Politik Genderuwo dalam Kaca Mata Pengamat

Jakarta, PANRITA.News – Istilah Politik Genderuwo menjadi istilah baru yang beberapa hari terakhir sempat menghangatkan kondisi perpolitikan Indonesia. Ragam komentar dan saling berbalas sindiran muncul dari kedua kubu Calon Presiden yang akan bertarung di 2019 mendatang.

Istilah tersebut bermula dari sebuah acara di Tegal, Jawa Tengah. Adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara soal politik yang menakut-nakuti rakyat yang disebutnya politik genderuwo. Lalu, mengapa Jokowi menciptakan istilah tersebut?

Bagi pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, pernyataan Jokowi jika ditilik dari segi komunikasi politik sangat tidak biasa. Dia mencoba menilik alasan Jokowi berbicara politik genderuwo.

“Memang sebagai petahana komunikasi politik yang dilakukan Jokowi tidak lazim ya. Bila mengacu pada teori fungsi kampanye, seharusnya Jokowi acclaim, mempromosikan diri atau minimal defense, bertahan bukan ikut attack atau menyerang,” katanya.

Ada 3 faktor yang menurut Hendri menjadi alasan Jokowi kerap menyerang. Dia berbicara soal buzzer hingga soal kepanikan.

“Kondisi ini menurut mendapat saya mungkin terjadi karena 3 hal. Satu, Jokowi terpengaruh buzzer, pembisiknya sehingga terpancing keluar. Dua, kubu Jokowi panik sehingga memaksakan diri keluar karena percaya bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang,” ulas Hendri.

“Memang aslinya gaya komunikasi politik Jokowi yang agresif sehingga memang inginnya muncul di permukaan,” imbuh dia.

Ungkapan politik genderuwo disampaikan Presiden Jokowi saat pidato pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah hari ini. Dalam kesempatan itu, dia menyebut saat ini banyak politikus yang pandai memengaruhi. Banyak yang tidak menggunakan etika dan sopan santun politik yang baik.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat menjadi, memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi ragu-ragu masyarakat, benar nggak ya, benar enggak ya?” katanya.

Politikus yang menakut-nakuti itulah yang dia sebut sebagai politikus ‘genderuwo’.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” tegasnya.

Tinggalkan Komentar