Yakin Demokrasi Sampai

PANRITA.News – Beberapa saat lagi, kita akan meninggalkan tahun 2018. Tahun yang banyak didominasi dengan peristiwa-peristiwa besar di jagad politik kita. Sekalipun begitu, tahun 2018 bukanlah tahun yang buruk bagi kita semua. Kita percaya, proses berdemokrasi bukanlah hal yang mudah, ada ujian-ujian terjal yang mesti dilewati dengan perjuangan agar demokrasi tetap on the track, menuju tatanan demokrasi yang makin terkonsolidasi.

Perjuangan panjang untuk melewati tahun 2018 itu adalah perjuangan kita dalam melewati dua musim yang panjang dan melelahkan. Kita hidup di musim dingin tetapi secara bersamaan juga kita mengapung di atas bara sosial yang terus membara. Rumit dan pelik.

Diperhadapkan pada suasana semacam itu, akhirnya mengantarkan kita pada titik pemaknaan yang reflektif. Merangkum tahun 2018 sama saja dengan memaknai dan membicarakan segala kerumitan perpolitikan kita yang terjadi. Bagaimana perjuangan kita menjaga ruang demokrasi, bagaimana perjuangan kita untuk merawat terus nalar sehat publik, bagaimana upaya kita terus memberikan supply ide dan gagasan ketika doktrin-doktrin dan sentimen sedang melimpah ruah. Dalam segala pertanyaan-pertanyaan itu, kita menelusuri kembali jejak-jejak yang tegas bahwa kita tetap tegak, tidak meyerah apalagi pasrah.

Kita melawan tendesi politik ketakutan. Kita menghadang mobilisasi kebencian. Kita memprotes praktek politik standar ganda, karena elan juang kita berpijak pada keyakinan bahwa kehidupan kemajemukan dan moralitas kemanusiaan, tidak boleh ditukar, apalagi digagalkan oleh kepentingan-kepentingan pragmatisme sesaat. Albert Camus membuat pengandaian tentang itu, jika hidup adalah perjalanan maka kita ada untuk mengabdi pada kebenaran dan kemerdekaan.

Mengabdi pada kebenaran itu artinya dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, wujud manusia kita dimunculkan dengan tekad dan semangat untuk melawan godaan kebohongan.

Mengabdi pada kebenaran adalah sama artinya dengan menciptakan garis tegas permusuhan terhadap berita-berita palsu dan isu-isu yang menghasut perpecahan.

Mengabdi pada kebenaran sama artinya juga dengan menanggalkan segala keterbelakangan keadaban serta berupaya mendorong kita untuk bergerak maju ke masa depan yang lebih jernih, yang berpihak pada fakta.

Mengabdi pada kebenaran adalah sama dengan upaya serius dan sungguh-sungguh untuk menghadang gelombang deras arus kebohongan yang dihembuskan dan mengendap di alam sadar kita.

Tahun yang baru sebentar lagi datang. Kita membuat dan menyusun perjalanan hijrah ke musim berikutnya. Meninggalkan titik kepurbaan manusia kita di hari kemarin, memberikan jeda bagi pikiran bersih yang ingin tumbuh dan bermekaran. Pikiran bersih itu harus tumbuh dan mekar, tugas kita adalah menyuburkan tanah-tanah di dalam kehidupan demokrasi. Sembari menyusun sedikit demi sedikit teks perubahan di masa yang akan datang.

Barangkali di peralihan tahun ini, kita mesti selalu menyediakan ruang-ruang yang kosong untuk imajinasi tentang indonesia yang kuat, Indonesia yang tidak akan punah, Indonesia yang penuh optimisme, Indonesia yang selalu dibanggakan oleh rakyatnya.

Tapi imajinasi positif itu hanya mungkin tumbuh jika dan hanya jika, prasyarat pokoknya terpenuhi yaitu kita semua bersatu dan tidak terpecah belah, serta berhenti untuk saling menghujat dan membenci.

Di atas segalanya, perwujudan cita-cita itu bergantung pada kita semua. Betapapun sulit, tugas dan tanggung jawab kita di depan adalah bagaimana menjaga asa demokrasi kita agar selalu hidup. Kita ingin memastikan bahwa ketika kekuatan demokrasi berjalan dengan seksama, maka kekuatan itu tidak dapat dikalahkan oleh segerombolan amuk massa, tidak dapat dihentikan oleh kabar-kabar bohong, tidak mampu dirusaki dengan hujatan-hujatan sektarian.

Lewat tengah malam nanti, tahun berganti. Itu artinya, kita semua yang memegang teguh nilai-nilai demokrasi mesti bersiap-siap, seratus dua puluh hari terhitung besok adalah hari pertaruhan, dengan dua kemungkinan; 1) Memastikan demokrasi dan iklim kesetaraan tetap di koridor yang melaju ke depan, atau 2) Kita balik ke belakang dan memulainya lagi dari awal?

Di situ kewarasan demokrasi kita menemui ujiannya yang sebenarnya.

Yakin Demokrasi Sampai, Selamat Tahun baru 2019.

Leave a Reply