Bung Karno, Burasa’ dan Maaf yang Belum Usai

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Tahun 2018. (Foto: Ist.)

“Selamat Ulang Tahun Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno”

Ucapan yang telah terlampau lambat dan berlalu namun kendati demikian unsur lambat dan berlalu atas sesuatu yakni tidak melakukannya sama sekali. Soekarno atau akrab disapa Bung Karno adalah tokoh penting atas lahirnya kemerdekaan bagi Indonesia, The Founding Father. Ia lahir pada 6 Juni 1901 dan ini adalah ulang tahunnya yang ke 118 tahun. Gagasan dan ide-idenya tentang kemerdekaan Indonesia masih tetap memiliki tempat di sisi orang-orang yang memiliki kesadaran akan lahirnya negara ini. Darah, air mata dan keringat tertambat menjadi sebuah perjuangan sejati mengukir wajah anggun negeri ini. Kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia, tidak ada ketidak-merdekaan yang bersembunyi di balik kemerdekaan, sekilas begitulah harapan besar para bapak pendiri bangsa ini. Semoga beliau tenang di sisi-Nya dan harapan terbaik untuk negeri ini!

Sebenarnya, tulisan ini memiliki niatan sebagai bentuk refleksi, perenungan awal kisah sebuah negeri hingga terlepas dari serat-serat belenggu kolonial serta cerita usang penuh haru-biru yang seolah terlupakan saat ini. Pemilu telah berlalu dan suka cita baru bermula, itulah sirkulasi nyata dari proses perayaan pesta demokrasi dari tahun ke tahun. Rasanya terlalu naïf dan tidak tahu diri menjadi warga negara di negeri ini jika hanya berpangku tangan menerima peristiwa yang ‘seolah-olah semuanya berjalan baik’ tanpa menumbuhkan keinginan untuk memandang negeri ini lebih dalam lagi, menyingkirkan cerita tabu yang terus tereproduksi hingga melahirkan rasa takut yang tidak berdasar terhadap para penguasa yang selalu mengikat dengan aturan mampu dicerabut akarnya. Pemandangan negeri ini akan sangat indah dan menawan jika ditatap dari pandangan yang berbeda tepatnya “nyaman menjadi berbeda” seperti yang dibahasakan oleh Mark Manson. Cinta pada negeri ini adalah keharusan dan keniscayaan yang harus di tempuh namun cinta-kasih yang tulus anak negeri pada Ibu Pertiwi adalah menyelami samudera negeri yang maha luas ini dengan budaya berpikir analitis, kritis, dialektis dan imajinasi akal budi.

Bulan Juni selain daripada bulan kelahiran Bung Karno, bulan Juni pula memiliki keistimewaan tersendiri terkhusus tahun ini yakni tanggal 5 Juni 2019 sebagai hari perayaan puncak kemenangan umat muslim yang dikenal dengan istilah Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan umat manusia yang kembali suci. Ritual maaf-memaafkan menjadi ciri khas dari hari lebaran selain Ketupat dan Burasa’ (Re; Buras, makanan tradisional yang kerap disajikan baik pada hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha). Berbicara tentang maaf-memaafkan, Bung Karno pernah mengutarakan permohonan maaf kepada Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab dipanggil Buya Hamka atas peristiwa yang pernah dia alami.

Pada masa Orde Lama, Buya Hamka pernah menentang kebijakan NASAKOM presiden Soekarno yang tentunya menjadi masalah khusus bagi pemerintahan Orde Lama. Buya Hamka kala itu dianggap sebagai ancaman sehingga beberapa tuduhan dilemparkan kepada dia, salah satunya adalah Buya dituduh melakukan konspirasi untuk membunuh Presiden Soekarno dan mempertimbangkan mendukung Pemberontakan PRRI. Buya Hamka dipenjarakan dan harus merasakan kondisi yang sangat berat selama 2 tahun 4 bulan dalam bui. Tidak hanya itu, buku-buku ulama besar ini pun disita.

Namun beberapa tahun di penjara, Buya Hamka justru menemukan cahaya ilahi dengan mengalihkan kualitas kecerdasan dirinya, ia mencapai puncak perenungan dengan tekun bersujud, menulis dan membaca kalam ilahi dan kawan karibnya hanyalah kertas, tinta dan pena. Ia mampu mengubah deritanya selama di penjara menjadi rasa syukur, rasa syukur karena di dalam penjara ia menyelesaikan karya tafsir Al-Azhar yang kemudian menjadi mahakaryanya. Tahun 1966 Soekarno tumbang dan lewat supersemar Soeharto memegang kekuasaan penuh. Pasca tumbangnya Orde Lama, Buya pun dibebaskan sementara Soekarno menjadi tahanan politik, ia tidak diperbolehkan menemui siapapun dan tampil di depan umum oleh rezim yang berkuasa. Saat bebas, Hamka merasakan kerinduan pada Soekarno dan ia telah memaafkan jauh hari sebelum Soekarno meminta maaf.

Pada tanggal 16 Juni 1970, Hamka mendapat secarik kertas dari Soekarno yang dibawa oleh ajudan Soeharto. “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku”, Hamka membaca surat dari Soekarno dan meneteskan air mata. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno selaku Presiden pertama RI dinyatakan meninggal dunia. Tanpa banyak pikir, Hamka pun langsung bergegas ke rumah duka dan menjadi imam shalat jenazah dari orang yang pernah menjebloskannya ke penjara. Orang-orang yang ada di sana merasa heran karena Hamka di masa Soekarno pernah difitnah, dipenjarakan bahkan dimiskinkan. “Saya sudah memaafkannya, bahkan saya seharusnya bahagia karena telah dipenjarakan. Di penjara saya memperoleh kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz. Setiap manusia pernah memiliki salah, tetapi Soekarno juga banyak jasanya bagi manusia”. Buya Hamka memaafkan Soekarno karena berkatnya ia memperoleh api tauhid di dalam penjara.

Cerita pemaafan Buya Hamka hampir sama dengan Nelson Mandela. Selama kurang lebih 27 tahun, ia berada dalam bui atas kehendak rezim yang berkuasa saat itu. Saat setelah keluar dari penjara, Mandela berpidato di depan khalayak mewakili orang kulit hitam memberikan maaf kepada orang kulit putih meskipun dalam perang, orang kulit hitam mayoritas jadi korban. Saat terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan tahun 1994, ia mengundang dan merangkul ‘musuh-musuh’ politiknya dan mengajak seluruh rakyatnya untuk memaafkan apa yang telah terjadi di masa lalu dan berterima kasih kepada salah satu sipir kulit putih yang telah ia undang yang telah menyiksanya selama di penjara, “terima kasih banyak atas pelatihannya selama di penjara karena berkat itu saya belajar makna atas perjuangan”.

Antara Hamka dan Mandela yang memberikan maaf kepada apa yang pernah menimpanya, Pramoedya Ananta Toer justru menganggap pemberian maaf sebagai bentuk rekonsiliasi basa-basi. Ia menolak permintaan maaf Gus Dur sebagai Presiden saat itu atas peristiwa 1965 dan tapol (tahanan politik) di hampir separuh hidupnya. Baginya bukan Gus Dur yang seharusnya meminta maaf meskipun dia presiden melainkan lembaga negara seperti DPR dan MPR namun kedua lembaga itu diam-diam saja.

“saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Separuh hidup saya habiskan di balik jeruji tahanan Pulau Buru penuh siksaan, penghinaan dan penganiayaan tanpa melalui proses peradilan. Anak-anak dan keluarga saya harus menderita di luar jeruji dan bahkan RT tidak mau memberikan KTP kepada keluarga saya dengan alasan bahwa saya tapol. Buku-buku dan naskah karya saya dibakar. Maaf hanyalah basa-basi, selanjutnya mau apa? Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya. Tidak ada proses pengadilan bagi saya sebelum dijebloskan ke Pulau Buru, semua menganggap saya sebagai barang mainan. Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hokum dan keadilan”. Tulisan Pram dalam Majalah Tempo sebagai bentuk tanggapan atas surat Gonawan Muhammad.

“saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Begitupula Gunawan Muhammad yang keduanya merupakan bagian dari orde baru. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya yang memilih diam dan menerima fasisme”.

“Gunawan dan semua orang mungkin mengira saya pendendam dan merawat sakit hati yang mendalam. Tidak, saya sebaliknya berterima kasih dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri. Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya”. Tutup Pram dalam tulisannya.

Tidak lain dan tidak bukan, yang diinginkan Pram adalah penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat Indonesia bukan basa-basi yang berbentuk maaf. Ada ‘maaf’ untuk mengingat dan memperbaiki semuanya dan ada pula ‘maaf’ yang hanya untuk melupakan dan tidak menutup kemungkinan kejadian yang sama akan terjadi kemudian dengan mudah menyelesaikannya dengan kata ‘maaf’.

Momen lebaran dan budaya maaf-memaafkan yang dilengkapi dengan pernak-pernik ketupat dan burasa’ harus disandarkan dengan bentuk pemaafan atas sesuatu yang tak termaafkan. Maaf-memaafkan atas sesuatu yang bisa dimaafkan memiliki kecendrungan orientasi pada untung-rugi, meminta maaf dan memberikan maaf akan mudah karena berdasarkan atas prinsip sama-sama untung namun jika pemaafan atas sesuatu yang tak termaafkan bisa dilakukan maka itulah bentuk nyata dari pola pemaafan. Mengakui kesalahan, memperbaikinya dan tidak mengulangnya lagi di kemudian hari layaknya parafrasa ketupat atau burasa’ yang berarti pengakuan kesalahan yang dibungkus dengan daun hati nurani agar segala kesalahan dan kekeliruan tidak terulang lagi.Kisah ‘pemaafan’ baik dari Buya Hamka, Nelson Mandela maupun Pramoedya Ananta Toer terdapat ‘maaf’ yang belum usai. Jangan jadikan pola maaf-memaafkan sebagai strategi menarik simpati untuk penumbuhan hegemoni tapi maaf-memaafkan untuk sesuatu yang tidak bisa termaafkan.

Tinggalkan Komentar