Kaum Intelektual dan Kebangkitan Bangsa

Ariadi R/Don (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Ariadi R/Don (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Negeri ini memang tidak buyar. Tetapi sekian banyak orang mati, lapar, terbuang sebagai pengunsi. Dulu memang negeri ini diperjuangkan oleh segelintir intelektual yang berada bersama-sama rakyat dan merasakan langsung derita yang dialami. Mereka seperti kekuatan nurani rakyat yang memiliki pendidikan dan kedudukan sosial yang lebih baik. Kaum intelektual ini tidak buta terhadap kenyataan sosial yang timpang dan tanpa ragu turung lapangan memimpin langsung perjuangan. (Dr. Mansour Fakih)

Ketika mengurai benang sejarah indonesia dari lipatan-lipatan manuskrip serta artefak yang ada sebagai bahan baku pengkajian untuk menemukan totalitas peristiwa yang bebar-benar otentik dan objektif. Maka kita akan menemukan perjuangan kaum intelektual masa-masa kolonial adalah oase merebut kemerdekaan kemudian membawanya kepangkuan rakyat pada tahun 1945 adalah sejarah mahapenting bagi indonesia suatu entitas kesatuan yang merdeka.

Menilik zaman mereka penuh dengan harapan dan mimpi yang indah untuk membawa bangsanya keluar dari cenkraman kolonialisasi menghantarkan segenap rakyat menuju pintu kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Bung karno, Bung hatta, syahrir, tan malaka serta kaum intelektual yang lain basis terkuatnya adalah pendereritaan rakyat.

Sebagaimana dikatakan bung karno bahwa ketika kita menemukan diri tengah putus asa, patah semangat maka kembalilah pada penderitaan rakyat maka disana kita akan menemukan sejatinya perjuangan.

Kita ketahui bersama pada dasarnya kekuatan pemuda pada saat itu adalah rakyat sehinggah mereka punya kekuatan besar untuk merobohkan benteng kolinialisme yaitu penobatan diri dalam satu kesatuan tekad untuk melepaskan diri dari kolonialisme. Tak kita temukan di selipkan kepentingan pribadi mereka semua dilakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat.

Sejarah telah mencatat pengorbanan para kaum intelektual bangsa kita sebagai inspirasi pemuda

Kata intelektual berasal dari bahsa inggris intelect yang maknanya adalah akal dan fikiran. Intelektual adalah kaum yang mendapat didikan dan pengajaran secara ketat, senatiasa mencari kebenaran dan membelanya mati-matian.

Itulah hakikatnya intelektual, diharapkan selalu kehadirannya untuk menjadi pundak dan ujung tombak orang-orang terhisap dan tertodangng oleh pengetahuan yang menguasai dan mematikan nalar manusia. Menyudutkan mereka pada penderitaan yang panjang seakan samr-samar tampak dan tak ada pangkal ujungnya.

Masyarakat yang terkungkung oleh kekuasaan, terhimpit persoalan ekonomi dan menjadi manusia-manusia terasing di jalanan, disergap penyakit yang tak berkesudahaan tanpa mendapat pengayoman dan pelayanan kesehatan dengan baik oleh mereka yang mengatas namakan dirinya wakil rakyat di singgasananya yang berhiaskan emas yang ditempa dari keringat para petani, nelayang, dan buruh serta orang-orang miskin kota.

Kemanusiaan selalu menjadi pertanyaan yang meronrong diri manusia sendiri mengejarnya bagai bayangan dan diakhir periode menjadi saksi atas tingkah dan lakunya seorang manusia yang entah menjadi budak atau manusia merdeka sepenuhnya.

Lalu kemudian pertanyaan kenapa dengan pemuda kita menaruh harapan?

Di dalam seorang diri kaum intelektual ada kemerdekaan yang konkrit, memahami konstalasi dan aspek sosial yang ada beserta ketimpangannya. Gagasan dan ide adalah keselarasan dari kebebasan berpikir dan mereduksinya menjadi tindakan perubahan mecoba menarik kehidupan bangsa ke rel-rel kebenaran.

Bercakap mengenai kaum intelektual saya akan perhadapkan dengan dunia kemahasiswaan dimana disana mereka dibina dan digembleng menjadi sosok intelektual kesatria bangsa. Mahasiswa merupakan tolak ukur dari intelektual yang intim dikehidupan bermasyarakat sebab jauh hari dipersiapkan mengenal dan menghayati setiap aspek lingkungannya.

Kampus sebagai wadah pendidikan dan pembinaan dengan tridharma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian dan pengabdian sanggup mengintegrasikan perannya dalam sendi-sendi kemasyarakatan. Mahasiswa mesti turun gelanggan mencari dan menggali masalah kemudian memberikan tindakan nyata seperti keterlibatan langsung membangun, mengawas dan menginisiasi revolusi-revolusi penyadaran kepada rakyat dan penguasa yang keblinger jiwanya menyuluh penyakit sosial kemiskinan karena uang rakyat dikorupsi dan sumber daya alam yang diprivatisasi, masalah ekonomi dan politik yang belum kunjung menemui titik terangnya. Indonesia di tengah gelombang masalah mahasiswa diharapkan mampu menjaga akal sehatnya agar tak terbawa arus penindasan dan kebodohan.

Oleh: Ariadi R/Don (Penulis adalah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar / Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam)

Tinggalkan Komentar