Guru Besar UNM Nilai Pidato Prabowo di PBB Jadi Simbol Kepercayaan Diri Indonesia

Pidato di Forum PBB, Prabowo Desak Dunia Akhiri Tragedi Gaza

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tampil di mimbar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Konferensi Tingkat Tinggi Internasional untuk Penyelesaian Damai Palestina-Israel, News York, Senin (22/9/2025) waktu setempat.

Makassar, PANRITA.News — Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Harris Arthur Hedar menilai pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York sebagai simbol meningkatnya kepercayaan diri bangsa Indonesia di panggung dunia.

Menurut Harris, Prabowo tampil tegas, lugas, dan berpihak pada kemanusiaan, khususnya terhadap penderitaan rakyat Palestina.

“Kalimatnya sederhana, tanpa berliku, tapi penuh bobot dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/9/2025).

Prabowo juga mengutip Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai landasan moral, menegaskan bahwa kesetaraan manusia bukan sekadar jargon, melainkan prinsip yang harus diperjuangkan.

Yang menarik, kata Harris, Presiden tak hanya menekankan pentingnya keadilan bagi Palestina, tetapi juga menyebut penghormatan terhadap keamanan Israel.

“Inilah keseimbangan diplomatik yang jarang disampaikan secara terbuka—berpihak pada keadilan tanpa menutup pintu dialog,” tambahnya.

Harris menilai sikap tersebut memperlihatkan Indonesia sebagai jembatan moral yang teguh pada prinsip, namun tetap realistis terhadap dinamika geopolitik.

Pidato yang ditutup dengan salam lintas agama itu, menurut Harris, memberi kesan sederhana namun sarat makna.

“Banyak pihak melihat Prabowo menyuarakan isu Palestina tanpa retorika kosong. Gaya pidatonya tegas sekaligus konstruktif. Ini bukan sekadar seremoni, tapi statement of intent,” tegas Wakil Rektor Universitas Jayabaya itu.

Dalam pidatonya berjudul Seruan Indonesia untuk Harapan, yang berdurasi 19 menit lebih dan disampaikan dalam bahasa Inggris, Prabowo berbicara setelah Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden AS Donald Trump.

Selain soal Palestina, ia juga mengingatkan dunia pada pengalaman panjang Indonesia yang pernah dijajah berabad-abad, menekankan pentingnya solidaritas global atas isu kemanusiaan.

Comment