Kohati Tarbiyah Hadirkan 3 Perempuan Bahas Budaya Patriarki

Gowa, PANRITA.News – Korps-HMI-Wati (KOHATI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar Cabang Gowa Raya menggelar dialog dan bazar di Warkop Tetta, Gowa, Sabtu (10/11/2018).

Kegiatan yang bertema “Rekontruksi Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki” ini menghadirkan 3 Narasumber dari kalangan perempuan. Mereka masing – masing adalah Ketua FORHATI KAHMI Kabupaten Gowa, Murniati, S.Ag, Ketua Umum KOHATI Badko HMI Sulselbar, Nurfadillah, Mantan Ketua kohati Komisariat Tarbiyah dan Keguruan UNAIM, Rozan AlBaeduri, dan dipandu langsung moderator, Andi Tenri Rannu.

Salah satu narasumber, Murniati yang juga Caleg DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Dapil V (Bulukumba-Sinjai) dari Partai PBB Nomor Urut 1 ini dalam  mengatakan sebelum kemerdekaan, secara regulasi kontruksi sosial mengedepankan patriarki dimana kekuatan laki-laki di atas segala-galanya, tetapi setelah merdeka hak untuk meraih kemerdekaan berbangsa tak ada klasisifikasi antara laki laki dan perempuan.

“Banyak yang mau direkonstruksi oleh generasi masa kini, karena sesungguhnya dalam konteks agama dan budaya tidak ada lagi masa seperti RA Kartini yang merasa terkungkung oleh budaya patriarki,” tegasnya.

Lanjut Ketua Muslimat Bulan Bintang Sulsel ini mengatakan dukungan regulasi bangsa maupun secara theologis memberi ruang yang sama, jadi soal pada perempuannya sendiri maukah atau tidak mengisi dan ikut bersaing pada persaingan kontestasi ruang-ruang sosial yang ada?.

“Mari kita sama-sama berproses dan biarlah seleksi alam yang bicara,” Ucapnya.

Senada dengan itu,  narasumber lain, Ketua Umum KOHATI Badko HMI Sulselbar, Nurfadillah mengatakan peran dan hak perempuan pada tataran relitas masih belum terpenuhi secara maksimal. Karena itu, diperlukan upaya untuk memperbaiki kondisi secara kualitas maupun kemampuan perkelompok yang tertinggal.

Sementara Rozan Albaeduri, narasumber terkahir mengatakan bahwa kesetaraan gender sangat penting karena dapat membuat dunia jauh lebih baik. Karena separuh potensi dunia ada pada pperempuan.

Tinggalkan Komentar