Makassar, PANRITA.News — Pencarian korban Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Selayar akhirnya membuahkan hasil.
Sejak tenggelamnya KLM Nurul Salsa pada Rabu 15 Juli lalu, lima korban kembali berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.
Korban terombang-ambing dan mampu bertahan menggunakan rompong selama kurang lebih empat hari sejak tenggelamnya KLM Nurul Salsa.
Perjuangan lima korban akhirnya terbayarkan setelah empat hari mengapung di laut. Mereka bertahan menggunakan rompong nelayan hingga terdampar dan ditemukan di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Basarnas menerima informasi jika kelima korban telah ditemukan di sekitar Pulau Matallang, Kabupaten Pangkep sekitar pukul 18.10 Wita pada Sabtu (18/7/2026).
Kasi Ops Basarnas Makassar Andi Sultan mengatakan bahwa kelima korban tersebut ditemukan oleh KMN Sinar Matoanging 04.
Adapun kelima korban yang ditemukan selamat masing-masing bernama Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Asseng (23), Ardita (17), dan Diska (7).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar mengatakan korban terombang-ambing di laut selama empat hari. Mereka bertahan hanya dengan berpegangan pada rompong nelayan.
“Kemampuan para korban bertahan hidup dengan berpegangan pada rompong nelayan menjadi faktor penting hingga akhirnya mereka berhasil ditemukan oleh kapal yang melintas di sekitar lokasi,” kata Arif dikutip Minggu (19/7/2026).
Kelima korban pun langsung dievakuasi ke daratan. Selanjutnya mereka akan menjalani perawatan untuk memastikan kondisi kesehatannya.
“Penemuan ini menjadi penyemangat bagi seluruh unsur SAR gabungan yang masih terus melaksanakan pencarian terhadap korban lainnya. Kami berharap masih ada korban lain yang dapat ditemukan dalam kondisi selamat,” tambahnya.
Polisi juga telah mengungkap hasil pemeriksaan terhadap nakhoda KLM Nurul Salsa bernama Marlin. Nakhoda mengakui telah memaksakan diri untuk berlayar di tengah cuaca buruk hanya dengan menggunakan satu mesin.
“Dia tahu cuaca lagi buruk dan dia juga tahu kapal itu pernah mengalami kebocoran, hanya sudah diperbaiki. Saat diperiksa dia mengakui dan menyadari kesalahannya,” ujar Kasat Polairud Polres Kepulauan Selayar Iptu Amad Soedachlan, Sabtu (18/7/2026).
Amad menjelaskan, saat kejadian, wilayah perairan Selayar sedang memasuki musim timur dengan kondisi angin kencang dan gelombang tinggi. Dalam kondisi tersebut, kapal seharusnya tidak dipaksakan berlayar.

Comment