Mahasiswa: Teriak Hidup Rakyat, untuk Apa?

Muhammad Akbar

Oleh: Muhammad Akbar
PAO Badko HMI Sulselbar

Jika engkau manusia maka aku boleh bertanya; Bukankah manusia terdiri dari empat elemen dalam diri yaitu api, air, udara dan tanah? jika benar aku ingin melihat ke-empat elemen itu secara kasat mata untuk menguji kebenarannya. Aku ingin melihat bagaiman pribadi mahasiswa menjadi kerasukan sebagai akibat dari pemberontakan potensi-potensi itu.

Api sifatnya panas dan membakar, kenapa sedikitpun aku tidak melihat percikan-nya keluar dari dalam diri manusia (mahasiswa), apakah dibutuhkan pemantik yang akan memancing apinya hingga menyumbat keluar dan membakar seluruh gedung-gedung kampus, sekolah, pemerintahan, politisi, partai politik, pasar, masjid, pura, gereja yang tidak memiliki nyawa merubah dan memperbaiki kehidupan manusia.

Air sebagai sumbu penghidupan bagi mahluk hidup, kenapa justru aku tidak temukan mengalir keluar memberikan energi penghidupan bahkan aku igninkan lebih, yakni keluar seperti mata air secara perlahan dan mendidih seperti air yang di masak.

Jangan kira air mendidih itu setelah ada gelembungnya keluar. ada tahapan yang perlu dilewati hingga menemukan kualitas air mendidih yang sebenarnya yakni pertama mendidh seperti mata udang, kemudian mata kepiting, mata ikan, ciprakan kaki kuda, kemudian datang seperti gempa bumi yang mengguncang semesta dan tsunami air bah yang menyerap dan membersihkan seluruh kemunafikan manusia “banci” di semesta ini kemudian angin sepoi yang mebawa kesejukan hingga berakhir dengan ketenangan dan keheningan, saat itulah air sesungguhnya mendidih.

Udara yang bersifat tenang tanpa mengganggu sesama tetapi aku ingin melihat lebih bagaimana angin itu menjadi topan, puting beliung, untuk mengipas dan menghapus hama kemanusiaan dan kembali menjadi angin yang menyuburkan benih-benih kehidupan yang tertanam untuk masa depan perjalanan manusia dan kemanusiaan.

Tanah sebagai akar permulaan dari manusia yang menjadikan manusia beranak-pinak, suku, bangsa dan menjadi penguasa semesta alam dibawah kendali manusia atas mandatisir Tuhan Yang Maha Esa untguk mengatur keseimbangan hidup tanpa melupakan kedirian yang akan selalu tersungkur dan bersujud diatas sajadah semesta kepada pemilik tunggal seluruh ciptaan.

Lantas apa masalah yang menghalangi teraktualnya elemen diri manusia (mahasiswa) untuk disaksikan sebagai tanggung jawab terpelajar, sebagai basis pergerakan (movement student) yang memberikan ruh kehidupan dan perubahan bagi kemanusiaan. Bukankah tugas terpelajar mendidik diri, kemudian memahami segala situasi semesta kemanusiaan serta mewakafkan diri dan jiwa raganya untuk menjadi “abdi rakyat” sekaligus pembimbing lidah-lidah rakyat yang tidak sempat berucap untuk mau merasakan kehidupan yang adil dan beradab.

Apakah manusia (mahasiswa) masa kini sedang penyakitan?

Jika benar penyakitan, mungkin membutuhkan obat;

“Obat terbaik untuk penyakit mahasiswa ada pada dirinya, mengendalikan diri dan mengenal potensi diri untuk di aktualkan tanpa ada gangguan personal untuk mewujudkan kepentingan kemanusian universal”. obat ini akan menyembuhkan penyakit yang diderita mahasiswa yang telah menjadikan lemah system imunnya sehingga memberi peluang penyakit masuk bahkan kuman-kuman kecil menjadi penyakit besar dan bertambah besar tanpa terkendali lagi.

Perubahan tidak akan mungkin tercipta serta visi tidak akan berakhir tuntas jika perasaan pribadi masih menyelimuti pribadi mahasiswa ; keserakahan, kehormatan, ketokohan, romantika personal, dendam personal, amarah personal, bahkan seperti fun,food, fashion sebagai akibat dari dokrtin kapitalisme untuk modernisme kehidupan sepatututnya dipinggirkan untuk dikendalikan diatas visi besar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Manarik sebuah doktrin penempa pedang “pung chun” goryeo ; “hilangkan perasaan pribadi sebab itu akan melemahahkanmu, sebaliknya tumpukkan segala amarah, kebencian dan dendammu hingga menjadikan pedang seperti dirimu dan menjadi lebih kuat untuk mencapai tujuan”. Sekali pedang dihunus jangan pernah disarungkan sebelum menumpahkan darah.

Sebuah teriakan manusia(mahasiswa) tidak akan berarti apa-apa apabila dilakukan setengah hati, maksud setengah hati adalah menjebak diri sendiri ditengah kerumunan massa kemudian berdiri diatas trotoar hingga diatas mobil untuk dijadikan mimbar orasi tetapi disela-sela waktu yang lain semua berakhir di warung kopi (1 gelas kopi + rokok 1 bungkus). Diwaktu yang lain justru ditemukan berakhir dengan “nasi kotak” maka saat itulah tenggorokan itu berhenti teriak. 

Maksud saya, jika engkau ingin aumanmu mengalahkan auman harimau, macan, serigala, maka pilihlah medan yang benar-benar engkau kuasai, medan yang tidak memberikan ruang kompromi sedikitpun, medan yang menutup akses bagi “segelas kopi dan sebungkus rokok serta sekotak nasi”. 

Engkau manusia (mahasiswa) sangat akrab dengan sebutan idealisme, tetapi juga engkau ketahui idealisme menjadi lemah ketika dihadapkan pada soal-soal peribadi mahasiswa. Janganlah menjadi lemah dihadapan dirimu sendiri apalagi dihadapan rakyat yang engkau sendiri ikrarkan untuk membela dan membawa mereka pada cita-cita perubahan. Berhentilah larut diatas perasaan pribadi, kumpulkan semua kekuatan dalam dirimu kemudian fokuskan pada hal yang lebih besar.

Selain itu, idealisme akan tetap berdiri kokoh diatas kepribadian yang mengenal diri dan potensinya, justru sebaliknya kematian idealisme ketika pribadi telah lupa diri. Maka kenali diri dan potensi serta aktualkan potensi itu, merawat idealisme adalah dengan tetap mengendalikan diri, menahan diri, semua itu membutuhkan latihan keras. berlatihlah !

Untuk yang telah lewat sebagai bahan pembelajaran, maka hari ini aku sangat menginginkan serta menyaksikan kebencian, kemarahan, dendam memercik dari dalam diri manusia (mahasiswa) seperti api, udara, air dan tanah kemudian menjadi satu sebagai kekuatan perlawanan untuk memerangi ketidak-adilan, penindasan, eksploitasi, kezoliman, kebusukan, kepalsuan yang telah menjadi penyakit bagi rakyat Indonesia untuk sebuah visi besar yaitu kehidupan rakyat Indonesia yang adil dan beradab.

Hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik.

Tinggalkan Komentar