9 Orang WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess Positif Corona

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menyatakan warga negara Indonesia (WNI) yang terinfeksi virus corona (COVID-19) di kapal pesiar Diamond Princess bertambah menjadi 9 orang.

Terawan mengungkapkan sejumlah WNI telah mendapatkan perawatan dari pemerintah Jepang.

“WNI yang kena (virus korona) juga dirawat pemerintah Jepang, yang 9 orang itu,” ujar Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (24/2).

Sebelumnya, dari total 78 WNI yang berada di kapal pesiar tersebut, sekitar 4 orang sudah terjangkit virus korona. Namun, jumlahnya kini bertambah menjadi 9 orang.

Di lain sisi, pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan evakuasi 188 WNI di kapal pesiar World Dream. Adapun pemulangan puluhan WNI di kapal pesiar Diamond Princess masih dalam tahap negosiasi dengan pemerintah Jepang.

Terawan menjelaskan pemulangan WNI di kapal World Dream diprioritaskan karena risikonya lebih kecil. Sebab, belum terdapat kasus positif virus korona di dalam kapal, seperti yang terjadi di kapal Diamond Princess.

“Ini kan yang risikonya paling kecil. Jadi pertimbangan medis itu harus sangat dipertimbangkan dengan baik, tidak boleh emosional. Harus satu demi satu, demi keselamatan seluruh bangsa dan negara. Karena kita masih dalam zona green zone (bebas virus korona),” ungkap Terawan.

Untuk pemulangan WNI di kapal Diamond Princess, Terawan mengatakan pemerintah terus bernegosiasi dengan Jepang mengenai cara terbaik evakuasi. Dalam hal ini, untuk menutup celah potensi penularan virus mematikan.

Kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Yokohama, Jepang, dikhawatirkan menjadi episentrum baru penularan virus korona. Terawan mengatakan pemerintah tidak ingin terburu-buru, agar Indonesia tidak menjadi lokasi penularan baru virus yang berasal dari Tiongkok.

Kepada pemerintah Jepang, lanjut Terawan, Indonesia juga meminta data epidemologi.

“Pemerintah menjaga penduduk yang 260 juta lebih ini tetap bisa survive. Sembari kita melakukan tindakan untuk menyelamatkan masyarakat kita yang ada di Jepang. Tapi harus prosedur dan tata caranya jangan mengikuti apa yang mereka inginkan, hanya sekedar secepatnya saja. Tata caranya kita tahu, cara yang tepat melakukan pemindahan tanpa membuat episentrum baru,” pungkasnya. (MI)

Tinggalkan Komentar