IndoXXI Ditutup, Vis a Vis Situs Porno dan Judi Online

Abdul Muis Amiruddin | Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan PB HMI

Abdul Muis Amiruddin | Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan PB HMI.

Sangat berat tapi harus dilakukan, terimakasih kepada penonton setia kami, terhitung mulai tanggal 1 Januari 2020 kami akan menghentikan penayangan film di website ini demi mendukung dan memajukan industri tanah air, semoga kedepannya akan menjadi lebih baik, salam INDOXXI.

Munculnya pertanda ‘mengehentikan’ diatas sebagai reaksi atas tanda ‘penghentian’ yang akan segera diperbuat oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) terhadap pengelola distibusi film jalur tidak resmi Indoxxi telah menuai protes konsumen film layanan ilegal. Para konsumen ini adalah penanda yang mengilhami pernyataan Kemenkominfo terkait dampak adanya pelanggaran hak cipta yang saling inheren dengan laku kreasi konsumen. Artinya disini dalam budaya pasca modern, terdapat kredo pemutlakan (unsur pemaksaan) dari pemegang ‘otoritas’ digital bahwa laku kreasi konsumen yang mengonsumsi kreasi seseorang melalui jalur ilegal; selain tidak menghargai hak cipta juga sebagai konsumen yang berpotensi enggan berkreasi.

Maka terhitung 1 Januari 2020, menguatnya konsep hak kepemilikan pada ranah industri kreatif akan semakin jelas dengan dipenuhinya hak-hak kreator yang akan saya bagi dalam tiga eksponen, yang diantaranya; pemenuhan keuntungan para kreator-kreator oleh sistem pasar [1], kreasi kreator akan menjadi ‘nilai lebih’ bagi pengelola distribusi film legal; Bioskop maupun situs legal [2], dan pada awal tahun juga akan menjadi titik balik bagi konsumen yang dituduh ‘pemalas’ kembali pada pengutuhan konsep hak kepemilikan dimana diksi ‘kreasi’ secara denotatif di awal tahun memiliki bentuk yang lebih ajeg yaitu rekreasi [3].

Perhatikan rekreasi; yaitu penciptaan kembali atau penciptaan kembali teruntuk konsumen. Dan disaat bersamaan, konsumen telah terampas kebebasannya ketika kebahagiaan dibatasi oleh tingginya angka kemiskinan yang disebabkan adanya kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural lagi-lagi terjadi karena adanya otoritas pemerintah yang terlalu ekslusif terhadap kepentingan publik. Selain itu, Pasar melalui hak cipta memberi keluwesan bagi penyedia layanan film legal untuk bisa berkelanjutan melakukan penghisapan dengan cara menghisap pundi-pundi rupiah dari para konsumen. Akibatnya, mau tidak mau konsumen terpaksa mengkreasikan filmnya sendiri.

Lalu bagaimana dengan rekreasi bagi para konsumen, apakah mungkin?

Konsumen film melalui jalur distribusi ilegal dalam konteks rekreasi tentu saling berhubungan dengan akhir minggu. Maka saya berpendapat sebetulnya akhir minggu bagi konsumen adalah hari-hari selingan-dua hari yang tidak seperti lima hari sebelumnya, dua hari yang maunya berbeda. Selingan juga disebut rekreasi. Rekreasi Film sebagaimana penciptaan kembali lebih sering berarti konsumsi: menerima, menelan, dan menghiburi diri-bukan mempersembahkan kreasi. Hal ini terjadi dapat kita cermati secara sederhana, karena tidak semua konsumen film merupakan kreator-kreator film dan tidak semua konsumen film mampu menghargai hak cipta selain akibat ketidakcukupan pundi-pundi rupiah juga karena adanya kemiskinan struktural yang terjadi di negeri ini.

State-Temple-Corporate Complex

Fakta diatas sebetulnya tidak terlepas dari kasus moral yang disebabkan karena adanya mekanisme kapitalisme (akumulasi, eksploitasi, dan ekspansi). Di dalam bukunya yang terbit di tahun 2014 Why Not Capitalism Ilmuwan politik Amerika, Jasson Brennan menyatakan Kapitalisme tidak pernah bisa mencapai kerjasama harmoni seperti itu karena dibangun atas kepentingan pribadi dan sifat rakus. Meski Brennan juga mengelak dengan asumsi bahwa kepentingan pribadi dapat diubah menjadi keuntungan bersama, namun ada nilai-nilai altruis yang hilang disini.

Apa yang terjadi sekarang adalah situs-situs penyedia layanan hiburan menjadi kebutuhan, dan pada saat yang sama, perhitungan-perhitungan akurat pemerintah demi keuntungan pemilik modal gencar dilakukan. Lalu bagaimana menjelaskan fakta ini ?

Ada dua pendekatan popular yang dapat digunakan untuk menjelaskan gejala tersebut: pertama, penjelasan dari sudut kemakmuran ekonomi yang digagas oleh sosiolog terkemuka dari Universitas Harvard, AS, Pippa Norris dan Roland Inglehard, yang mengatakan level kebutuhan di era postmodern, post-industrial, berhubungan sangat kuat dengan level ketidakaman eksistensial. Dari pemetaan kebutuhan dilawankan dengan data pendapatan dari masyarakat, dan dapat disimpulkan bahwa ‘kalangan miskin jauh lebih dekat dengan jasa penyedia kebutuhan murah ketimbang kalangan kaya’. Penjelasan lainnya, pemenuhan kebutuhan murah ini sebagai reaksi pertahanan diri terhadap gempuran produk-produk yang jauh lebih mahal.

Situs Indoxxi kini telah menjadi tempat mengasingkan diri (escape from freedom) dari perasaan keterasingan kalangan miskin yang kesepian, yang tercerabut dari kehidupan lamanya, komunitas kecilnya yang hangat dan bersahabat namun berganti rupa menjadi lebih egois terhadap kepentingan pribadi karena adanya sistem yang merampas kebahagiaan komunal. Kehidupan seperti ini yang diakibatkan oleh pemerintah dengan memunculkan kemiskinan struktural ke permukaan menjadi lebih keras dan kompetitif, masyarakat tak ubahnya mesin yang tidak mendapat asupan hiburan sejati-telah membuat mereka menderita bahkan stres dan traumatik, dan pada situs-situs gratis, pada layanan-layanan hiburan digital, dan pada koneksi internet yang jauh lebih murah, kehidupan yang nyaman dan damai dapat mereka reguk kembali. Dan tentu saja kedamaian dan kenyamanan model ini bersifat ilusif, instan, dan memabukkan.

Selanjutnya, penghentian penyedia layanan hiburan gratis (Indoxxi) ini beriringan dengan kian terintegrasinya industri film global, Pemerintah, dan penyedia layanan hiburan atau distributor film legal yang jauh lebih mahal. Segera setelahnya, serangkaian kebijakan khas neoliberalisme, seperti liberalisme pasar, deregulasi, privvatisasi, pemotongan anggaran publik, dan kebijakan pemerintah yang menguntungkan pemilik modal selalu diberlakukan. Intinya adalah memberikan kebijakan pemblokiran situs Indoxxi merupakan kebijakan neoliberal yang memungkinkan leluasanya para kapitalis dalam dunia hiburan, dengan memanfaatkan hak cipta dari kreator-kreator yang ada di sektor hiburan.

Vis a Vis Situs Porno dan Judi online vs Indo XXI

Perbandingan yang kontras antara rekreasi konsumen dan penghentian situs Indoxxi sebetulnya merupakan representasi kepentingan kelas-kelas pemilik modal yang seolah-olah dihadapan kita bersikap altruistik dengan dalil-dalil suci tentang penghargaan hasil kreasi dan hak cipta. Jika pemblokiran indoXXI karena dalih memajukan industri kreatif maka kepastian kesejahteraan para kreator juga perlu dijamin oleh pemerinta karena keuntungan ‘bisnis’ selalu kentara menjadi dalilnya.

Pemerintah harus dalam penegakan aturan, bukan hanya pakai dalil untung rugi, tapi ada aspek sosiologis yang sebenarnya berimplikasi langsung pada masyarakat, seperti moralitas yang berkaitan dengan norma. Kenyataanya, penghentian situs Indoxxi sama sekali tidak menyentuh kebutuhan masyarakat yang lebih mendasar; kesejahteraan, dan hakikat mendasar sebagai manusia yaitu pikiran dan ide yang saling inheren dengan laku kreasi. Laku kreasi akan tercipta jika seandainya Kemenkominfo menghapus situs-situs amoralitas di dunia digital. Maka perlu secara praksis (refleksi-tindakan) Kemenkominfo melalui model pendidikan terhadap kaum tertindas (pedagogy of opressed) dibentuk dengan adanya penyadaran melalui dukungan atas informasi yang lebih mendidik, dan segera menghentikan atau memblokir situs-situs porno, situs judi online, yang jelas secara terselubung situs-situs tersebut lebih merusak moral tingkah laku konsumen. Sebab itulah situs-situs amoral ini justru jauh lebih berbahaya merusak pori-pori negara ketimbang situs Indoxxi, dan penghentian/pemblokiran situs Indoxxi justru jelas-jelas akan memperteguh dominasi pemilik modal terhadap pasar yang hanya menguntungkan segelintir pihak, karena disisi lain situs judi online dan situs porno juga kucing-kucingan dan lebih lihai.

Tinggalkan Komentar