Memahami yang ‘Politis’ dan yang ‘Estetis’

Perspektif Partisi(SAPI)
Oleh: Syamsul Bahri Majjaga

Manusia dan Binatang (Baca: Sapi) adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Adalah Plato dalam bukunya republica, menempatkan manusia dalam terjemahan sebagai binatang. Hal apa yang membuatku tiba -tiba mengingat Plato? Memang, hari ini saya banyak memikirkan hal – hal manusiawi yang terdapat dalam struktur tata acara bermasyarakat kita. Sebenarnya oleh saya, hal ini sejatinya menjadi petunjuk untuk sedikit bisa lebih produktif di dalam kehidupan dialektika sosial yang beragam. Tentu saat ini saya tidak akan mengejar Plato, ataupun berdasar simpulan padanya. Tapi, setidaknya gagasan Plato menjadi pemantik awal tersematnya identitas bersikapku yang mendasarkan kualifikasi material yang hirarkis dalam metafora logam.

Akhirnya perjalanan mencari dan menemukan sebab tiba – tibaku yang mengingat Plato, kudapatkan se ekor Sapi (Baca: Binatang) sebagai penyebab utama dari segala yang tiba – tiba ini. Sapi dan kesimpulan, akhirnya menggiringku memahami makna politik dalam praktik nilai luhur.

Pada dasarnya semua orang memiliki pikiran dan tingkat kecerdasaan yang setara, filsafat Plato ini tampaknya tidak ingin membangun jurang yang memisahkan manusia sebagai Binatang! inilah asumsi antropologis yang lantas digunakan oleh Ranciere sebagai dasar mengukuhkan kemampuan menggeser partisi yang dibangun plato dengan sungguh sangat sederhana, menurutnya setiap orang mampu berpikir dan berbahasa, pikirannya mampu melelehkan segala regulasi dan menantang segala bentuk klasifikasi sosial. Berpikir, Lanjut beliau berarti mensubversi kakunya setiap modus distribusi kelas, tempat, dan norma-norma. Pertanyaanya, Siapa rancire?. Ilmuan yang muncul setelah generasi Lyotard, Foucault, Derrida dan Bourdieu, Perancis melahirkan sebuah generasi intelektual yang berhasil menegakkan pendekatan dan pandangan baru mengenai Filsafat, Ilmu pengetahuan, Politik, dan Estetika. Karyanyalah, tindakan manusia dan binatang menemukan kerangka pembeda. Kerangka tindakan yang dimaksud Rancierre adalah cara untuk membangun sistem di antara beragam data- data sensoris dan ruang pengalaman yang spesifik, ruang bicara, mendengar dan melihat (atau menutupi) beragam data dan cara kehidupan hingga menghasilkan hirarki dan kategori sosial. Dan Rainnciere menyebut ini sebagai partisi ideal.

Kembali soal sapi yang mencipta par tisi dari berbagai persepsi dan praktik yang akhirnya membentuk ruang bersama. Ruang dimana warga net Bulukumba menghakimkan sapi untuk menghukum Pol PP dalam dakwaan “ Kemanusiaan “. Sampai disini, sayapun tertaril untuk memeriksa lebih dalam dalil dakwaan warga net. Dapat disimpulka bahwa reaksi subjektivitas mereka yang membentuk tindakan sebagai upaya mengubah koordinat partisi. Artinya saat ini warga net Bulukumba sedang mendeklarasikan aksioma bahwa: Kita semua Setara!

Manusia adalah Binatang, kata Plato. Kita semua Setara, sebuah pledoi kemanusiaan atas nama Sapi! Manusia adalah sapi – Sapi adalah Manusia. Manusia dan Sapi adalah setara. Menurutku disini letak bagian paling unik dan krusialnya, setidaknya dalam pemikiran kita saat ini, sebuah polemik mendiskusikan praduganya, bagaimana mengurai yang-politis sekaligus membedakan atau membangun kesatuan dengan yang – estetis pada premis diatas. Memahami kata yang mengantar kata, adalah setara! (Sapi dan Manusia).

Sebagai pengantar untuk memahami kesatuan yang jelas mengenai yang estetika dan yang politis, saya ingin menuliskan sebuah kalimat naratif dalam selebrasi begini: Di Kampung saya, Desa Batang, Kecamatan Bontotiro. Seorang petani yang belajar bagaimana menulis dan menyusun sebuah syair yang cocok untuk zamannya barangkali jauh lebih mengancam keutuhan tatanan ideologis ketimbang mereka yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia Raya sebagai bentuk keberpihakan idiologisnya pada pemerintah! Seperti apa maksudnya? untuk memahami ini, kita kembali mesti memahami makna yang-politis dan migrasi dalam Partisi ( SAPI).
Apabila yang politis dimaknai sebagai bentuk interupsi kepada partisi dan distribusi sensibilitas Maka, jelas tujuan dari yang politis, pertama – tama adalah perubahan pada koordinat hirarki suatu tatanan. Dengan demikian, artinya di sini yang dipentingkan adalah sebuah gerak atau migrasi dari noktah sosial (Petani atau Inteletual Net misalnya) ke noktah sosial lainnya, sambil menghancurkan partisi dan hirarki sosial dalam rezim sensibilitas itu.

Petani di desa Batang yang membaca dan menyusun sebuah syair, barangkali bukanlah kritikus dengan obsesi metafisik mengenai pembalikan struktur produksi ketimpangan kebijakan, tetapi justru melalui kegiatan itu ia sebenarnya telah bergerak melintasi struktur dan ketetapan yang semula digariskan oleh standar ideologi kebijakan. Dengan demikian, dalam proses kegiatan estetik itu Petani menerobos yang disebut dengan tatanan higienis yang diciptakan oleh sistem untuk menempatkan dia dalam posisinya. Dengan ini ia menghapuskan kutukan platonis awal bahwa ‘kelas petani’ hanya patut bekerja pada tempatnya, sementara urusan estetika dikerjakan oleh para bijak di singgasananya. Semoga di titik ini selebrasi diatas bisa mengantarkan kita untuk tampil bijak, paling tidak menempatkan pandangan representasi- sebagai metode penempatan logika representasif dalam kesamaan dan kesadaran simetris dengan tujuan yang politis. Yaitu kesetaraan.

Marilah kita menempatkan argumentasi kesetaraan kita yang -estetis sekaligus yang – politis dalam posisi yang satu dan menyatu. Patisisapi (Baca: Partisipasi kita) dalam pandangan akhir, pada tutuntutanya tetap merekomendasikan kita sebagai mahluk yang belum lengkap kemanusiaanya, sebab masih mengandalkan organ sensibilitas (estetis) ketimbang rasionalitas dalam ruang yang setara dalam menjalani aktivitas kehidupan dalam beragam dialegtika sosialnya.

Tinggalkan Komentar