Kwitansi Palsu Jadi Bukti Dakwaan JPU Kejari Makassar

Kwitansi Palsu Jadi Bukti Dakwaan JPU Kejari Makassar

Kantor Kejari Makassar di jalan Amanagappa. (Foto: Google street view)

Makassar, PANRITA.News – Proses sidang kasus dugaan penganiayaan yang disangkakan pada Sofian Abdullah memasuki tahap dakwaan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar, Haryanti Nur dalam persidangan menuntut tersangka Sofian Abdullah dipenjara selama 7 bulan dengan pelanggaran penganiayaan pasal 351.

Gelaran sidang dakwaan itu dilaksanakan setelah sepekan lebih ditunda. Persidangan dipimpin oleh Hakim Ketua Basuki Wiyono, SH,MH  didampingi hakim anggota Widiarso, SH,  MH dan Daniel Pratu SH.

Tersangka Sofian Abdullah menyatakan bahwa pasal yang didakwakan padanya sangat keliru.

“Saya ditersangkakan dengan dakwaan pasal 351, padahal saya dalam kejadian tersebut tidak melakukan penganiayaan berat, bahkan yang ringan pun juga tidak,” ungkap Sofian usai dihubungi PANRITA.News, Kamis (13/2/2020).

Sofian menuturkan bahwa kejadian tersebut bermula di tahun 2017 lalu. Kala itu, dia bersama koleganya berada di toko foto copy Agung Jl. Ratulangi Makassar.

“Tanggal 11 Agustus 2017 saya bertemu Nurhamsiah di Agung fotokopi, saya hanya tunjuk-tunjuk saja sambil melarang agar tidak lagi membawa praktek perdukunan ke rumah kami,” ungkap sofian.

Mantan suami Muhyina Muin itu mengungkapkan, setelah kejadian itu korban mungkin langsung melapor di Polsek Mariso. Sofian kemudian menyadari laporan itu setelah dirinya dipanggil oleh aparat polsek untuk proses kelengakapan BAP.

“Saat 2017 itu, berkas dilimpah ke kejaksaan namun oleh kejaksaan dikembalikan mungkin karena dianggap masih kurang alat bukti,” tuturnya.

Namun, yang tak disangka, proses itu kemudian berlanjut pada September 2019, Sofian mendadak dipanggil lagi oleh penyidik Polsek. “ada bukti baru katanya”, jelasnya.

Bahkan saat itu, Sofian sudah diharuskan langsung diserahkan pada kejaksaan untuk selanjutnya ditahan.”aslinya saya kaget,” imbuhnya.

Namun dirinya mengaku tak menyerah, dalam proses tersebut, Sofian menyatakan menemukan bukti perlawanan. Dia menyatakan jika salah satu bukti yang diajukan korban adalah kwitansi yang diduga Palsu.

“Kami menemukan bukti-bukti tersebut dan sudah langsung diklarifikasi oleh instansi yang mengeluarkannya, yaitu Rumah Sakit Bhayangkara Makassar,” beber Fian.

Dari data yang diperoleh, ada bukti kwitansi yang diperlihatkan tersangka. Satu kwitansi berisi nilai Rp. 15.000,- (oleh tersangka disebut kwitansi asli) yang dikeluarkan oleh RS. Bhayangkara dan satu lagi kwitansi senilai Rp. 215.000,- (yang olehnya disebut bukan kwitansi yang sebenarnya) karena kelihatan dirubah dari waktu asli pembuatannya di tgl 13-11-2017 menjadi tanggal 13-8-2017 dengan nomor register yang sama dan nilai yang ditambahkan angka 2 sehingga menjadi Rp.  215.000,-.

Kwitansi yang asli. (Ist)
Kwitansi yang dipalsukan. (Ist)

Dalam surat yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, menjelaskan secara jelas terkait kwitansi tersebut.

“Kesimpulannya, saya menyatakan diproses oleh bukti yang tidak sepenuhnya benar, dan yang pasti kami akan mengajukan pembelaan atas dakwaan itu,” ungkapnya.

Sofian pun menyatakan telah melaporkan perihal bukti kwitansi temuannya tersebut di Mapolda Sulsel.

“Saya kira kasus ini perlu mendapat perhatian, sebab menyangkut kredibilitas institusi Kepolisian, masa iyya instansi Rumah Sakit Bhayangkara yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Kepolisian, harus jadi tercoreng karena persoalan seperti ini,” ungkapnya.

Tinggalkan Komentar