Al-Isra Wal-Mi’raj: Harapan itu Ada

Oleh: Imam Shamsi Ali

“Allahumma baarik Lanaa Rajab wa Sya’baan wa ballighna Ramadan”.

Doa di atas adalah doa yang sangat disunnahkan (masnuunah) oleh Rasulullah SAW di saat memasuki bulan Rajab. Intinya memohon kepada Allah agar diberkahi dengan tibanya bukan Rajab, yang diikuti oleh Sya’ban, lalu kemudian tiba Bulan suci Ramadhan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa doa ini secara khusus dipanjatkan untuk ketiga bulan ini? Kenapa bukan Muharram di mana Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah? Atau Dzulhijjah di mana jutaan umat Islam menjalankan ibadah haji?

Jawabannya adalah karena di ketiga bulan ini pintu-pintu keberkahan itu terbuka lebar. Doa yang dipanjatkan itu sebagai konfirmasi dan affirmasi dari keberkahan-keberkahan yang ada di bulan-bulan tersebut.

Kali ini akan melihat satu bentuk keberkahan yang Allah secara khusus persiapkan bagi hamba-hambaNya di bulan Rajab. Tidak saja bahwa bulan Rajab adalah masa terbaik untuk memulai persiapan-persiapan memasuki bulan suci Ramadan. Bulan di mana seharusnya proses pensucian jiwa (Tazkiyah) dimulai. Proses tazkiyah itu efektinya dimulai dengan proses “al-inaabah” (kembali) ke jalan Tuhan dengan intensifikasi “istighfar” (memohon ampunan).

Hanya dengan proses tazkiyah itu hati menjadi bersih. Dan hanya dengan hati uang bersih ibadah-ibadah yang nantinya dilakukan selama Ramadan akan menjadi energi perubahan dalam kehidupan.

Hati yang penuh kotoran dan najis tidak akan menyatu dengan kesucian langit. “Laa yamassuhu illa al-muthohharun” (Al-Quran tidak akan tersentuh kecuali oleh mereka yang bersihkan”. Artinya kesucian Al-Quran itu tidak akan tersentuh kecuali mereka yang suci jiwanya. Atau kesucian (petunjuk) Al-Quran tidak akan menyentuh (menunjuki) kecuali orang-orang yang “hatinya” bersih.

Al-Isra wal-Mi’raj

Dari sekian banyak pintu-pintu barokah di bulan Rajab ini, barangkali barokah terbesarnya adalah adanya sebuah malam di mana Rasulullah SAW “diperjalankan” dalam perjalanan uang penuh hikmah dan makna. Itulah yang dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Al-Isra wal-Mi’raj Rasulullah SAW.

Seringkali, disadari atau tidak, terjadi pergumulan intelektual di antara orang-orang Islam, khususnya kalangan intelektual, tentang perjalanan di malam hari ini. Bahkan pergumulan itu kerapkali terjadi dalam diri sendiri. Benarkah itu terjadi secara fisik? Atau itu mimpi seorang nabi, dan mimpi bagi nabi adalah haq (benar).

Ataukah Isra dan Mi’raj itu adalah ungkapan peristiwa yang lebih bersifat majazi (non literal)?

Saya tidak pada posisi menyalahkan penafsiran siapapun, selama masih mengimani wujudnya. Apapun pemahamannya selama masih meyakini bahwa informasi qur’ani itu benar adanya. Yang berbera kemudian hanya bagaimana “kaefiyah” (bentuk) peristiwanya.

Hanya satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa perjalanan ini bukan manusiawi, bukan Muhammad yang berjalan. Tapi perjalanan Rabbani, di mana Muhammad diperjalankan. Maknanya adalah bahwa Muhammad tidak lebih dari “objek” dari kekuatan yang Maha tidak terbatas.

Itulah makna dari “Subhana” (Maha Suci Allah). Sebuah ungkapan yang hanya terungkap ketika bersentuhan dengan sesuatu yang ada di luar atau di atas daya nalar manusia.

Maka “subhana Alladzi asraa bi ‘abdihi” (Maha Suci Dia yang memperjalankan hambanya di malam hari) merupakan statemen yang tegas bahwa peristiwa ini tidak ada keraguan padanya. Meragukan peristiwa ini bisa berarti meragukan kekuasaan Allah yang tiasa batas.

Challenges turn opportunities

Ungkapan ini seringkali saya sampaikan di mana-mana. Bahwa di balik setiap tantangan dan kesulitan itu selalu tersembunyi solusi dan kemudahan. Ungkapan ini bukan kesimpulan pribadi saya. Tapi penegasan Ilahi dalam KitabNya: “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.

Peristiwa Al-Isra wal-Mi’raj dilalui oleh berbagai kesulitan dan tantangan yang terjadi dalam perjalanan dakwah baginda Rasul SAW. Keputus asaan kaum musyrik Mekah ketika itu untuk menghentikan pergerakan dakwah Rasulullah SAW menjadikan mereka memboikot Bani Hasyim (keluarga baginda Nabi SAW).

Masa-masa tersulit itu diikuti pula oleh peristiwa yang benar-benar menyedihkan bagi Rasulullah SAW secara pribadi, maupun secara misi sangat menyedihkan. Berapa tidak, dua orang terdekat beliau; Khadijah isteri tercinta dan Abu Tholib paman tercinta beliau meninggal dunia.

Di saat-saat tantangan dakwah yang semakin memuncak itu, dua sosok yang dianggap benteng pertananan Rasulullah SAW meninggalkan beliau.

Khadijah adalah sosok wanita, bukan saja isteri Rasulullah SAW. Tapi sahabat perjuangan dari awal, dan benteng internal yang paling terpercaya.

Sementara itu Abu Tholib memang bukan Muslim. Tapi beliau adalah simpatisan dakwah yang luar biasa. Cintanya kepada Rasulullah SAW tidak kurang dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri, serti Ali. Rasulullah pun cinta kepadanya bagaikan ayahnya sendiri. Abu Tholib dianggap sebagai benteng eksternal perjuangan Rasulullah SAW.

Dengan tiadanya kedua benteng pertahanan itu dan dit tengah memuncaknya resistensi kaum musyrik Mekah, Muhammad (SAW) sebagai manusia merasakan masa-masa seolah dunianya telah selesai. Pandangan mata beliau seolah buram, tiada lagi cahaya harapan ke depan. Seolah-seolah perjuangan itu telah menemukan lobang lahadnya, terkubur selamanya.

Di tengah suasana kemanusiaan yang mengalami kegelisahan, kesedihan, bahkan kekhawatiran itu, Allah kembali menunjukkan: “maa wadda’aka Rabbuka wa maa qalaa”. Bahwa Tuhanmu tidak akan pernah meninggalkanmu, apalagi membencimu” (Al-Quran).

Allah SWT memutuskan untuk mengangkatnya ke atas. Iya ke atas di ketinggian langit. Di langit tertinggi untuk bertemu dengan Yang Maha Tinggi.

Inilah barokah tertinggi bulan Rajab. Bulan yang disiapkan untuk menemukan ketinggian langit tengah rendahnya bumi. Menemukan kemuliaan dan pertolongan samawi dalam menghaapi tantangan dan kesulitan bumi.

Semoga kesulitan dan berbagai masalah yang kita hadapi saat ini dihadapi dengan wawasan optimisme itu membuka pintu-pintu barokah itu. Bahwa dengan keyakinan akan kekuasaan dan kekuatan langit yang tiada batas, semua permasalahan ada solusinya. Dan di balik semua kesulitan ada kemudahan.

Tentu dalam konteks ke Indonesiaan kita jangan pernah terbawa arus fiksi jika Indonesia akan bubar. Ambillah itu sebagai “dzikra” (peringatan) yang tidak perlu menumbuhkan pessimisme yang berlebihan. Mungkin momentum pilkada maupun pilpres adalah cara terbaik merespon prediksi itu. Dengan pilkada dan pilpres semua anak-anak bangsa perlu membangun kesadaran dan pintar menentukan pilihannya.

Karena wajah pemerintah boleh jadi wajah rakyat. Bukankah memang, dalam dunia demokrasi rakyatkah yang menentukan bagaimana wajah pemerintah, sekaligus wajah bangsa dan negara ke depan? Semoga!

(15 April, Jeddah, KSA)

Leave a Reply