Jakarta, PANRITA.News – Sore itu kembali bertemu bertempat di Pasar Rumput, Manggarai (Jakarta Selatan). Saya menyapanya dengan nama Kaka AA. Seorang kolega yang sementara menyeleaikan pendidikan doktor di Universitas Indonesia. Sekalipun bukan beasiswa, tapi tetap saja bisa sampai di semester yang proposalnya sudah disetujui.
Kini, sementara bersiap untuk penelitian lapangan. Namun bukan itu yang saya ketikkan kali ini. Beberapa obrolan sore sampai malam, berkisar pada harapan, menulis, dan jejak digital.
Keesokan harinya saya kemudian meneruskan perjalanan ke Kota Malang. Kota yang juga akan tetap abadi sepanjang hayat. Di kota ini, saya selesaikan pendidikan magister. Dari situ menjadi pijakan untuk doktor, dan bahkan di kota yang sama saya mengenal kelanjutan tradisi belajar. Dimana ketika di Ujungpandang saat kuliah sarjana, tidak banyak kesempatan untuk menekun aktivitas membaca dan mendaras.
Saat dalam obrolan bersama Kaka AA, saya juga bekerja multi tasking. Menyimak webinar bersama North Carolina, terkait dengan persiapan studi untuk aplikasi di perguruan tinggi tersebut. Kota di Negara bagian yang sama, tempat dimana saya menyelesaikan musim panas 2023 untuk program J-1, Cherokee.
Baik kota Malang, dan Cherokee, semuanya berkisar tentang harapan. Lahir dan menyelesaikan pendidikan di kampung, Tangkuli (Camba, Maros). Tidak pernah mengenal sama sekali nama-nama itu. Kecuali ada kata Rusia.
Seorang warga yang beprofesi sama dengan ayah saya, sopir. Menyukai jeep, dan sesekali bercerita tentang kesukaannya dengan Rusia. Saya bahkan di pelajaran IPS saat duduk di SD Tobonggae, hanya mengenal Uni Sovyet. Sekalipun menyimak dan juga duduk di bangku SD mengenal nama negara, tak pernah berharap dan bahkan tidak sampai pikiran saya tentang mengunjungi kota-kota itu.
Malam-malam di kampung, sesekali turut menyimak percakapan orang tua. Mereka berkumpul di warung nenek. Sampai kemudian tradisi berkumpul di warung, berganti dengan menonton televisi. Tak banyak yang saya ingat kecuali tentang Rusia tadi.
Salah satu percakapan dalam obrolan bersama Kaka AA adalah tentang seorang penulis yang tetap saja menekuni aktivitasnya sampai ajal dating menjemput. Termasuk saat hari-hari terakhir dalam hidupnya, dimana mendiktekan apa yang menjadi pikirannnya kepada keluarga yang merawat untuk diunggah ke media social.
Semuanya memang tidak mudah, dan itu jalan yang sepi. Tetapi bagi kita yang dilahirkan dengan mandat untuk terus berjuang, maka itu sebuah kemuliaan untuk menjaga tradisi perjuangan itu sampai akhir hayat.
Bahkan tak semua tulisan kemudian wajib diterbitkan. Ada yang tersimpan dan sampai menemukan takdirnya sendiri. Olehnya, apa yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengabadikannya dalam bentuk digital. Sekalipun itu di preprint, sebuah ikhtiar yang sangat bagus.
Namun, kendalanya adalah kalau sampai kemudian bubar karena domain yang tidak diperpanjang lagi. Sehingga perlu menemukan sebuah platform yang diperkirakan akan berumur panjang. Dari Kaka AA pulalah kemudian saya mengenal bahwa ada saja media yang tidak berumur panjang.
Ketika itu terjadi, maka tulisan yang ada, juga turut hilang seiring dengan terkuburnya media tersebut. Maka kebiasaan menulis dan diunggah di media, perlu juga memastikan bahwa media tersebut memiliki jejak rekam yang panjang, dan juga visi untuk dipertahankan sampai ke masa depan.
Termasuk perlunya mengelola website organisasi. Saya mengecek domain organisasi daerah dari mahasiswa Sulsel yang tidak dirawat. Terbiar, dan bahkan khawatir akan hilangnya asset digital yang sudah ada selama ini. Ini terkait dengan biaya domain dan juga ongkos hosting. Jangan sampai, didirikan, lalu rubuh selamanya.
Senyampang ini Hari Pendidikan, Kamis 2 Mei 2024, menjadi relevan untuk mengingat kembali potongan lagu Himne Guru. “Engkau bagai pelita dalam kegelapan”, bagi kita yang sepanjang hayat menjadi murid, maka guru adalah pelita.
Termasuk dengan kawan sekalipun, itu juga dapat menjadi guru. Begitulah sesore itu, sekalipun hanya bercakap di warung kopi, tetap saja dapat menjadi sarana belajar.
Begitu pula sementara menyelesaikan novel Tere Liye yang berjudul “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”. Dalam salah satu halaman, ada catatan wartawan yang sekalipun tidak diterbitkan, dalam perjalannnya kemudian tetap berguna. Dijadikan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dalam sebuah rapat komite.
Saat ini, sata sementara di kereta yang berhenti sejenak di stasiun Solo Jebres. Dinihari perjalanan Jakarta-Kota Malang. Dengan segera membuka laptop untuk mengetikkan ingatan ini, sebagai upaya mengabadikannya. Jangan sampai terlewat, dan setelahnya hilang selamanya.

Comment