Tenggelam di Atas Bukit

Tenggelam di Atas Bukit

Judulnya sangat tidak menarik, namun sangat perlu ditarik sebagai bahan perhatian, sedikit melirik apa yang tenggelam, dan dimana ia tenggelam.

Desa Manyampa adalah sebuah desa yang terletak di bagian timur wilayah kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di mana terdapat 4 (empat) dusun yakni Dusun Tanah Eja, Dusun Dongi, Dusun Mampua, dan Dusun Luppung.

Desa manyampa sebuah desa yang terbilang strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi karena wilayahnya sangat beragam, ada yang berupa dataran tinggi, dimana petani menanam jagung, kelapa dan jenis tanaman lain, dataran rendah yang dimanfaatkan sebagaiĀ  lahan persawahan yang didukung oleh sumber air yang memadai, adapula pinggir pantai tepatnya pada dusun luppung yang juga terdapat banyak empang sebagai tempat tambak ikan, udang dan lain-lain.

DidukungĀ  dengan pembangunan infrastruktur yang mendukung seperti akses jalan yang sudah sangat bagus dan telah banyak pula jalan tani yang telah di cor beton meskipun masih ada beberapa yang belum namun sementara dalam proses tahap pembangunan. Selain jalan yang telah bagus disepanjang itu telah dibuat drainase. Sampai saat ini desa Manyampa layak diacungi jempol atas perubahan dari tahun ke tahun.

Selanjutnya yang ditarik sebagai bahan perhatian adalah sebuah pasar yang terletak di Dusun Dongi Desa Manyampa, merupakan pasar yang sudah sangat lama berdiri yang dulunya sangat ramai oleh pedagang dan konsemen. Di mana masyarakat setiap hari selasa dan sabtu melakukan transaksi ditempat tersebut baik masyarakat lokal desa manyampa maupun masyarakat dari tetangga desa yang datang untuk berbelanja.

Namun sangat disayangkan beberapa tahun terakhir ini sudah sangat sunyi dengan pengunjung, telah luput dari perhatian, melihat kondisinya yang telah usang ditelan oleh usia namun belum juga tampak sentuhan penyegaran untuk memanjakan ruang dan beberapa sisi di Pasar Dongi, saat berkunjung pada waktu pasar yang jadwalnya setiap hari selasa dan sabtu, Pembeli dan pedagang sudah dapat dihitung meskipun nilai matematika saya anjlok, lain halnya dengan pasar pasar lain yang berada tak sangat jauh dari Desa Manyampa, dimana Pedagang berlomba membawa barang dagangan yang tentunya diikuti konsumen yang berdesakan untuk berbelanja.

Inilah yang saya katakan tenggelam di atas bukit. Sebuah pasar di tengah penduduk ramai namun ada apa sehingga masyarakat lebih hafal jalan menuju pasar yang ada di luar desa manyampa. Apakah karena tampaknya yang telah usang? Apakah karena tak ada lagi yang menarik untuk kita berkunjung? atau mungkin ada pertanyaan lain yang menjadi alasan sehingga pasar Dongi sebagai pasar tradisional ini bisa dikatakan tak lebih ramai daripada pedagang yang berjejer dipinggiran jalan.

Leave a Reply