Reformasi dan #Menolak(sampai)Lupa

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Tahun 2018. (Foto: Ist.)

Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Tahun 2018. (Foto: Ist.)

Bulan Mei merupakan bulan yang penuh peristiwa dan perjuangan khususnya di kalangan mahasiswa dan buruh, mulai dari peringatan hari buruh, hari pendidikan nasional hingga peristiwa yang penuh tragedi yakni reformasi 1998 serta peristiwa-peristiwa lainnya. Sebuah bentuk perayaan untuk merefleksi beberapa polemik yang pernah hadir di tubuh negeri ini atau bahkan masih sedang berlangsung dewasa ini. Mayday (hari buruh) misalnya, yang setiap bulan Mei diperingati dengan cara melakukan aksi demonstrasi di berbagai wilayah dengan mengangkat permasalahan yang tengah dihadapi buruh hari ini sebagai tuntutan begitupula Hardiknas yang tentunya memiliki fokus tuntutan pada bidang pendidikan serta yang terakhir Reformasi 1998, menyimpan memori-memori peristiwa yang bahkan sampai hari ini tak terselesaikan, utamanya permasalahan Pra-Reformasi yang sekaligus menjadi alasan kuat terjadinya Reformasi. Di balik peristiwa ini terdapat banyak kisah kelam yang memakan korban jiwa, Tragedi Trisakti salah satunya dan penculikan beberapa mahasiswa dan aktivis saat sebelum pemilu Mei 1998 yang hingga hari ini belum ditemukan.

Selain itu, ada pula peristiwa yang terjadi di balik Reformasi 1998 yang mungkin saja hari ini luput dari memori kita kebanyakan, sebut saja kerusuhan Mei 1998 yang berbau rasial dan melanda beberapa wilayah yang ada di negeri ini kala itu. Harry B Kori’un, seorang penulis kelahiran Jawa Tengah, mencoba memberikan sedikit gambaran tentang kerusuhan yang berbau rasial pada Mei 1998 dalam sebuah novel yang ia tulis saat setelah menyaksikan kerusuhan itu secara langsung. Judul novelnya “Nyanyian Kemarau; Dan mereka menuduhku Komunis”, di dalam novelnya itu Harry mencoba mengungkap kisah nyata yang dialami etnis Tionghoa kala kerusuhan terjadi, ia menjelaskan begitu apik. “Aku berlari mencari perlindungan dari amukan sekelompok orang, aku ke pasar mereka meluluh-lantakkan pasar, aku berlindung di bawah rumah mereka membakar rumah, aku bersembunyi di masjid, gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya dan mereka tetap menemukanku hingga akhirnya aku berlari menuju kuburan, aku bersembunyi di sana dan mereka tidak menemukanku”, kira-kira seperti itulah salah satu kutipan dialog dalam novel itu yang menggambarkan kisah pelarian seorang keturunan Cina dari kerusuhan.

Reformasi 1998 telah terjadi dan meninggalkan banyak peristiwa serta tugas baru untuk generasi muda negeri ini namun bukan berarti berakhir pula polemik dan ketimpangan di negeri ini. Babak baru dimulai dan bukan berarti pula babak yang telah usai harus dilupakan  melainkan apa yang telah terjadi harus dijadikan sebagai bentuk medium merawat ingatan untuk tetap melangkah menuju perbaikan yang signifikan. Peringatan hari-hari bersejarah merupakan sebuah pola perenungan atas kemenangan yang diperoleh dari perjuangan. Mayday, Hardiknas dan hari-hari lainnya yang ditetapkan sebagai hari yang bersejarah adalah perayaan kemenangan, misalnya Mayday ditetapkan sebagai hari penting karena hari itu merupakan hari dimana para buruh berhasil merebut kesejahteraan ekonomi dan sosial. Hardiknas sebagai hari kelahiran seorang tokoh yang bernama Raden Mas Soewardi Suryaningrat atau kita kenal Ki Hajar Dewantara sekaligus dijuluki sebagai bapak pendidikan Indonesia berkat gagasan idealnya mengenai pendidikan sebagai usaha sadar memanusiakan manusia. Selanjutnya, Reformasi 1998 menjadi bentuk kemenangan rakyat Indonesia melengserkan penguasa yang dinilai otoriter dan tidak mengindahkan cita-cita awal dari lahirnya Indonesia.

Akrab di telinga kita semua dengan Tagline atau hastag #MenolakLupa yang selalu didendengkan kala perayaan hari-hari bersejarah oleh beberapa kalangan khususnya mahasiswa. #MenolakLupa merupakan sebuah simbol kekuatan untuk tetap menelaah kemenangan yang pernah diperoleh oleh generasi pendahulu untuk kemudian dikorelasikan dengan sikon hari ini sehingga dari proses penelaahan yang diinternalisasi dalam diri akan menghasilkan sebuah cara pandang, dan dari cara pandang itulah kemudian dihubungkan dengan realitas kehidupan sehingga lahirlah sebuah gagasan yang tentunya berisi akar masalah dan solusi atas masalah. #MenolakLupa adalah sebuah gagasan, gagasan untuk melakukan penolakan atas kondisi yang tidak sesuai dengan cita-cita dari peristiwa sejarah. Contohnya, kondisi dunia pendidikan hari ini jika dibenturkan dengan gagasan ideal Ki Hajar Dewantara maka bisa ditarik benang merahnya bahwa dunia pendidikan saat ini utamanya pendidikan tinggi sudah melenceng daripada konsep pendidikan sebagai usaha sadar memanusiakan manusia, sebagai bukti, akses pendidikan bukan lagi untuk semua kalangan namun lebih kepada kalangan ekonomi mumpuni. Biaya akses pendidikan yang selalu mengalami peningkatan memaksa kalangan ekonomi bawah untuk tidak melanjutkan pendidikan atau berhenti di tengah perjalanan maka pendidikan tidak lagi berisi konsep memanusiakan manusia melainkan pendidikan layaknya ruang yang tak berperikemanusiaan. Kembalikan tanggungjawab pemerintah pada bidang pendidikan dengan merujuk pada UUD 1945 (Pendidikan adalah hak kebutuhan mendasar manusia; Pendidikan untuk semua kalangan dan pemerintah wajib membiayainya) menjadi tuntutan yang dilayangkan kepada pemangku kebijakan serta masih banyak lagi polemik di tubuh pendidikan kita hari ini.

Sebuah bentuk penolakan harus memiliki dasar penolakan, analisa dan solusi atas sebuah perkara. Semua orang bisa melakukan penolakan tapi tidak semuanya mampu mempertanggungjawabkan penolakan tersebut dan perlu diketahui bahwa penolakan terhadap kebijakan adalah bukan bentuk kebencian untuk menghancurkan tatanan tapi penolakan adalah bentuk kecintaan dan nasionalisme untuk tetap merawat negeri ini dan melihatnya lebih baik. #MenolakLupa bukanlah ‘Lupa Menolak’ atau ‘Menolak sampai Lupa’ melainkan Hakikat dan Urgensi #MenolakLupa adalah ‘Teori + Realitas= Praksis’. Semoga Indonesia beserta isinya tetap di bawah lindungan-Nya!

Tinggalkan Komentar