Pendidikan; Merdeka dan Memiliki Nafas Kemanusiaan?

Muhammad Akbar A

“Pelajarilah bahasa Indonesia karena itu bahasa ibu, juga pelajarilah bahasa inggris karena itu bahasa diplomatis.” Soekarno

Ir. Soekarno dimata saya itu filsuf, yang ketika setiap ada tuturnya itu menukik dasar jiwa manusia. Lihatlah pesan itu, semua dari kita yang hidup dibumi pertiwi ini sangat merasakan efek dari kata-katanya, kata-kata itu seperti hidup dan menekan setiap pribadi manusia untuk menyerap, menghayati, merenungi kemudian bekerja keras.

Sejak dulu saya ingin sekali menggali kuburannya kemudian membongkar sarafnya untuk memeriksa secara detail setiap sudut sarafnya, inci per inci bahkan sekecil apapun tidak akan saya lewatkan untuk mengambil pelajaran, sebab saya tahu beliau adalah pelajar yang tekun, ketika bertutur sangat fasih dan tidak boros tetapi memiliki makna yang tidak habis untuk di tafsir, di diskusikan dalam waktu yang panjang.

Berangkat dari firman Tuhan bahwa Alqur’an merupakan kata-kata Tuhan (qalam Allah) sebagai Teks tertulis yang menjadi petunjuk bagi manusia, teks ini perlu dibaca dan dimengerti pesannya untuk dipercakapkan dalam kehidupan manusia. Tidaklah berguna sedikitpun teks itu jika tidak dimengerti pesannya, sebab riwayat turunnya firman Tuhan atas gejolak semesta dengan segala hiruk-pikuknya untuk dijawab oleh manusia pilihan.

Manusia pilihan disini hendak di tafsirkan sebagai orang-orang yang memegang teguh kebenaran juga memiliki ilmu sebagai bekal memahami setiap inci persoalan kehidupan manusia.

Nah, disini pentingnya sebuah pendidikan yaitu memberikan kebebasan berpikir, berimajinasi, kemudian membuat ruang dialogis untuk mempercakapkan semuanya dengan melibatkan seluruh unsur yang ada. Segala yang ada pada diri manusia adalah anugerah yang perlu di syukuri, cara mensyukurinya dengan menggunakannya untuk mendapatkan pengetahuan.

Tetapi menjadi lucu, disituasi modern/milenial ini justru segalanya menjadi manja dalam menafsir situasi, bahkan semua dilakukan tergantung kecocokkan perasaan pribadi, jika tidak maka tidak penting untuk dipikir, dipercakapkan bahkan dirubah dalam tindakan.

Ketika kita memasuki ruang pembelajaran, semua serba formal, kaku, berjarak dan membosankan. Belajar seperti tidak memiliki nyawa, tidak heran beberapa memilih keluar mencari angin segar untuk bernafas. Semua dari kita butuh kehidupan, maka pelajaran semestinya menghidupkan seluruh dimensi diri yang kaku dan mati.

Tetapi menjadi sangat lucu, satu pelajaran yang saya selalu berontak untuk mempelajarinya kini menjadi yang lebih penting, yaitu pelajaran bahasa inggris. Pemberontakan itu setelah saya refleksi hanya terletak pada sisi formal, kaku berjarak dan membosankan dalam setiap pertemuan pelajaran itu, bukan terletak pada pelajarannya.s

Semua akan ingat pertanyaan, how are you ? Tentu jawabanya I’m fine, thanks. and you? Format pertanyaan dan jawaban yang monoton sejak menerima mata pelajaran tersebut. Kita seperti tidak memiliki kehendak untuk keluar dari format itu, ruang sekolah menjadi ruang yang tetap formal, kaku, berjarak dan membosankan.

Bukankah kita manusia yang dipenuhi segala anugerah dan potensi untuk dikembangkan ? Formalitas sekolah mengkrangkeng nalar manusia untuk menjadi lebih manusiawi, manusiawi artinya mensyukuri nikmat Tuhan dengan mengasah seluruh potensi kreatif.

Bukankah kehidupan dibumi ini adalah beban misteri hidup yang perlu dijawab dan dipercakapkan ? kenapa pelajaran sekolah tidak dipercakapkan hingga kita semakin bingung dan sejak itu kita semakin mau belajar.

Ketika  how are you ? nalar mendeka akan menjawab I don’t know, kenapa kita tidak dibolehkan menjawab demkian ? menjawab keluar dari kebiasaan kaku, berjarak dan membosankan sebelumnya. Bukankah itu sebuah pretasi manusia dalam mengambangkan nalar, saya juga berpikir itu akan merawat kemerdekaan pikiran manusia yang belajar sehingga dia lebih berani berpikir melampaui sezamannya dalam berpikir. Hal seperti ini dibutuhkan bimbingan serius dan berkelanjutan.

Penting membimbing generasi dengan warisan-warisan pikiran para tokoh kebangsaan Indonesia sebagai pemikir bebas, pikiran-pikiran bebas itu perlu dipercakapkan dalam ruang-ruang kelas. Itulah kontribusi terbesar kemerdekaan bangsa ini.

Warisan pikiran Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Agus Salim, Cokroaminoto, Nurcholis Madjid(Cak Nur), Abdurrahman Wahid(Gus Dur), Buya Hamka, Buya Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Soe Hok Gie. Pikiran KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah perlu merasuki seluruh generasi yang sekolah di Muhammadiyah, semua itu penting untuk diajari sehingga generasi tidak lupa latar pikir tanah air dan bangsanya.

Dari sini sebetulnya perlu menjadikan pancasila sebagai teori-teori besar yang dipercakapkan dalam ruang dialektis akademis, ini bukan saja rumusan filsafat yang keluar dari mulut sang filsuf Soekarno tetapi nyawa kehidupan seluruh manusia di nusantara yang dirumuskan dalam ideology Negara.

Semoga Tuhan memberi petunjuk terbaik. Aamiin…

Oleh: Muhammad Akbar A.
Direktur Akar Institute

Leave a Reply