Jusuf Kalla Jagokan Satu dari Empat Bakal Cawapres Jokowi

Wakil Presiden Jusuf Kalla (Kiri) bersama Presiden Joko Widodo (Kanan)

Wakil Presiden Jusuf Kalla (Kiri) bersama Presiden Joko Widodo (Kanan)

Jakarta, PANRITA.News – Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menjagokan salah satu dari empat bakal Cawapres Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

Namun, JK masih merahasiakan sosok dari Bakal Cawapres Jokowi yang dijagokannya. Menurutnya, keempat nama bakal Cawapres Jokowi juga dekat dengan Jokowi dan layak diunggulkan.

Mereka yakni anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD, Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

“Namanya pemilu itu bebas dan rahasia. Pokoknya semua dekat,” kata JK.

Menurutnya pemilihan calon pendamping harus memerhatikan elektabilitas atau tingkat popularitas di masyarakat. Jokowi harus memilih cawapres yang mampu mendongkrak minimal 15% suara.

“Siapa yang bisa menambah suara pasangan itu. Pokoknya harus menambah suara minimal 15%,” ungkapnya.

JK menilai capres dan cawapres harus mampu mengumpulkan suara seba-nyak-banyaknya di Pulau Jawa. Sebab, elektabilitas pasangan yang menang di Pulau Jawa telah merepresentasikan hampir seluruh suara pemilih. Hal itu disebabkan jumlah penduduk Jawa mencapai 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

JK juga membantah kabar minimnya dukungan pemilih muslim terhadap Jokowi di Pilpres 2019.

Dukungan terhadap Jokowi dipercaya masih mengalir dari berbagai kalangan. “Karena penduduk makin banyak, tidak bisa dikatakan juga muslim tidak mendukung.”

Menurut JK pada Pilpres 2014 Jokowi-JK berhasil me-raup sedikitnya 70 juta suara pemilih yang mayoritas beragama Islam. Karena itu, pemilihan pasangan capres dan cawapres tak melulu berdasarkan suku, agama, dan ras.

JK juga menyoroti menteri yang bakal mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Menteri yang maju jadi caleg akan mengganggu kabinet. Sebab, menteri membutuhkan waktu. Setidaknya selama delapan bulan pada 23 September-13April 2018 untuk melakukan kampanye.

“Ya tentu waktunya ya, karena waktunya masa kampanye, pasti mengganggu waktu bekerja, pasti,” ungkap JK.

Comment