Surat Terbuka: 14 Hari Menuju Ramadhan, Corona Pasti Berlalu

Ilustrasi Masjid.

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera Untuk Kita Semua. Bulan suci Ramadhan, yang oleh kita umat Islam diyakini sebagai bulan yang penuh dengan kemuliaan, bulan dimana seluruh amal ibadah akan dilipat gandakan, bulan dimana ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan dan masih banyak lagi keutamaan yang lainnya.

Bagi saya dan kita semua yang beraga Islam, saat ini tentu dilingkupi perasaan yang was-was dan perasaan sedih karena Ramadhan tahun ini nampaknya akan kita lalui dengan dengan suasana yang berbeda sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Tarwih, buka puasa bersama, nuzulul qur’an, sahur on the road, laylatul qadar dan sederet kebiasan yang kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan, semuanya terancam tidak kita nikmati tahun ini. Semua itu gara-gara corona.

Ya, semua karena corona. Corona telah melumpuhkan kehidupan kita. Kemerdekaan dan kebebasan kita hilang sekejap karena corona.

Saya dan kita semua, khususnya umat Islam, tentu berharap agar Ramadhan tahun ini bisa kita jalani seperti biasa, lalu kita tutup dengan sebuah kemenangan melalui perayaan dan pelaksanaan idul fitri. Lalu dilanjutkan dengan melakukan silaturahmi kesana kemari. Mengunjungi sanak saudara, kawan dan sahabat, reunian, dan temu kangen. Ya, itu harappan kita dan kita semua tentu mau seperti itu.

Tapi bagaimana jika corona tak kunjung berlalu?

Sebagaimana lagu Chrysye, Badai Pasti Berlalu. Demikian pula dengan corona, pasti akan beralu. Berlalu sebelum hilal 1 Rmadhan muncul di ufuk barat.

Yakin saja, atas izin Allah Swt. Tuhan Semesta Alam hal itu akan terjadi. Tapi yakin saja tentu tidak cukup. Harus ada ikhtiar dan usaha yang dibarengi dengan tawakkal kepada-Nya. Untuk mewujudkan hal tersebut, akan ditentukan di 14 hari dari sekarang. Ya, corona akan kita lawan dan lenyapkan dari muka bumi ini dalam waktu 14 hari kedepan sebelum Ramadhan. Dengan cara apa? jawabannya adalah dengan melakukan isolasi total secara mandiri selama 14 hari kedepan.

Ayolah, 14 hari saja. Kita pasti bisa. Selama 14 hari kedepan kita hentikan semua aktivitas diluar rumah. Demi bulan suci Ramadhan, 14 hari kedepan cukup di rumah saja. Kerja di rumah, ibadah di rumah, intinya di rumah saja.

Untuk kita yang sampai saat ini masih saja berkoar-koar dan mengedapankan ego keagamaan, ayolah, hilangkan sejenak ego kita salama 14 hari kedepan. Kita ibadah di rumah saja. Setelah 14 hari kedepan, setelah corona berlalu, yakinlah kita akan dengan bebas lagi beribadah dengan tenang di bulan Ramadhan. Ibadah yang kita lakukan selama 14 hari kedepan dari rumah, in syaa allah akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang berkali-kali lipat saat bulan Ramadhan tiba. Cukup sudah kita mencaci dan mencercah pemerintah dengan tuduhan yang tidak-tidak. Cukup sudah kita membangkan dari anjuran pemerintah. Cukup sudah kita menarasikan tuduhan yang membenturkan antara Negara dan Agama. Saatnya kita mengikuti anjuran pemerintah untuk beribah di rumah saja. Saatnya kita menjalankan perintah Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an. “Taatilah Allah dan Rasulnya, dan Pemimpin Diantara Kalian” Betul, hidup dan mati kita ada dalam genggaman Yang Kuasa bukan pada Corona.

Kita mungkin saja selamat dari corona karena system kekebalan tubuh kita masi bagus untuk melawan corona yang ada dalam diri kita, tapi bagaimana dengan orang tua kita, anak kita, saudara kita, kerabat kita, tetangga kita, sahabat kita. Mereka belum tentu memiliki daya tahan tubuh yang sama dengan kita. Mereka bisa saja dengan seketika meninggal ketika terpapar corona.

Ingat, membunuh itu bukan hanya dengan sebilah pisau atau atau benda tajam lainnya. Sekarang ini, kita bisa saja membunuh orang lain hanya dengan kita melakukan interaksi dengan mereka. Alasannya cukup sederhana, kita tidak tau dalam diri kita ada corona atau tidak sehingga ketika kita berinteraksi dengan orang lain lalu terpapar maka itu sama saja kita telah mengakibatkan jiwa orang lain terancam bahkan bisa membunuh mereka.

Ayolah, jangan sampai hanya karena mengatasnamakan agama dan ibadah kepada Allah, tapi justru kita telah mengakibatkan jiwa orang lain terancam. Lalu apa bedanya kita dengan pembunuh berdara dingin ? Apa bedanya kita dengan para teroris yang melakukan bom bunuh diri atau pengeboman disana sini? Para teroris melakukan bom bunuh diri dan pengeboman atas nama agama dan kalau kita juga atas nama agama dan ibadah masih mengabaikan anjuran pemerintah untuk tetap di rumah dan melakukan ibadah di rumah maka sejatinya kita telah melakukan tindakan terror kepada orang lain, mengancam keselamatan orang lain bahakan bisa membunuh orang lain. Andai saja ketika kita terpapar corona lalu mati dan tidak menyebar kepada orang lain mungkin tidak apa-apa. Tapi masalahnya, buka hanya kita yang akan menjadi korban, tapi semua yang berada di sekitaran kita juga terancam menjadi korban.

Bukankah Al-Qur’an dengan jelas telah mengingatkan kepada kita dalam Surah Al-Maidah ayat 32 bahwa “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia”. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa membunuh adalah dosa besar setelah syirik.

Maka dari itu, cukup 14 hari saja dari sekarang. Jangan sampai kita mengejar pahala dengan ibadah yang kita lakukan tapi justru hanya mendatangkan dosa besar di sisi Allah karena mengakibatkan orang lain terancam jiwanya atau bahkan kehilangan nyawanya.

Masih di surah yang sama, sebagai lanjutan dari ayat diatas, dikatakan bahwa “Barangsiapa yang memelihara kehidupan manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia”. Dengan kita mengisolasi diri selama 14 hari kedepan maka tentu kita telah termasuk orang yang menyelamatkan semua manusia khususnya dari ancaman corona.
Dalam ayat yang lain, tepatnya dalam Surah Al-Imran ayat 110 juga di jelaskan bahwa “Kalian adalah umat yang dilahirkan untuk menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran” Juga dalam kaidah fiqih dikatakan bahwa “Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemaslahatan”.

Ibadah di Masid memang baik dan sangat dianjurkan. Tapi ingat, dalam kaidah fiqih jelas bahwa menghilangkan kemudharatan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Dengan kita melakukan ibadah dari rumah maka hal itu sama saja kita telah menghilangkan kemudharatan. Selain itu, dalam surah Al-Imran di atas, jelas bahwa kita ini adalah umat terbaik, diciptakan untuk menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Maka dengan kita di rumah saja, hal itu sama saja kita telah membuktikan bahwa kita mamang adalah umat terbaik yang ada di persada bumi ini.

Oleh itu, tidak ada lagi alasan untuk kita tidak di rumah saja dan melakukan ibadah juga di rumah saja. 14 belas hari saja, cukup 14 hari saja dari sekarang sebelum bulan suci Ramadhan. Setelah itu, setelah corona berlalu, maka kita akan sama-sama luapkan kerinduaan kita untuk bersujud dan ibadah di masjid tanpa ada lagi rasa was-was yang mengakibatkan ke-khusyu’-an terganggu. Semua itu akan kita luapkan di bulan Ramadhan. Ya, di bulan Ramadhan.

Tapi bagaimana dengan kami yang secara ekonomi tidak mampu. Kalau kami tidak keluar rumah, kami mau makan apa ? Bisa-bisa kami mati bukan karena corona tapi mati kelaparan.
Betul. Hal itu tidak bisa kita nafikkan. Banyak diantara kita yang masih berada dibawah garis kemiskinan. Masih susah untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kalau tidak kerja tidak makan.

Maka melalui kesempatan ini juga saya ingin mengajak kepada kita semua untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Di 14 hari kedepan, kita yang memiliki kecukupan harus ambil bagian dalam persoalan ini. Usah kita serahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Yakinlah pemerintah memikirkan hal tersebut tapi kita juga harus turut serta di dalamnya. Karena masalah corona ini bukan Cuma masalah pemerintah tapi masalah kita semua. Maka mutlak kita juga harus ambil peran dengan cara menyisihkan sebagian harta kita untuk menjamin kehidupan saudara-saudara kita yang tidak mampu minimal selama 14 hari kedepan.

Tidak perlu muluk-muluk. Masing-masing dari kita yang merasa berkecukupan dan memiliki kemampuan lebih, lihat tetangga kita. Lihat siapa yang perlu dibantu dan diberikan jaminan selama 14 hari kedepan. Kalkulasikan, berapa kebutuhan mereka untuk sehari semalam. Tidak perlu ditanya kepada mereka, cukup kita berkaca kepada diri kita sendiri. Jika perlu samakan dengan kebutuhan kita.

Tidak perlu lagi saya uraikan dalil-dali terkait hal tersebut. Saya kita kita semua sudah khatam dan paham. Bukan hanya dalam Islam, semua agama saya kira juga memiliki ajaran yang sama untuk memuliakan dan menjaga tetangganya. Karena kerabat yang paling dekat itu adalah tetangga. Itu yang pertama. Lalu hal yang kedua yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan memberdayakan masjid dan rumah ibadah lainnya.

Kenapa harus masjid. Karena masjid memiliki sumber daya yang potensial untuk mengatasi permasalahan diatas. Mari kita lihat.
Dari sekian ribu masjid dan rumah ibadah yang ada, kira ada berapa jumlah saldo masjid yang dikumpulkan dari hasil sumbangan, celengan, dan infak. Kita anggap saja setiap masjid itu memiliki saldo sebesar 10 Juta Rupiah. Jika yang 10 Juta tersebut dialokasikan untuk membantu mereka yang terdampak khususnya selama 14 hari kedepan, kira-kira ada berapa banyak Kepala Keluarga yang bisa dibantu.

Dalam kondisi sekarang ini, kita berharap para pengurus masjid tidak perlu dulu memikirkan bagaiman mempercantik dan mempermegah masjid. Saatnya masjid-masjid dan rumah ibadah sekarang ini mengambil bagian untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Untung baik kalua missal uang yang masuk langsung dimanfaatkan ke masjid secara fisik. Karena tidak bisa dipungkiri, sampai saat ini masih ada juga pengurus masjid yang hanya menampung uang jamaah dan tidak dipergunakan. Fatalnya lagi, masih ada juga pengurus masjid yang nakal dan melakukan penyalahgunaan uang masjid.

Masjid Jogokaryan yang ada di Yogyakarta saya kita patut kita jadikan contoh. Dalam setiap pekannya selalu melaporkan saldo masjid nol rupiah. Seluruh uang yang masuk benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan, dan kesejahteraan umat, tidak hanya untuk pembangunan secara fisik.

Maka untuk 14 hari kedepan, semua masjid harus bisa melakukan hal yang sama. Mengalokasikan dana masjid 100 % untuk membantu saudara-saudara kita yang berada dibawa garis kemiskinan. Membantu mereka untuk memenuhi kebutuhannya selama 14 hari kedepan.

Saya yakin, mulai dari saban sampai marauke, masjid dan rumah ibadah lainnya ada di setiap tempat. Olehnya itu, pengurus masjid dan rumah-rumah yang ada tersebut mendata seluruh masyarakat yang ada di sekitaran masjid siapa yang harus dibantu.
Lalu bagaimana jika dalam pelaksanaanya ada masjid yang tidak mampu mencover atau bahkan ada kelebihan dana setelah melakukan kalkulasi dalam 14 hari kedepan?

Maka disinilah perlunya sistem sharing. Masjid yang masih ada kelebihan dana harus membantu masjid lain yang masih kekurangan.
Masyarakat menyumbang atau berinfak ke masjid tentu berharap agar bisa mendapatkan pahala dan keberkahan. Maka sekaranglah saatnya seluruh sumbangan dan infak dari masyarakat dimanfaatkan. Jika para pengurus masjid masih saja menahan dan menumpuk dana dari masyarakat itu sama saja pengurus masjid telah menghalangi pahala untuk orang yang menyumbang karena tidak di manfaatkan.

Agar gerakan Masjid Melawan Corona ini bisa terstruktur, maka Dewan Masjdi Indonesia saya pikir harus tampil dan memberikan instruksi kepada seluruh pengurus masjid yang ada.
Begitu juga dengan organisasi rumah ibadah lainnya, juga harus memberikan instruksi agar melakukan hal yang sama.

Jika orang yang memiliki kelebihan harta, masjid, serta rumah ibadah lainnya bergerak bersama maka saya yakin dan percaya masalah masyarakat tetap keluar rumah dengan alasan mencari sesuap nasi bisa terselesaikan.

Untuk itu, demi bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi, demi kelangsungan hidup kita bersama, demi ketenangan ibadah kita kedepannya khususnya di bulan Ramadhan, mari kita bergerak bersama. 14 hari dari sekarang tidak ada aktivitas di luar rumah.
Ayolah, 14 hari saja, cukup 14 hari saja.

Hormat Saya,
Syahrul Afandi
Penghulu KUA Kecamatan Tana Lia Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Tinggalkan Komentar