Pelajaran Penting untuk Penumpang Ojek Online

Penumpang Ojek

Penumpang Ojek

PANRITA.News – Pembeli adalah raja, slogan ini masih sering muncul dalam keseharian kita termasuk dalam transportasi ojek online atau biasa disebut ojol. Banyak yang masih beranggapan penumpang adalah raja, sehingga apa yang dimau penumpang si abang ojol harus menuruti. Ditambah penumpang merasa telah membayar maka mereka harus dilayani dengan maksimal.

Masalah pelayanan prima memang sudah jadi tanggung jawab driver ojol. Namun ada beberapa hal yang seharusnya penumpang perlu ketahui dan perlu adanya edukasi agar sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak. Berikut beberapa edukasi yang perlu terus dilakukan kepada penumpang:

Pertama, keselamatan. Banyak penumpang yang masih tak mau pakai helm, bukan karena helmnya bau ya, tapi karena malas dengan alasan jarak dekat atau rambut masih basah. Harap maklum habis keramas katanya.

BACA JUGA: Demo Tolak Transportasi Online Ricuh

Kedua, tujuan. Masih banyak penumpang yang turunnya tak sesuai dengan tujuan awal. Namun ini masih dimaklumi karena kebanyakan lokasi tujuan mereka belum terdeteksi oleh map.

Ketiga, lokasi penjemputan. Perlu diketahui di berbagai kota masih banyak polemik tentang ojek online. Alhasil banyak tempat yang dilarang bagi driver ojol menaikkan atau mengambil penumpang. Hal inilah yang paling jarang diketahui penumpang dan ini juga menjadi buah simalakama bagi para driver, jika mereka ambil bisa ketangkep sopir angkot atau ojek pangkalan, jika tak diambil bisa mengurang persentase performa

Kita ambil contoh di daerah Kota Malang, ada beberapa zona yang ojol dilarang ambil penumpang seperti di stasiun, terminal, pasar atau mall banyak bukan. Jika penumpang tetap ingin naik ojol, maka disarankan untuk berjalan ke gang terdekat dari lokasi larangan. Sayangnya banyak penumpang dan tak tahu atau tak mau tahu, mereka hanya mau naik di depan stasiun atau terminal. Tahukah anda jika driver ojol ketahuan mengambil di tempat larangan tadi maka dia harus menyerahkan sim atau ktp, dan mereka harus menebusnya dengan membayar 100-200 ribu padahal tarif ojek nya hanya 10 ribu.

Untuk masalah terakhir ini seharusnya para co aplikasi seperti gojek, grab dll harus juga mengedukasi penumpangnya. Selama ini hanya driver yang mendapat edukasi, sedangkan penumpang sebagai pemakai aplikasi tidak diberi edukasi juga. Jangan hanya info promo saja yang diberikan. Kasihan para driver yang harus deg-degan setiap ada orderan dari zona larangan. Semoga bermanfaat. (kompasiana)

Tinggalkan Komentar