Korupsi Musuh Semua Bangsa

PANRITA.News – Dari dulu hingga sekarang, korupsi sudah ada. Korupsi di Indonesia seolah menjadi penyakit kronis yang merasuki seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Praktik-praktik korupsi mulai menampakkan diri pada masa pemerintahan Belanda yang saat itu mendirikan perserikatan dagang bernama VOC (Verenigde Oos indische Compagnie). Perserikatan dagang milik kerjaan Belanda ini menjajah perekonomian Nusantara pada tahun 1602, namun akhirnya bangkrut dan bubar pada tahun 1799. Hal itu dikarenakan maraknya praktik korupsi yang dilakukan oleh para pegawainya.

Begitupun di abad ke-19 atau tepatnya pada tahun 1998 tuntutan akan reformasi yang mengidealkan hilangnya praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) memaksa rezim orde baru untuk bubar dan runtuh.

Korupsi adalah penyakit berbahaya yang dapat mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kehancuran. Virus-virus penyakit inilah yang menciptakan kesenjangan sosial. Secara fundamental, korupsi sendiri adalah bentuk penyelewengan kekuasaan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak yang diberi amanat secara hukum dan merugikan bagi seluruh elemen masyarakat maupun dari segi kenegaraan dan kebangsaan.

Seperti halnya yang dikatakan tokoh revolusi di India, Mahatma Gandhi, kekayaan Bumi ini cukup untuk semua orang, namun tidak akan pernah cukup untuk keserakahan satu orang. Korupsi merupakan musuh terbesar semua bangsa di dunia.

Korupsi tidak hanya merampas hak rakyat, menghambat roda pembangunan, dan merusak rasa keadilan, melainkan juga menghancurkan masa depan, meluluh lantakkan integritas bangsa, dan memupus kepercayaan rakyat terhadap institusi negara.

Korupsi menjadi musuh semua bangsa sebab telah mempengaruhi pendidikan, kesehatan, keadilan, demokrasi, kemakmuran, serta pembangunan.

Korupsi adalah kejahatan luar biasa yang berdaya hancur sangat dahsyat. Negara dengan korupsi tinggi takkan bisa maju dan generasi mudanya akan merana. Karena itu, dengan cita-cita anak muda Indonesia untuk mewujudkan negara bebas korupsi membangkitkan kembali optimisme kita.

Selaras dengan pesan Pramoedya Ananta Toer, “selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa di lawan oleh manusia”.

Guna memeranginya, diperlukan kerja sama maupun partisipasi antara pemerintah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, media, dan warga seluruh dunia.

Refleksi Hari Anti Korupsi

Oleh karenanya, Hari Anti Korupsi 9 Desember adalah momentum untuk melakukan evaluasi bagi kita sebagai anak bangsa Indonesia bahwa negara kita masih terjerembab dilumpur korupsi. Penangkapan para koruptor dimana pelakunya adalah elit-elit bangsa ini sendiri dengan kasus-kasus korupsi yang berbeda.

Bahkan praktik korupsi terus bertambah dan semakin canggih hal itu kemudian menjadi referensi hari ini untuk mengambil kesimpulan kalau praktik korupsi tidak akan hilang dari negeri ini.

Praktik kejahatan itu justru semakin mengkhawatir karena persekongkolan mengeruk harta dan kekayaan negara semakin canggih pula. Sistem seolah terorganisir rapi oleh para pengampu kebijakan dan penengak keadilan.

Melihat keadaan ini, maka tidak ada jalan lain, kecuali pemuda dan semua elemen masyarakat harus tampil dan bekerjasama melawan korupsi.

Dengan pertimbangan itu, sebagai anak muda yang prihatin melihat kondisi bangsa ini, penulis yakin korupsi yang telah menyengsarakan banyak rakyat itu bisa diberantas.

Untuk mewujudkan tujuan itu, penulis menentukan pilihan bergabung di Partai Gerakan Indonensia Raya (Gerindra). Sebab, dari hasil siagnosa penulis atas penyakit korupsi itu, Partai Gerindra adalah salah satu partai modern yang tampil berbeda di Indonesia. Partai Gerindra adalah partai milik rakyat yang punya komitmen untuk membangun akuntabilitas, transparansi, dan keterbukaan informasi kepada publik, termasuk anggaran partai. Penulis optimis terhadap komitmen Partai Gerindra, bahwa Indonesia akan bebas korupsi.

*Penulis Adalah Anak Nelayan dari Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai.

Leave a Reply