Fakta-fakta Minyak Goreng, No 4 Bikin Terenyuh

Minyak goreng curah kemasan plastik

Minyak goreng curah kemasan plastik

Makassar, PANRITA.News – Harga minyak goreng yang mulai meroket sejak akhir 2021 membuat masyarakat resah.

Kenaikan terus terjadi hingga sempat menembus harga Rp 47 ribu per kemasan dua liter.

Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan minyak goreng 14 liter. Namun dibalik itu, berikut fakta-fakta menarik terkait dengan minyak goreng.

1. Pasar diguyur 1,2 miliar liter minyak goreng

Upaya menurunkan harga gencar dilakukan pemerintah sejak awal 2022. Pemerintah bahkan menyiapkan 1,2 miliar liter untuk menstabilkan harga minyak di pasar.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan minyak goreng itu bakal digelontorkan dalam operasi pasar tambahan sesuai dengan arahan Presiden RI Joko Widodo.

Kementerian BUMN dan PTPN gencar melaksanakan operasi pasar tambahan.

2. Mendag menjamin harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter

Menteri Pedagangan Muhammad Lutfi juga meluncurkan program minyak goreng satu harga yakni Rp 14 ribu per liter.

Program yang bekerja sama dengan Holding BUMN ID Food itu diluncurkan pada Rabu (12/01).

Lutfi menjelaskan program ‘Migor 14 Ribu’ diharapkan terus mempertahankan penerimaan devisa kelapa sawit yang harganya sangat baik di pasar internasional.

3. Fenomena panic buying

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia membeberkan fenomena panic buying minyak goreng Rp 14 ribu terjadi di sejumlah daerah.

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi menyebut perilaku masyarakat disinyalir karena pemerintah salah strategi dalam intervensi harga minyak goreng.

Tulus menilai panic buying minyak goreng merupakan kegagalan pemerintah dalam membaca perlaku konsumen Indonesia.

4. Minyak goreng Rp 14 ribu mulai langka

Dua pekan sesuai program minyak goreng Rp 14 ribu bergulir stok makin tipis di ritel modern.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkap penyebab minyak goreng subsidi seharga Rp 14 ribu per liter di ritel menipis.

Ketua Umum Apindo Roy N. Mandey mengatakan ketersediaan terbatas minyak goreng di sebagian gerai ritel dipicu kendala pasokan.

“Banyak gerai yang belum memperoleh kembali pasokan dari distributor sejak akhir pekan lalu,” ujar Roy, Selasa (25/01/2022).

5. Ekonom nilai subsidi minyak goreng Rp 14 ribu tak tepat

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai subsidi minyak goreng satu harga Rp 14 ribu tidak tepat.

Bhima mengungkapkan kesalahan utamanya terletak pada model subsidi terbuka sehingga antara alokasi subsidi dan permintaan tidak berimbang.

“Pasti akan over demand dan habis di pasaran,” ungkap Bhima.

Menurut Bhima penyaluran minyak goreng tidak dilakukan melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) tetapi subsidi kepada perusahaan minyak goreng.

“Ketika subsidi minyak goreng dilakukan melalui retail modern pasti tidak mencapai masyarakat kelas bawah yang notabene berbelanja di pasar tradisional,” ucap Bhima

Tinggalkan Komentar