Memaknai ‘Idul Fithri

PANRITA.News – Idul Fitri bagi sebagian masyarakat Indonesia memiliki arti dan makna yang sangat unik, sehingga biasanya ditandai dengan aneka ragam persiapan diri untuk menyambut kedatangannya. Mulai dari euforia mudik ke kampung halaman, mempersiapkan pakaian baru untuk bersilaturahim, melengkapi perabot rumah agar ia menjadi indah ketika tamu berkunjung, dan menyiapkan beraneka ragam makanan dan minuman.

Hal yang tidak bisa di lepas saat ini adalah sebagian orang merasa kurang afdhal jika tidak memakai atau menggunakan sesuatu yang baru saat lebaran, padahal lebaran Idul Fitri tidaklah melulu identik dengan sesuatu yang baru tetapi sejatinya Idul Fitri lebih kepada kesucian jiwa dan rasa tulus kepada Allah dalam melaksanakan perintah-Nya.

Mesti digarisbawahi bahwa, menyiapkan aneka persiapan ketika lebaran Idul Fitri sah-sah saja dilakukan apabila dilandasi dengan niat yang tulus dan murni karena Allah, serta jangan sampai memberatkan diri dan melampaui batas serta menyimpang dari ajaran agama, misalnya, karena ingin mendapat pujian dan sanjungan, unsur riya dengan memamerkan kekayaan, bersikap mubazir dan lain-lain, yang demikian ialah hal yang tidak diperkenankan oleh agama.

Hakikat ‘Idul Fithri

Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri, yakni predikat ‘takwa’.

Kata ‘Id berarti ‘kembali’ dan kata fithr berarti ‘agama yang benar’ atau ‘kesucian’. Kalau kita memahaminya sebagai ‘agama yang benar’, maka hal tersebut menuntut akan keserasian hubungan, karena keserasian tersebut merupakan tanda keberagamaan yang benar.

Fithrah yang berarti ‘kesucian’, ini dapat dipahami bahkan di rasakan maknanya pada saat kita duduk termenung seorang diri, ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani yang mengajak kita untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha-mutlak, yang mengantar kita untuk menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya.

Suara yang kita dengarkan itu adalah suara fitra manusia, yakni suara kesucian. Suara itulah yang dikumandangkan pada saat Idul Fitri, yakni Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sehingga bila kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa, maka hilanglah segala kebergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali hanya kepada Allah semata. Demikian makna fithrah yang dilukiskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya ‘Membumikan Al-Quran’.

Kesucian adalah gabungan dari tiga unsur yakni baik, benar, dan indah. Sehingga seseorang yang ber-Idul Fitri dalam arti ‘kembali ke kesuciannya’ akan selalu berbuat baik, benar, dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwa itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif, ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah.

Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan, dan keburukan orang lain, kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut, dan kalaupun itu tak ditemukannya, ia akan memberi maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Maaf-Memaafkan

Setelah memaknai hakikat Idul Fitri akan ditemukan bahwa seorang Muslim yang bertakwa dituntut atau dianjurkan untuk saling maaf-memaafkan, sebagai bahagian dari ketakwaan kepada Allah swt.

Kemudian, berbicara mengenai maaf-memaafkan, kata maaf berasal dari bahasa Al-Qur’an yakni al-afwu yang berarti ‘menghapus’ karena yang memaafkan berarti menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, atau bila masih ada dendam yang membara.

Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf. Satu diantaranya, Allah berfirman: “..Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?..”. (QS An-Nur/24: 22)

Kesan yang ingin disampaikan dari potongan ayat di atas adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah swt. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk berkata, ‘tiada maaf bagimu’, karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah swt.

Dengan demikian, setiap yang ber-Idul Fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan, dan dari kesadarannya itu, ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf.

Jika kita menelaah potongan ayat yang dikutip di atas, akan ditemukan bahwa sebenarnya ada tingkatan yang lebih tinggi dari pada al-afwu, tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu ialah al-shafhu. Kata al-shafhu pada mulanya berarti ‘kelapangan’, darinya terbentuk kata shafhat yang berarti ‘lembaran’ atau ‘halaman’, serta mushafahat yang berarti ‘berjabat tangan’.

Nah, seseorang yang melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat di atas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Karenanya, semangat Idul Fitri diharapkan mampu membuka lembaran baru dan bersedia menutup lembaran lama, sebagai wujud sikap ihsan, karena itulah yang paling disukai oleh Allah swt. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Komentar