Sidang Sampai Tengah Malam, Hakim di PN Parepare “Tumbang”

Parepare, PANRITA.News – Usai sidang perkara dugaan pelanggaran UU ITE yang digelar di PN Parepare, Senin (20/1/2020) hingga tengah malam pukul 23:53 wita, Hakim Novan Hidayat mengalami drop hingga jatuh pingsan.

Novan Hidayat pingsan saat turun tangga dari lantai dua kantor Pengadilan yang hendak menuju pulang ke rumahnya sekitar pukul 00:30 wita, Selasa (21/1/2020) dini hari.

Novan tersungkur tanpa ada melihatnya langsung, untung saja terdengar oleh sejumlah karyawan dan pengunjung.

Pihak pegawai pengadilan langsung menghubungi call center 112 untuk segera dievakuasi dilarikan ke UGD RSUD Andi Makkasau yang jarak dari kantor pengadilan sekitar kurang lebih 500 meter.

“Untung saja dievakuasi dengan cepat, sehingga selamat dari stroke, badannya sakit akibat benturan tembok saat jatuh,” kata Petugas UGD RSUD Andi Makkasau, Musradi.

Menurut pengakuan sejumlah pegawai di pengadilan, Novan memang sudah mengalami gejala pusing sebelum sidang dimulai. Namun, Novan memutuskan untuk tetap menggelar sidang.

Sementara itu, Rahmat S Lulu, selaku advokat di Kota Parepare meminta kepada Mahkamah Agung (MA) agar menambah hakim di kota Parepare.

“Bayangkan setiap sidang kita harus antri sampai malam pulang hanya karena kekurangan hakim,” jelasnya.

Untuk diketahui, Hakim di PN Parepare hanya 4 orang, setiap persidangan yang diganti hanya ketua majelis hakim, sedangkan anggotanya tidak.

“Maka wajar anggotanya itu lelah atau kecapaian sehingga berdampak pada kondisi fisik hakim,” papar Rahmat.

“Seperti sekarang dialami pak Novan selaku hakim anggota harus bekerja terus tanpa kenal lelah tapi akhirnya tumbang juga, hakim itu manusia juga, jadi minta MA agar segera menambah hakim di kota ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rahmat mengaku bahwa bukan hanya hakim yang kurang, tapi Jaksa juga kurang sehingga ia meminta Kejagung juga menambah Jaksa di kota Parepare.

Penanggungjawab Pos bantuan hukum (Posbakum) PN Parepare, Muh. Y Rendy, mengatakan kelemahan selama ini dirasakan Posbakum yakni kurangnya hakim sehingga harus antri yang membuat pihak advokat yang ada di Posbakum juga menunggu hakim sidang.

“Harapan kami agar MA bisa segera menambah hakim, begitu juga jaksa,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar