Enrekang, PANRITA.News – Lansia itu namanya Efendy, usianya sudah, 72 tahun. Kulitnya mulai mengeriput, kurus nan hitam ‘terbalar’ matahari. Maklum, mantan pensiunan ini, bergelut dengan tanah liat, lumpur sejak pensiun dari sebuah jawatan pegawai negeri sipil di Enrekang..
Ketika penggusuran lahan garapan, pekan lalu di lahan transmigran, ia termasuk salah satu yang masuk lahan tanamannya digusur.
Padahal, akunya, ia kerabat dari bupati yang saat ini berkuasa, dan berasal dari wilayah yang sama bernama Duri. Maklum, kawasan yang digusur itu, adalah kebanyakan lahan trasmigran, namun penghuninya bukan dari asal luar kabupaten Enrekang, tetapi semuanya dari Duri yang terdiri dari beberapa kecamatan. Di zaman bupati H Iqbal Mustafa, Efendy bersama ratusan warga Duri pindah di Kecamatan Maiwa—lahan trasmigran, red yang telah dihuninya selama 20 tahun.
Saat penggusuran lahan garapan beberapa pekan lalu di wilayahnya Efendy sangat terpukul, karena semua tanamannya sudah diratakan dengan tanah, antara lain, merica yang jumlahnya 500 ratus pohon, cengkeh sekitar 150 pohon, rambutan 30 pohon, kayu mahoni sekitar 20 pohon, dan pohon aren sebanyak 15 pohon. “Tak ada yang tersisa, pa,” akunya kepada media ini.
Dengan nada suara rendah, namun tatapan matanya masih tajam, ia mengaku tidak tahu lagi bagaimana mencari makan di usianya yang sudah senja. Meskipun, kata Efendy masih mendapat uang pensiunan tiap bulan, namun itu tidak cukup. Ia harus menghidupi anak istrinya yang tinggal di gubuk reot.
Lain lagi kisah Rustam, pria paruh baya yang paling terpukul atas ulah PTPN XIV yang memusnahkan tanamannya. Ia mengaku tanaman mericanya berjumlah 1.200 pohon, dan sebagian besar sudah produksi. Selain merica, pohin cengkeh yang berjumlah 500 pohon yang juga sudah produksi. “Sangat sedih, dan terpukul, pak, akunya, Senin, 31 Januari kepada wartawan media ini. Jika ditaksasi, nilai kerugian yang dialami di atas 60 jt. Hitungannya sederhana, harga merica sekarang 65.000/kg, dan ia mengaku jika musim panen merica 2 kali dalam 1 tahun, belum lagi panen cengkehnya yang semestinya bisa dipanen sekitar Juli sampai September. Asumsi harga cengkeh 115.000/kg. Ia mengaku untuk panen merica biasa mendapat hasil penjualan 30 sampai 40 juta, belum teemasuk hasil panen cengkeh.
Senada dengan Rustam, bu Ratna juga mengalami nasib yang sama. Pohon rambutan yang diperkirakan bisa panen bulan 3, kini tak bersisa. Betapa beratnya menjadi korban penggusuran lahan dan rumah, akunya.
Begitulah, kisah pilu yang menggugah nurani. Warga korban penggusuran berharap akan adanya keadilan, karena nasib mereka terlunta-lunta.
“Tak tahu harus mengadu kemana lagi pa,” ketus ibu Aminah kepada media ini.
Penelusuran di lapangan, korban penggusuran umumnya sudah tua renta, sebagian dsri tukang becak, tukang kayu, tukang batu yang mengadu nasib di lahan terlantar.

Comment