Dipandang Biasa atau Menginspirasi: Ke Mana Arah PAN Sulawesi Selatan?

Bupati Gowa sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulawesi Selatan, Husniah Talenrang

Bupati Gowa sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulawesi Selatan, Husniah Talenrang

Oleh: Syamsul Bahri Majjaga

Husniah Talenrang, Bupati Gowa sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulawesi Selatan, hari ini berdiri di antara dua janji yang sama-sama menuntut penuntasan. Dua janji politik yang tak bisa dinegosiasikan oleh waktu, dan tak bisa diselamatkan oleh retorika.

Di ruang publik, gestur politik Husniah Talenrang memang belum sepenuhnya terbaca. Modal simboliknya masih samar, bahkan nyaris tak berjejak kuat. Namun justru dari ruang itulah ia memilih satu langkah berani: mengambil posisi politik baru sebagai Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan. Sebuah keputusan yang, bagi sebagian orang, terlalu dini. Bagi sebagian lain, justru terlalu berisiko.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah Husniah Talenrang mampu. Pertanyaannya lebih mendasar: akankah ia menjelma sebagai pemimpin perempuan yang bersinar di panggung politik lokal, atau sekadar menjadi catatan kaki dari ambisi yang berlari lebih cepat dari kedewasaan simboliknya?

Jawaban atas pertanyaan itu bukan hanya akan menentukan nasib pribadi Husniah Talenrang. Ia akan menjadi bukti hidup apakah kepemimpinan perempuan sungguh mampu menjadi solusi dari kebuntuan demokrasi lokal, atau justru terjebak dalam pusaran ekspektasi yang tak terkelola.

Namun jangan terburu-buru menaruh harapan. Di sisi jalan politik yang ia tempuh, terdapat jurang sunyi yang kerap menelan politisi muda: citra ambisius yang kehilangan arah, bukan karena niat buruk, melainkan karena kompas kebijaksanaan yang belum sepenuhnya matang.

Semua ini memang masih sebatas kemungkinan. Bisa terjadi, bisa juga tidak. Tetapi ada satu hal yang hampir pasti: dua janji yang melekat pada dirinya akan menuntut konsekuensi berkelanjutan bila salah satunya gagal ditunaikan.

Janji pertama adalah janji sebagai Bupati Gowa. Jika gagal, bukan hanya program yang akan dilupakan, melainkan seluruh narasi tentang dirinya akan terkubur perlahan dalam ingatan warga. Politik lokal tidak mengenal belas kasihan; ia hanya mengingat hasil, bukan alasan.

Janji kedua adalah janji sebagai Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan. Jika ini yang gagal, maka resistensi internal tak akan datang dalam bentuk kritik terbuka, melainkan dalam bisik panjang kader, barisan yang pasif-agresif, hingga simbol-simbol politik yang berubah menjadi alat delegitimasi. Bukan baliho fisik yang menakutkan, tetapi papan ingatan kolektif yang menempel lama di tubuh partai.

Titik Awal: Jalan Menunaikan Janji

Di Gowa, sebagai Bupati, Husniah Talenrang memang telah bergerak. Program ada, kebijakan berjalan, agenda administratif diproduksi. Namun jujur harus diakui, jejak kepemimpinannya belum sepenuhnya terasa. Bukan karena nihil kerja, melainkan karena kebijakan awal yang diambil belum menjelma menjadi simbol perubahan.

Dalam teori kebijakan publik, Theodore Lowi menyebut bahwa kebijakan bukan sekadar alat administrasi, melainkan pencipta relasi politik. Kebijakan yang tidak melahirkan relasi emosional dengan warga akan berhenti sebagai arsip, bukan sebagai ingatan kolektif.

Pemimpin perempuan yang berhasil, seperti Tri Rismaharini di Surabaya atau Jacinda Ardern di Selandia Baru, menunjukkan bahwa kekuatan mereka bukan semata pada program, melainkan pada keberanian menjadikan empati sebagai bahasa kekuasaan. Di situlah kebijakan berubah menjadi simbol, dan simbol berubah menjadi legitimasi.

PAN Sulawesi Selatan dan Pertarungan Modal Simbolik

Di Sulawesi Selatan, tugas Husniah Talenrang jauh lebih terjal. Sebagai Ketua DPW PAN, ia berhadapan dengan pimpinan partai lain yang telah lama menguasai modal simbolik dan identitas kepemimpinan.

Gerindra memiliki Andi Iwan Darmawan Aras, dengan bonus sebagai partai penguasa dan modal simbolik dari jejaring Himpunan Pengusaha Muda Indonesia dan KADIN. Itu bukan sekadar jaringan ekonomi, melainkan legitimasi sosial yang mapan.

NasDem, dengan atau tanpa figur sentral, tetap pragmatis dan terbiasa bertarung terbuka. Identitas tarung itulah yang tertanam kuat dalam memori kolektif masyarakat Sulawesi Selatan. Golkar bahkan tak perlu dijelaskan: ia adalah memori politik itu sendiri.

PKB berdiri di atas militansi Nahdliyin, jaringan kultural yang solid dan loyal, sebuah modal politik yang tak dibangun lewat baliho, melainkan lewat sejarah panjang.

Lalu PAN dan Husniah Talenrang, akan memilih karakter apa?

Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa dalam politik, modal simbolik menentukan posisi. Tanpa simbol, kekuasaan hanya bersifat administratif. Masalahnya, hingga hari ini, PAN Sulawesi Selatan belum menemukan penanda baru yang bisa dilekatkan pada figur Husniah Talenrang.

Ia belum memiliki modal simbolik yang mapan, dan penanda politik yang membentuk identitas kepemimpinannya juga belum sepenuhnya terlihat. Padahal, dalam politik lokal, jabatan pemerintahan adalah alat penting untuk membangun simbol. Dan membangun simbol bukan pekerjaan instan, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi, keberanian, dan kesabaran strategis.

Opini ini bersifat alarm. Ia tidak lahir dari jarak dingin pengamat, melainkan dari kegelisahan anak muda yang memilih berdiri pada keberanian bersikap. Catatan ini adalah bentuk lain dari keengganan kami melihat keberanian itu gagal di tengah jalan. Terutama bila kegagalan itu bukan disebabkan oleh niat yang keliru, melainkan oleh pilihan bentuk dan momentum yang salah. Politik terlalu mahal untuk diserahkan pada keberanian yang tidak dipandu ketepatan waktu, dan terlalu kejam untuk memaafkan potensi yang tersesat hanya karena salah membaca irama.

Karena itu, catatan ini tidak bersifat kritik, melainkan dorongan. Jika Husniah Talenrang ingin benar-benar menjadi jawaban, maka ia harus berani menunda sorak-sorai dan memilih  dengan tepat kerja politik yang membangun makna. Politik tidak membutuhkan lebih banyak figur yang cepat naik, tetapi pemimpin yang tahu, momentum dan timng ”  sebagai kompas geraknya  agar tidak kehilangan arah. Sejarah hanya mencatat mereka yang bukan sekadar berani melangkah, tetapi juga tahu ke mana dan untuk siapa langkah itu ditujukan.

Pada akhirnya, apakah Husniah Talenrang akan dipandang biasa atau justru menginspirasi, jawabannya tidak sepenuhnya berada di panggung kekuasaan, melainkan di ruang paling sunyi dari nurani dan kedamaian batin seorang Husniah Talenrang.

Comment