Insting Institute Gelar Dialog Interaktif “Orientasi Pendidikan Tanpa UN”

Dialog Interaktif Insting Institute "Resonansi Pendidikan 2020, Orientasi Pendidikan Tanpa UN".

Dialog Interaktif Insting Institute "Resonansi Pendidikan 2020, Orientasi Pendidikan Tanpa UN".

Makassar, PANRITA.News – Insting Institute kembali menggelar diskusi bertajuk “Resonansi Pendidikan 2020, Orientasi Pendidikan tanpa Ujian Nasional (UN).

Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Amaris Hotel, Jl. Bougenville, Kota Makassar, (17/1/2020) dan dihadiri ratusan pemuda dan mahasiswa dari berbagai kalangan di Makassar.

Diskusi berlangsung menarik dengan menghadirkan narasumber yang notabene sabagai stakeholder dalam dunia pendidikan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel, Adi Suryadi Culla mengawali penjelasannya terkait masalah sistem pendidikan di IndonesiaIndonesia, khususnya sistem pendidikan, khususnya yang menjadi kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim.

“Setiap sistem pastinya memiliki standar, termasuk dalam dunia pendidikan kita, khsususnya perubahan UN menjadi Assesment Kompetensi Minimum (AKM) atau Survey Karakter (SK) juga harus memiliki standar yang jelas, Namun perubahan kebijakan tersebut masih mengawang-awang, karena kita belum melihat secara jelas bagaimana kedepannya,” jelas Adi.

Selain itu, Anggota DPRD Sulsel Komisi E, Andi Irwan Natsir mengungkapkan bahwa yang terpenting adalah instrumen pendidikan yang dijalankan itu harusnya bisa mencapai tujuan pendidikan.

“Sebagaimana dalam undang-undang dijelaskan tujuan dari pendidikan kita, jadi apapun instrumennya, pertanyaan kemudian apakah instrumen pendidikan kita mampu untuk mencapai tujuan pendidikan kita?,” imbuh Irwan.

Lanjut Irwan, dirinya siap menyampaikan aspirasi pemuda terkait pendidikan di Sulawesi Selatan.

“Sebagai anggota DPRD Komisi E yang membidangi pendidikan, kami siap bekerjasama dengan semua stakeholder dan masyarakat. Termasuk dengan Insting Institute dalam memajukan pendidikan di Sulsel,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel, Setiawan Asryad juga menjelaskan berbagai persoalan yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia.

Setiawan menjelaskan berbagai fenomena penjajahan dalam dunia pendidikan, mulai dari penjajahan secara sektoral, struktur kelembagaan dan penjajahan secara kultur dalam kelas.

“Ketika pak menteri Nadiem Makarim ingin memerdekaan pendidikan kita, maka guru harus lebih dulu mesti dimerdekakan dari berbagai penjajahan, misalnya pemahaman guru terkait relasinya dengan siswa mesti dirubah yang menjadikan muridnya sebagai objek,” jelasnya.

Tinggalkan Komentar