Tokoh Masyarakat Tionghoa Sayangkan Pihak Kontra Reuni 212

Jakarta, PANRITA.News – Diberitakan sebelumnya, bahwa dalam waktu dekat, tepatnya 2 Desember 2018, Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) akan menggelar reuni akbar 212 di Monas, Jakarta.

Namun rencana itu bukan tanpa hambatan, beberapa pihak menganggap adanya upaya penggagalan acara Reuni Akbar alumni 212 pada beberapa hari belakangan ini oleh sekelompok orang. Diantaranya dengan pemasangan spanduk gelap tentang manfaat kegiatan tersebut dan penggiringan opini publik lewat media.

Upaya tersebut ditanghapi oleh salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa yang juga koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma. Menurutnya, tidak ada yang salah dari rencana aksi reuni akbar alumni 212 yang akan digelar di Monas Desember mendatang.

“Di alam demokrasi saat ini, tidak ada satu pihak pun yang berhak melarang kegiatan tersebut. Apalagi gubernur DKI sebagai pemegang otoritas wilayah, sudah memberi ijin,” katanya dikutip dari suaranasional, Minggu (25/11/2018).

Bagi Lieus, aksi 212 adalah catatan terbesar dalam sejarah aksi umat Islam Indonesia sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945.

“Catatan sejarah itu bahkan diakui oleh berbagai bangsa di dunia. Bayangkan, jutaan orang berkumpul di satu tempat namun tak ada satu rumput pun yang terinjak dan satu batang pohon pun yang patah,” tambahnya.

Selain tiu, Lieus mengakui, aksi tersebut dilatarbelakangi kemarahan umat atas penistaan agama oleh Ahok di DKI Jakarta lalu. Namun baginya, aksi itu berlangsung damai dan mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pemimpin dunia.

“Malahan saya yang non muslim bisa ikut aksi dan merasa nyaman di tengah-tengah jutaan umat Islam yang sedang melakukan aksi saat itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Lieus menyayangkan justru adanya orang yang tidak setuju bahkan ingin menggagalkan acara reuni akbar alumni 212 tersebut.

“Sejarah itu tak akan bisa dihapus bagaimanapun caranya. Karena itu, daripada menghabiskan energi untuk menolak kenyataan sejarah tersebut, lebih baik pemerintah membuka ruang pengakuan dan mendukung acara reuni akbar tersebut,” jelasnya.

Sebaliknya, tegas Lieus, jika upaya penggagalan acara reuni akbar 212 itu benar-benar dilakukan pemerintah, masyarakat dunia akan langsung menilai demokrasi memang benar-benar sudah mati di Indonesia. Maka, tegas Lieus, hentikanlah segala macam aksi provokasi yang berupaya menggagalkan acara reuni akbar 212 tersebut.

“Sebab saya yakin upaya penggalaman itu akan sia-sia dan buang-buang energi saja,” katanya.

Sebelumnya, Ketum GNPF-Ulama Yusuf Muhammad Martak juga tegas mengatakan reuni 212 jalan terus.

“Ini kan reuni, reuni 212. Itu reuni atas aksi yang pernah dilakukan di 212 yang kebetulan dihadiri oleh beberapa umat Islam dan simpatisan dari semua di Jabodatabek dari beberapa daerah. Karena acara itu berjalan sukses, hikmat, baik, tentram, aman, dan damai, maka tak ada salahnya diadakan reuni,” katanya, Minggu (25/11/2018).

Tinggalkan Komentar