Fakta-fakta di Balik Penyerangan LK II HMI Cabang Polman

Pengurus HMI Cabang Polman menggelar jumpa pers terkait penyerangan kegiatan Latihan Kader II HMI.

Polman, PANRITA.News – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar (Polman) menggelar jumpa pers terkait insiden penyerangan kegiatan Intermediate Training atau Latihan Kader II HMI Cabang Polman pada Sabtu (20/2/2021) lalu.

Insiden tersebut mengakibatkan beberapa mahasiswa dari kader HMI mengalami luka dan kerusakan pada fasilitas kampus.

“Agar semua bisa lebih jernih, tidak ada lagi opini serta tanggapan tak mendasar, kami dari pengurus HMI dan Tim Hukum memberi tanggapan sebagai tindak lanjut atas Pengeroyokan dan/atau Penganiayaan yang dilakukan kader-kader PMII terhadap kader HMI,” kata Ketua Umum HMI Cabang Polman Heri Dahnur Syam dalam jumpa pers di Lokasi LK II, Hotel Suci Wonomulyo, Polman, Selasa (23/2/2021).

Pada kesempatan itu, Heri Dahnur Syam yang didampingi tim hukum menjelaskan secara detail fakta-fakta serta kronologi penyerangan Kegiatan HMI tersebut.

“Pertama saya ingin mengklarifikasi statemen dari pihak kampus yang mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa yang menyewa gedung adalah HMI, mereka mengira bahwa yang menyewa adalah Mahasiswa bukan HMI,” ujar Heri.

“Per tanggal 15 februari 2021, kami menyerahkan surat penyewaan gedung yang di lengkapi dengan kop Lembaga HMI Cabang Polman serta stempel basah Panitia Intermediate LK II kepada pihak kampus yakni Bapak Solihin kemudian diteruskan kepada pimpinan kampus , akhirnya pada tanggal 16 februari 2021 kami membayar uang muka penyewaan gedung, dilengkapi dengan kwitansi yang berstempel basah berlogo kampus Unasman ditandatangani oleh Ibu Khadija. Dengan catatan bahwa Segera melunasi kesisahan sewa gedung, Tidak memasang atribut organisasi serta Kami meminta juga tidak ada bendera lain yang terpasang dan akhirnya kamipun bisa menempati gedung,” ungkap Heri.

“Namun per tanggal 18 februari 2021, pada malam hari di depan gedung aula yang kami sewa , telah berkibar bendera PMII. Selanjutnya per tanggal 19 februari 2021 pada malam hari, bendera mereka masih terus ada disana, bahkan pada saat kami sedang mempersiapkan semua perlengkapan di lokasi. Sementara dalam perjanjian tidak boleh ada bendera ekstra kampus yang berkibar,” lanjut Heri.

Heri menegaskan, bahwa menjelang pembukaan kegiatan, pihaknya masih terus berkoordinasi kepada pihak kampus dalam agar memberi konfirmasi kepada PMII untuk memindahkan benderanya, akan tetapi sampai mereka mendapati foto booth dan beberapa dekorasi kegiatan HMi telah diporak-porandakan, belum ada pihak yang datang memindahkan bendera tersebut.

“Beberapa jam menjelang acara kami pun memasang atribut di sekitaran lokasi kegiatan namun beberapa menit berselang puluhan kader PMII secara membabibuta memasuki gedung dan memporak-porandakan kursi, merobek baliho dan merusak dekorasi yang telah kami susun secara susah payah,” ucap Dia.

“Kami yang pada saat itu hanya berjumlah kurang lebih 8 orang dengan beberapa Kohati akhirnya mencoba Berbicara apa yang mereka inginkan, tetapi massa yang datang dengan brutal, bermaksud merusak tak bisa kami redam dan akhirnya melakukan pengroyokan terhadap kader HMI,” jelasnya lagi.

Dalam insiden tersebut, Heri menyebut sebanyak 3 anggota HMI mengalami luka-luka di bagian kepala dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Lebih lanjut, Heri juga memberikan tanggapan terkait atribut yang terpasang di Kampus Unasman.

“Seharusnya, kalaupun seandainya kami tidak di izinkan memakai Gedung Aula Unasman, bukan kader PMII yang harusnya melarang kami melainkan pihak Kampus dalam hal ini pihak keamanan Kampus jika memang kami melanggar kesepakatan,” tegasnya.

Berdasarkan penjelasan itu, Heri bersama tim hukum menuntut dan mendesak Polres Polewali Mandar agar dalam waktu kurang lebih 4×24 jam menangkap para pelaku pengroyokan untuk di proses secara tegas sesuai hukum.

“Meminta Kepada polres polman untuk segera membentuk tim gabungan pencari fakta untuk mengungkap siapa dalang atau aktor utama insiden ini,” ujarnya.

HMI juga meminta kepada pihak kampus Unasman untuk mengklarifikasi atas insiden yang terjadi karena diduga adanya komunikasi bersayap yang dilakukan oleh humas Unasman.

Selain itu, meminta kepada HMI Badko Sulsebar dan Pengurus Besar (PB) HMI untuk bersikap serta menginstruksikan kepada seluruh pengurus HMI Cabang se Indonesia agar ikut menyuarkan insiden penyerangan ini.

“Apabila permintaan dan tuntutan ini tidak di indahkan maka akan dilakukan upaya upaya lain yg tidak bertentangan dengan hukum,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar