Menakar Arah Pendidikan Bangsa

Menakar Arah pendidikan Bangsa oleh: Muh. Arman | Dosen Teknik Kimia FTI-UMI

Muh. Arman | Dosen Teknik Kimia FTI-UMI

Tak kurang dari belasan tahun waktu kita selesaikan untuk bersekolah. Masa yang panjang dan menjemukan, jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, sesekali bermain dan yang penting mendengarkan guru ceramah di depan meja kelas dan menerima tugas “Pekerjaan Rumah”, mulai dari senin hingga sabtu dari pagi sampai sore kita habiskan untuk bersekolah. Lewat sekolah, seseorang meraih jabatan, derajat sekaligus hinaan. Ringkasnya sekolah mampu mencetak manusia menjadi pejabat tapi juga penjahat, mulai dari kelas amatir hingga kelas kakap.

Melalui tulisan ini, kita bertanya, masih pantaskah sekolah untuk mengakui peran tunggalnya dalam mencerdaskan seseorang?

Untuk semua anak bangsa yang mengerti dan percaya bahwa sekolah adalah tempat pendidikan menghabiskan waktu senggang yang tersisa Sekedar bersuka ria dan berleha-leha selagi usia masih muda. Sekolah umumnya memang diacukan pada suatu sistem, lembaga organisasi besar dengan segenap kelengkapannya. Dimana orang membayangkan sebagai suatu tempat belajar dan mengkaji. Skhole, scola, scolae atau schola adalah kata dasar dari sekolah yang berarti waktu luang. Orang yunani kuno mengisi waktu luangnya untuk mengunjungi orang pandai untuk belajar dan menanyakan banyak hal. Sebelum penjajah tiba, nenek moyang kita tak kenal ijazah atau gelar, sekolah juga tidak ada tapi mereka belajar, belajar segala soal bertani, berladang… mengenal alat-alat penting. Semua orang adalah “guru” dan semua tempat adalah “sekolah”.

Bagaimana dengan Sekolah sekarang?

Sekolah merupakan sebuah wadah untuk berproses menjadi “tahu”, dimana zaman modern merupakan lembaga yang sudah lazim sebagai tempat menempa manusia untuk beretika dan beradab. Sistem pedidikan khususnya perguruan tinggi sekarang sudah menjelma menjadi lembaga atau organisasi profit. Awal tahun ajaran adalah masa paling hiruk pikuk dan halai-balai bagi semua sekolah. Ini memang masa pengumuman hasil ulangan dan ujian akhir murid-murid. Dimana-mana bertebaran brosur, baliho dan media massa (Koran, TV) yang memperkenalkan jenis “Perusahaan sekolah” dengan berbagai bahan jualan baik dari segi fasilitas, beasiswa serta syarat pendaftaran dan tak ketinggalan “uang muka”. Itulah realita sistem pendidikan yang nantinya akan mencetak sarjana-sarjana yang dari segi kualitas masih dipertanyakan. Yang terpenting adalah memenuhi kuota.

Sistem pendidikan nasional tak lagi mampu menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja, apalagi dengan arus perubahan teknologi yang cukup massif, sistem pendidikan pun mesti berbenah diri ditengah banyaknya masalah pada sistem pendidikan dinegeri ini. Ketika meluncurkan program kurikulum dan aturan-aturan pendidikan yang mengharuskan guru dan pendidik menghabiskan waktunya dimeja administrasi dibandingkan waktu bersama anak didiknya. Sebenarnya justru merupakan sebuah pengakuan diam-diam bahwa sistem pendidikan kita memang tak mampu lagi menghasilkan mesin-mesin pekerja. Belum lagi jika disimak muatan kurikulumnya yang sangat ideologis dan sarat dengan nilai-nilai yang harus dikunyah dan ditelan oleh para murid didik, walaupun kenyataan sistem bertolak belakang dengan aksiologis yang wajib dihafalkan sebagai jimat keramat. Sekolah bukan lagi sebagai tempat berproses untuk “tahu” tapi sebagai ajang pendiktean manusia secara legal.

Sistem kurikulum dan sistem manajemen sekolah juga tidak kalah seru kacaunya, sistem setiap kali pergantian mentri mengalami bongkar pasang. Bukankah bisnis buku diktat adalah bisnis yang menguntungkan?. Seragam hingga kebutuhan apapun itu harus dibayar dengan “uang”. Itulah kenapa muncul sebuah anggapan “Orang Miskin Dilarang Sekolah”. Sungguh ironi memang melihat sistem pendidikan kita yang mengalami degradasi dari sejarah berdirinya sebagai tempat pendidikan untuk menghasilkan orang-orang “terdidik” bukan sebagai tempat yang dipenuhi dengan aturan-aturan yang membingunkan, bahkan tidak masuk akal. Tapi itulah sebuah bentuk bisnis pendidikan modern.

Menarik untuk disimak jika program prioritas dari Presiden Joko Widodo soal peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk meningkatkan daya saing bangsa, dan beberapa hari terakhir dipertontonkan pelantikan staf khusus presiden dari kalangan yang diakui mewakili suara “milenial” yang nantinya bisa memberikan ide-ide kreatif untuk membangun SDM unggul. Memperhatikan pidato Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim pada peringatan hari guru nasional untuk mengembalikan guru pada fungsinya sebagai tenaga pendidik yang mengajarkan soal Inovasi, Kolaborasi dan menjungjung tinggi Etika dan moral. Yang nantinya diharapkan dimasa yang akan datang melahirkan generasi-generasi yang inovatif dan berintegritas dalam bidangnya masing-masing.

Oleh: Muh. Arman | Dosen Teknik Kimia FTI-UMI

Tinggalkan Komentar