“Bencana alam akibat ulah tangan manusia. Jangan memfitnah Tuhan!”
Bahwa fenomena/bencana alam (Gempa Bumi, Tsunami, Kebakaran Hutan dan lain-lain) yang berdampak pada kerusakan alam dan merupakan rekayasa manusia (Pemerintah) sendiri yang direncanakan secara sistematis.
Kemaksiatan dalam sebuah wilayah hingga berakhir pada anggapan bahwa bencana adalah kutukan Tuhan itu mesti diluruskan. Benacana alam yang terjadi dibeberapa wilayah (Aceh, Lombok, Palu) adalah keterbatasan pemerintah dalam mengkaji fenomena tersebut.
Jika benar ini adalah kutukan Tuhan, kenapa harus Palu, Lombok, Aceh? Kenapa bukan Manado, Bali, Batam? Atau apakah ini karena kulit mereka yang berwarna kuning dan bermata sipit yang menjadi alasan hingga bencana tidak menimpa wilayah tersebut, sehingga disana bencana merasa malu untuk bertandang/bertamu ? Sementara, semua kita tahu disana tradisi saling meraba, transaksi kenikmatan terpelihara dan melampaui batas-batas kewajaran alam semesta.
Benarkah ini bencana alam murni?
Salahkah jika kita beralasan bahwa ini adalah uji coba Nuklir? Seperti pernyataan sebuah teks (Hasil Penelitian) mengenai fenomena Tsunami Aceh. Sepatutnya kita mencurigai dan menyimpulkan bahwa bencana terakhir yang menimpa Donggala Palu adalah rangkaian uji coba Nuklir sebagai alat perang.
Tidakkah Tuhan buta, Tidakkah Tuhan semena mena (tidak adil) jika maksiat adalah satu satunya yang menjadi alasan bencana alam. Bukankah bencana alam (Lombok) yang dikenal sebagai negeri seribu kubah yang bertetangga dengan Bali tapi kemaksiatan di Bali baik baik saja? Begitupun dengan Palu yang bertetangga dengan Manado, pun kemaksiatan di sana tetap baik baik juga? Dan juga Aceh sebagai negeri Serambi Makkah yang bertetanggaan dengan Batam tapi kemaksiatan juga tetap baik-bak saja.
Apakah Tuhan sedang “bercanda” dan mulai bersekutu dengan “iblis”? ataukah Pemerintah yang sedang ingin berperan sebagai Sang Maha Kuasa dan bersekutu dengan iblis bermata sipit?
Penulis: M & A (Akar Institute)

Comment