KOTA

Muhammad Sabri, Direktur Pengkajian Materi BPIP RI

Muhammad Sabri, Direktur Pengkajian Materi BPIP RI

Anggitan “kota” sebagai pusat peradaban dan kekuasaan, dalam sejarah, diketemukan jejaknya misalnya dalam tradisi Yunani Antik. Si empunya nama agung, Platon, filsuf Yunani Antik yang hidup sekira Abad 4 SM, dalam karya monumentalnya Republic, mengenalkan konsep pholis, yang secara generik semakna dengan “kota”, dan kelak “negara-kota”. Itu sebab, pusat kekuasaan politik dan peradaban Yunani Antik kelak tumbuh subur di sejumlah pholis , diantaranya, Athena, Sparta, Troya, dst.

Anggitan pholis ini pula yang jadi akar sejumlah konsepsi modern: politics, police, policy, dst., yang mengandaikan jika pholis mengandung anasir perihal “pengaturan urusan politik” (relasi warga-warga dan negara-warga), “ketertiban warga”, dan “kebijakan yang berpihak pada warga” atau res-publica dalam pendakuan Arrendt.

Dalam tradisi Islam, anggitan “negara-kota” dikonstruksi secara genial oleh Rasulullah Muhammad saw. yakni, madinatun yang lebih kurang sekandung arti dengan pholis. Salah satu jejak peradaban yang dibangun Nabi pasca hijrah adalah Madinah al-Munawwarah atau “Kota Agung yang dilimpahi Cahaya”.

Anggitan madinatun (“kota”) seakar kata dengan din (“agama”), dan tamaddun (“peradaban”) dari kata dasar dn. Itu sebab, Madinah al-Munawwarah yang mengganti konsep kota “lama” Yastrib, dalam perspektif Kuhnian, telah berlangsung pergeseran paradigma ( paradigm shifting) dari paradigma “lama” , Yastrib ke paradigma baru: Madinah al-Munawwarah yang dapat dimaknai sebagai “Negara-Kota yang Berkeadaban Tinggi di bawah Limpahan Cahaya Ilahi”.

Dalam anggitan Madinah Al-Munawwarah, sebab itu, sebagai sebilah konsep “negara-kota” yang diaktualkan Nabi dalam sejarah, mengandaikan beberapa aspek yang bertaut secara kukuh: tata ruang pisik arsitektural ( place ) dan tata ruang sosial, ekonomi, kultural, intelektual, dan spiritual ( space).

Ketika Pemerintah Pusat berkeinginan kuat “mimindahkan” ibu kota negara dari Jakarta ke salah satu titik di Kalimantan Timur, maka anggitan pholish dan juga madinah al-munawwarah dengan kandungan masing┬▓ nilai ontologis dan epistemik-konseptual yang direngkuhnya, mungkin dapat dipertimbangkan sebagai bahan kajian mendalam, sebagai gagasan yang pernah aktual dalam sejarah peradaban kemanusiaan yang cemerlang.

Kota, sebab itu niscaya menampilkan paras ganda: pesona arsitektural yang memukau dan kelembutan jiwa sosio-kultur-spiritual yang menyengat.

Salam PANCASILA!

Oleh: Muhammad Sabri
Direktur Pengkajian Materi BPIP RI

Video yang mungkin anda sukai:

“Jokowi vs Surya Paloh” Soal Kursi Jaksa Agung

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan

Tinggalkan Komentar