Ahli: Tanpa Vaksin, Social Distancing Bisa Sampai 2022

Ilustrasi Social Distancing

Ilustrasi Social Distancing © Freepik

Yogyakarta, PANRITA.News – Ahli Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad berpendapat masyarakat harus mulai beradaptasi di tengah penyebaran virus corona atau Covid-19 sampai beberapa waktu ke depan, karena pandemi Covid-19 ini bisa berlangsung cukup lama.

Bahkan menurut Riris, Social Distancing sebagai salah satu upaya untuk menghambat penularan Covid-19 bisa saja berlangsung hingga 2022 jika belum ditemukan vaksinnya.

“Social distancing itu akan bisa sampai tahun 2022, kecuali kalau kita bisa mendapatkan vaksin yang bisa memproteksi seluruh populasi sekarang,” ujar Riris di Yogyakarta seperti dikutip dari CNNIndonesia, Kamis, (23/4/2020).

Disamping itu, Riris menegeskan bahwa rapid test atau tes cepat perlu diperluas untuk mendeteksi masyarakat yang terpapar virus corona.

Menurut Riris, rapid test penting dilakukan untuk memastikan orang dengan kategori ODP, OTG, ataupun PDP dipisahkan dari populasi. Langkah tersebut untuk mencegah penularan virus corona yang lebih luas.

Selain itu, pemerintah juga harus memperketat isolasi diri kepada masyarakat yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

“Kita harus lebih mengintensifkan screeening mandiri, kalau memang kapasitas diagnosis kita masih terbatas,” jelasnya.

Kendati demikian, Riris mengungkapkan jika mata rantai penularan virus corona bisa diputus sekarang, hal itu tidak serta-merta sudah aman karena sebagian besar populasi masih mungkin terinfeksi.

“Ketika virus itu sudah ada di mana-mana, dan kita tidak mungkin bisa menutup sama sekali mobilitas, maka dari waktu ke waktu itu bisa menjadi sesuatu yang bisa muncul kembali,” imbuh Riris.

Lanjut, Riris menjelaskan soal transmisi lokal atau penularan dari generasi pertama ke generasi kedua sudah terjadi di semua kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ia pun mencontohkan dua kasus positif yang dialami oleh ibu rumah tangga dan pensiunan di Yogyakarta. Secara mobilitas, dua pasien tersebut bisa dikatakan sangat terbatas, dan jejaring sosialnya juga kecil.

“Jadi dia bisa dapat dari lingkungannya yang dia sendiri tidak tahu bahwa orang itu sakit atau tidak. Itu menjadi indikasi sudah ada penularan yang meluas, tetapi tidak tahu penularannya ada di mana,” ujarnya.

Riris menambahkan dari 75 kasus terkonfirmasi positif di DIY per 22 April, 51 di antaranya merupakan kasus yang mempunyai riwayat perjalanan dari zona merah di luar DIY, baik itu dari dalam maupun luar negeri.

“Dari 51 kasus tersebut, kami mencatat ada 10 orang yang menularkan pada 12 kasus baru yang ini disebut sebagai generasi kedua. jadi ini adalah yang tercatat sebagai penularan lokal pertama,” jelasnya.

Namun demikian, kata Riris, penularan lokal sifatnya terbatas karena masih dari kasus impor ke kasus orang pertama yang tertular. Kemudian dari situ baru muncul tiga kasus yang merupakan generasi ketiga.

“Kalau kemudian itu menjadi sangat luas, maka ini akan menjadi problem besar,” ujarnya.

(CNN Indonesia)

Tinggalkan Komentar