Soal Rumah Makan Halal, Kadis Pariwisata Torut: Bukan Berarti Toraja Haram

Makassar, PANRITA.News – Kadis Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, Harli Patriatno mengaku, meskipun Kabupaten Toraja Utara mayoritas non muslim, namun dirinya menegaskan bahwa Toraja bukan berarti haram bagi warga muslim.

Harli menjelaskan, sejak tahun 2017 bersama MUI dan Kadin Torut, mendorong hadirnya sertifikasi halal. Ada 12 rumah makan yang menurut MUI Toraja Utara sudah sesuai ketentuan yang berlaku, namun memang masih butuh pengembangan berikutnya.

Melihat data destinasi wisata dan upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah selama ini, konsep wisata moslem friendly dinilainya punya potensi besar untuk dikembangkan.

Bagaimana sebagai tuan rumah, Torut dapat menyambut tamu wisatawan sesuai dengan kebutuhan fasilitas penunjang yang mereka butuhkan, dalam hal ini termasuk masalah makanan.

“Bukan berarti kami di Toraja haram, tetapi bagaimana kita mempersiapkan fasilitas bagi tamu kita yang kebetulan muslim. Paling tidak, kita mendorong ada rumah makan bersertifikat halal MUI. Kemudian kita mempersiapkan untuk mushollah. Pengertiannya itu bagaimana kita menyambut mereka nyaman dan enak selama berkunjung,” sebutnya, saat dihugungi melalui whatsappnya, Selasa (5/3/2019).

Selain itu, Pemda sudah menjalankan berapa tahun terakhir, tetapi mengusulkan agar penamaan yang lebih mudah diterima masyarakat serta pas dengan kearifan lokal. Moslem Fiendly lebih mudah disosialisasikan dan lebih mudah diterima masyarakat saat ini. Wagub pun menyerahkan sepenuhnya kepada Toraja selama itu baik untuk wisata di Toraja.

“Kami usul konsep moslem friendly tourism mungkin lebih pas digunakan Pak Wagub. Kami sudah jalan berapa tahun terakhir,” harapnya.

Kepada Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, Kadis Pariwisata dan rombongan pun menjelaskan apa yang telah dan sedang direncanakan di Toraja ini, tidak seperti apa yang beredar di medsos. Andi Sudirman pun merasa kaget, karena banyak statement beredar merupakan hoaks, bukan dari dirinya.

Wagub sendiri menyerahkan kepada Pemda Torut dan konsep moslem firendly diusulkan diterima dengan baik oleh Wagub.

Terpisah, Penggagas Forum Pemuda Peduli Toraja, Brikken Linde Bonting mengatakan, respon masyarakat Toraja beragam atas pernyataan dan rencana program Pemprov Sulsel terkait wisata halal. Menurutnya, hal itu menjadi persoalan karena yang disampaikan di media tidak runut dan lengkap.

“Masyarakat yang ada di perantauan maupun yang ada di Toraja, menjawab dengan pandangan-pandangan mereka,” ujarnya.

Untuk memastikan, mereka bertemu langsung Wagub agar informasi dan tujuan sebenarnya tidak bias. Brikken membeberkan pertemuan pun belangsung dengan sejuk dan tidak ada hal-hal yang tendensius. Walaupun awalnya dia juga gelisah dengan polemik yang berkembang. 

Pempov sendiri fokusnya pengembangan wisata Toraja. Adat dan budaya dan atraksi Toraja sebagai daya tarik sudah harga mati sebagai kearifan lokal tidak berubah. Yang digodok adalah ada petunjuk spot-spot kebutuhan khusus untuk fasilitas dan kuliner ramah pengunjung muslim.

“Tapi pemprov mendengar aspirasi untuk diputuskan oleh Toraja sendiri konsepnya,” lanjutnya.

Selain itu, Ketua PHRI Torut, Yohan Tangkesalu mengamini, penggunaan istilah di Toraja untuk wisata moslem friendly mungkin lebih tepat meskipun wisata halal lebih dikenal. Tujuan utamanya tidak berubah sama sekali, bahwa yang dipenetrasi adalah kuliner dan fasilitas pendukung pendatang muslim.

“Jadi, kuliner yang dipenetrasi adalah kuliner muslim, walaupun sebenarnya yang non sudah banyak juga terdaftar kuliner halal lewat MUI. Contohnya, adalah restoran besar muslim yang sudah ada itu disertifikasi, bahwa memang memenuhi syarat, seperti dari pemotongan,” paparnya.

Yohan mengungkapkan, banyak pengunjung hotel ke lokasi wisata misalnya, terus kembali ke hotel karena belum makan kemudian berangkat lagi ke lokasi. Ini yang dianggap kurang nyaman.

Terpisah, Kepala Seksi Daya Tarik Wisata Sulsel, Takdir H. Wata menjelaskan, beberapa kasus yang kurang berkenan bagi pengunjung dalam penelitiannya selama ini.

“Banyak pengunjung itu datang bingung makan dan salat, misalnya ke lokasi wisata masa harus balik ke penginapan dulu saat waktu makan dan salat. Harapan kita bagaimana restoran representaf nantinya bisa dipublikasikan secara online. Serta ada peta spot-spot fasilitas ibadah untuk kemudahan. Sehingga, yang ingin berkunjung ke Toraja, mengetahui tempat makan yang bisa menjadi pilihan mereka,” ujarnya.

Misalnya, pada saat ke Lolai atau yang dikenal Negeri di Atas Awan, pengunjung harus turun subuh gelap gulita ke bawah hanya untuk makan dan salat padahal mau menunggu awan pagi.

Sedangkan, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Provinsi Sulsel Djamila Hamid, menjelaskan bahwa konsep moslem friendly ini tidak akan mengubah kebiasaan dan budaya masyarakat setempat. 

“Mudah-mudahan masyarakat bisa menerima ini dan tidak ada lagi miss komunikasi,” harapnya.

Diketahui, beberapa negara yang pariwisatanya maju juga mengaplikasikan konsep moslem friendly destination ini seperti Thailand, Jepang dan Korea Selatan. 

Leave a Reply