Kedermawanan di Kala Ramadan: Masjid, Kampus, dan Amil Zakat

Makassar, PANRITA.News – Secara teologis, diyakini oleh masyarakat muslim bahwa masa-masa Ramadan adalah waktu terbaik untuk menyumbang. Pahalanya akan dilipatgandakan, serta menjadi bagian dalam menerukan aktivita puasa. Maka, kita bisa lihat di sepanjang Ramadan menjadi pemandangan kedermawanan sepanjang Ramadan. Setiap orang berlomba-lomba memberikan sumbangan terbaiknya dalam setiap kesempatan. Riset Abubakar & Bamualim (2006) mendapati bahwa setiap muslim Indonesia selalu berupaya untuk menyumbang, dan telah menyumbang sekalipun itu satu kali.

Terlihat paling tidak ada tiga instrumen yang menggerakkan kegiatan-kegiatan dalam kedermawanan. Pertama, masjid. Seperti Masjid Raya Al-Falah Sragen, dinyatakan dengan status “Masjid Ramah Musafir”. Di masjid ini, setiap waktu berbuka puasa disediakan sebanyak 1.500 paket dengan menu berbeda.

Ini diawali dari masjid yang dikelola profesional. Sehingga menjadi bagian dalam menggerakan budaya “baru”. Tidak saja mengartikulasi dari sebuah budaya ke budaya lainnya tetapi juga menjadi upaya membangun peradaban.

Pengembangan masjid Al-Falah, dengan mengikuti benchmark pada masjid Darut Tauhid (Bandung), dan Jogokariyan (Yogyakarta). Masjid kini dikelola dengan professional berbasis pada kebutuhan jamaah. Di luar Ramadan, setiap hari dalam sepanjang pekan kecuali senen dan kamis disiapkan susu-jahe, dan sarapan bagi jamaah. Ini sebagai bagian layanan untuk mendorong wujudnya kemakmuran masjid.

Di bagian timur Indonesia, kota Sorong. Bertempat di Masjid Al Akbar kota Sorong menjadi pilihan utama tempat berbuka puasa. Kota Sorong (Papua Barat Daya) menjadi tempat bagi perantau untuk mencari pekerjaan. Saat mereka jauh dari keluarga, maka masjid tersedia sebagai tempat berbuka sehingga bisa menjadi penyemangat dan pelipur lara. Masjid-masjid ini hanyalah potret belaka. Betapa semangat dan aktivitas yang sama juga dilaksanakan secara luas di masjid se-Indonesia. Menyambut Ramadan dengan menyemarakkan kegiatan-kegiatan yang mengiringinya sebagai ekspresi beragama. Mulai dari sahur, termasuk di dalamnya membangunkan warga sampai tidur untuk bersiap sahur kembali.

Kedua, kampus. Sejak awal Ramadan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyiapkan nasi kotak untuk makan malam sebanyak 5.000 paket. Mahasiswa, setiap sore sejak pukul 16.00 antri dengan gaya drive-through dilayani dengan rapi dengan menggunakan bantuan teknologi informasi. Sehingga terkelola secara bersama. Keterlibatan tukang parkir, staf keamanan, dan juga bagian katering. Pada hari pertama, Rektor UMY langsung turut membagikan makanan bagi yang hadir dalam acara tersebut.

Paduan masjid dan kampus menggelar kegiatan Kajian Ramadan dengan menyiapkan takjil dan makan malam di Masjid Ahmad Dahlan UMY. Semuanya terbuka untuk mahasiswa dengan dukungan dari LazisMU. Bahkan kantor lembaga amil zakat ini, ditempatkan di masjid. Sehingga pengumpulan dana infaq masjid, dikelola dengan pendampingan lembaga amil zakat.

Masjid Jogokariyan, Masjid Sheikh Zayed (Solo), Masjid Al Markaz Al Islami Jendral Jusuf (Makassar) diantara masjid yang juga secara khusus menyiapkan aktivitas berbuka puasa selain takjil, tetap menyiapkan makan malam. Program yang sama digunakan di masjid warga perumahan Pertamina Kota Sorong. Makan malam disiapkan dengan prasmanan. Ini menjadi wadah dalam memberikan bantuan bagi masyarakat Kokoda untuk menikmati kegembiraan selama Ramadan.

Terakhir, amil zakat. Jika di Muhammadiyah, ada LazizMU. Sementara organisasi keagamaan, dan juga lembaga nir-laba lainnya mendirikan institusi untuk menjadi amil zakat. Untuk organisasi “plat merah” ada Baznas. Kesemuanya menjadikan Ramadan sebagai bulan panen pahala. Menyemarakkan Ramadan dengan pengumpulan dana dan distribusi dari apa yang dikumpulkan kembali ke masyarakat.

Tidak saja dalam Ramadan. Sebelum itu, merespon penyerangan Gaza oleh Israel, amil zakat bersama-sama mengumpulkan donasi. LazisMU mengumpulkan 18 milyar. Sementara Baznas mendapatkan angka 20 milyar. Ini menunjukkan wujudnya soliditas kelembagaan dalam menggerakan filantropi masyarakat.

Dompet Dhuafa mengelola mobil yang juga menjadi dapur dengan nama darling (dapur keliling). Dengan mobil-dapur ini, maka hidangan yang dimasak bersama kemudian dinikmati untuk menjadi hidangan berbuka puasa.

Keberadaan instrumen-instrumen ini selain melayani umat (Latif, 2010) dan sebagai bagian dalam pengentasan kemiskinan (Latif, 2013). Sementara itu, Fauzia (2017) menyatakan bahwa lembaga filantropi justru berperan lebih luas. Bahkan memberikan rasa keadilan social bagi masyarakat. Senada dengan itu, temuan Benthall (2016) menjelaskan aktivitas kedermawan ini mengkonfirmasi bahwa semangat kemanusiaan menjadi pendorong wujudnya solidaritas.

Perayaan Ramadan sejatinya menjadi kesempatan untuk berbagi. Dirayakan dengan kedermawanan dan kepedulian terhadap sesama. Kesemarakan ini, sebagai tanda juga bahwa Ramadan dijalani dengan senantiasa tetap memupuk rasa-rasa kemanusiaan.

Comment