaca manfaat pohon. Ini masalahnya sederhana. Pohon juga dapat menjaga kesuburan tanah. Saat hujan, butir-butir air hujan tidak langsung menimpa permukaan tanah. Setelah ditahan oleh tajuk pohon selanjutnya ditahan oleh serasah yang berupa daun dan ranting kering. Dengan demikian tidak mengelupaskan dan memercikkan butir-butir lapisan tanah bagian atas, yang umumnya subur/tanah humus.

Adingsih salah seorang peneliti mengungkapkan bahwa pohon juga dapat meningkatkan kenyamanan lingkungan. Pepohonan mampu membentuk mikroklimat yang sejuk, mengurangi kebisingan, mencegah silaunya sinar matahari, mengurangi bau busuk serta menyekat pemandangan yang kurang layak.

Kegiatan metabolisme evapotrenspirasi tumbuhan akan menyebabkan suhu di sekitar tajuk menjadi lebih rendah dan kadar kelembapannya meningkat.

Hal yang dilakukan oleh para politisi yang menempel wajahnya di pohon itu adalah kedangkalan berpikir masa lalu. Ia hanya di dasari oleh ambisi dan rasa haus yang membahana.

Dirinya sama sekali tak punya rasa cinta, walau konteksnya hanya memaku pohon.
Ini menghambat penghijauan dan martabat sebuah pohon yang mampu menghidupi ribuan kepala, ribuan pundak, ratusan organisme lain.

Kesadaran yang dimiliki oleh kita harusnya diimplementasikan kepada siapapun itu. Jika ujungnya adalah pohon dan paku, maka tak ada perubahan yang berjalan.

Kita sudah berada di generasi ketiga, generasi pengangkat peradaban. Generasi yang memiliki cita dan daya kreativitas yang tinggi.

Bergeraklah menyampaikan kebaikan tanpa menyakiti. Majulah tanpa menyingkirkan dan naiklah tanpa menjatuhkan.

Kini hadir ruang ruang media. Silahkan berpacu di dalamnya. Kampanyekan segala kebaikan. Keluarkan jati diri anda. Tapi jangan lupa bertemu dengan rakyat, ruang anda untuk mengemis nantinya.

Demikianlah sedikit pesan, sebuah pesan yang mengarak kita untuk peduli dan menyayangi pohon yang menghidupi kita.

Jika anda membawa cinta untuk menjadi seorang wakil rakyat, bawalah dengan kemegahan tak terkira. Mencintai dan menyayangi kepada yang menghidupi kami.

Ahmad Takbir Abadi (Aktivis Lingkungan)

Tinggalkan Komentar