Semangat Tinggi untuk Sekolah Menggagalkan Pernikahan

Muhammad Akbar A

Muhammad Akbar A, Direktur AKAR Institute

“Pulang ke rumah dan di nikahkan atau tetap sekolah dengan modal semangat.”

Ialah NADIRA Anak kedua dari empat bersaudara, satu-satunya yang sempat bersekolah hingga ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang saat ini sementara berlangsung proses belajar dibangku kelas 1 (satu).

Saudara laki-laki pertama harus ikut melaut, usianya seharusnya menduduki bangku kuliah. Adik perempuan ketiga juga tidak sekolah usianya sudah memasuki bangku SMP jika bersekolah, dan adik bungsu laki-laki 2 tahun telat masuk sekolah SD dari umurnya.

Kedua orang tua tidak berani berharap untuk menyekolahkan anaknya karena himpitan ekonomi. Bahkan pertimbangan ekonomi juga akhirnya lamaran untuk mempersunting anaknya beliau terima setelah yang pertama sudah ditolak.

Tetapi keinginan kuat untuk sekolah ternyata menggagalkan pernikahan yang sudah sempat dijadwalkan, tangis ketidakberdayaan serta mengasingkan diri dengan tidur dikolong rumah membuat ayah dan ibu semakin bimbang dan tidak berdaya, akhirnya ada kabar gembira lamaran telah dicabut.

Untuk urusan sekolah ayah dan ibu masih tidak punya harapan, tetapi ada sedikit kebahagiaan melihat anak tidak disituasi sebelumnya. Mengenai keinginan kuat untuk sekolah, semangat itu dijemput oleh kakak perempuan yang menjadi panutannya yang telah berhasil keluar mengeyam pendidikan dan mengubur stigma masyarakat tentang tidak pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.

Dialah yang meyakinkan orang tua dan mengatakan, “Jika memang Nadira mau sekolah, sekolahkan saja soal biaya biarlah jadi tanggungan saya, semasih saya bisa bantu, saya bantu,” akhirnya dibawalah mendaftar ke sekolah SMA 1 yang terdapat disalah satu kabupaten yang ada di Sulawesi-Selatan dan lulus tahun ajaran 2018.

Disinilah kesulitan melanda, sebab kakak panutannya sedang dalam kesulitan juga. Tapi semangat belum kurang sedikitpun dari anak ini, minggu pertama (1) sekolah masih menggunakan seragam SMP, minggu kedua merasa tertekan akhirnya dapat pinjaman membeli seragam putih-abu yang lain seperti batik, pramuka serta seragam olahraga sebagai paketan seragam belum ada hingga minggu ketiga (3) memasuki 1 (satu) bulan sekolah ini masih menggunakan seragam bekas SMP.

Belum buku catatan, buku untuk tugas, buku paket dan diktat yang mulai ada jadwal menyicil, tempat tinggal masih numpang, bahkan terakhir peristiwa yang sangat menyenyat hati ke sekolah dengan modal jajan 1.000 rupiah itu kesyukuran karena ada sebab lebih sering tidak ada. Sedikitpun belum tersedia kecuali semangat. Jika pulang kerumah maka konsekuensi dinikahkan. Semangat !!!

Jangan pertanyakan soal pengaduan kepada yang bertanggung-jawab urusan ini, ini sudah berlangsung dan memasuki 1 bulan masa sekolah. Siapa yang bertanggung-jawab lagi ?
Hanya kepedulian kecil yang penting saat ini, sebab orang jahatpun bahkan memiliki sisi manusiawi ketika menjumpai situasi yang menyanyat hati. Semoga ini bukan termasuk bencana seperti gempa bumi di Lombok NTB.

Siapapun yang terpanggil dan tergerak untuk menjaga semangat itu, maka selamatkanlah satu semangat itu untuk menemukan semangat yang lain.

Bukan saja soal semangat yang ia miliki, tetapi ini menyangkut jiwa dan kejiwaan manusia. Semakin lama dibiarkan akan sangat menghawatirkan bahkan semangat itu takutnya akan hilang. Jika ini termasuk dalam kebijakan politik lantas kenapa masih banyak yang putus sekolah ? bukan untuk mendebati soal ini tetapi untuk melengkapi uraian bahwa 1 (satu) jiwa yang memilik semangat tinggi ini perlu diselamatkan.
Apakah hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik ? Aamiin…

Penulis: Muhammad Akbar
Direktur AKAR Institute

Comment